Senin, 18 Agustus 2025

Simon dari Kirene, Veronika dan Yesus Jatuh untuk Ketiga Kalinya (Kronologi 11)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Bersama Simon dari Kirene, Veronika dan Jatuh pada jalan salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXXIII & XXXIV“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Simon dari Kirene dan Yesus Jatuh Ketiga Kalinya

Ketika arak-arakan tiba di sebuah bangunan melengkung yang berhadapan dengan alun-alun di mana tiga jalan berakhir, Yesus tersandung sebuah batu besar yang ada di tengah jalan. Salib tergelincir dari pundakNya sehingga Dia jatuh terkapar di atas batu. Jatuh itu membuat Yesus sama sekali tak berdaya untuk bangkit berdiri.  Melihat kondisi itu, kaum Farisi berteriak kepada para prajurit, “Kita tak akan dapat membawaNya ke tempat eksekusi dalam keadaan hidup, jika kalian tidak mendapatkan seseorang untuk memanggul salib-Nya.” Saat itulah Simon dari Kirene, sedang berjalan lewat, bersama ketiga anaknya. Simon adalah seorang tukang kebun, yang hendak pulang ke rumah setelah bekerja di suatu taman dekat tembok sebelah Timur kota. Simon membawa sekantong potongan ranting tanam-tanaman. 

Melihat Simon lewat, para prajurit segera menahannya dan memerintahkannya untuk membantu Yesus memanggul salib. Pada mulanya Simon menolak, tetapi segera terpaksa taat, meskipun anak-anaknya menangis dengan ribut karena takut. Kepada anak-anak yang menangis beberapa perempuan yang menyertai arak-arakan menenangkan serta menjaga mereka. Simon teramat marah, dan dengan hebat mengungkapkan kekesalan hatinya karena dipaksa berjalan dengan seorang yang keadaannya begitu hina, dekil dan penuh sengsara; tetapi Yesus meneteskan airmata dan menatap padanya dengan tatapan surgawi yang begitu lemah lembut sehingga hatinya tersentuh. Bukannya terus menunjukkan kedongkolan hatinya, malahan Simon membantu Yesus bangkit, sementara para algojo mengikatkan satu sisi lengan salib ke atas pundaknya. Simon berjalan di belakang Yesus, dengan demikian banyak meringankan Yesus dari beban salib yang berat. 

Ketika segala sesuatunya telah siap, arak-arakan pun bergerak maju kembali. Simon seorang yang kekar perawakannya, usianya sekitar empatpuluh tahun. Anak-anaknya mengenakan jubah dari bahan yang berwarna-warni. Dua yang tertua, Rufus dan Aleksander, di kemudian hari menggabungkan diri dengan para murid Yesus. Anak ketiga jauh lebih kecil, tetapi beberapa tahun sesudahnya pergi untuk tinggal bersama Santo Stefanus. 

Yesus Berjumpa  dengan Serafiah /Veronika

Ketika arak-arakan telah maju kurang lebih dua ratus langkah dari tempat di mana Simon mulai membantu memanggul salib Yesus, dari sebuah rumah di sebelah kiri jalan,  pintunya terbuka dan keluarlah seorang perempuan dewasa berpenampilan anggun, sambil menggandeng seorang anak perempuan berumur sekitar 9 tahun, dan melangkah pasti menuju arak-arakan. Nama perempuan itu adalah Serafia.  Serafia adalah isteri Sirakh, salah seorang anggota sidang Bait Allah. Di kemudian hari, Serafia dikenal sebagai Veronica, sebuah nama yang diambil dari kata “vera icon” (gambar asli), guna mengenangkan tindakannya yang gagah berani pada hari itu.

Serafia membawa anggur harum penuh sedap, untuk dipersembahkannya kepada Yesus, guna sedikit menyegarkan dahaga dalam perjalanan sengsara menuju Kalvari. Serafiah mengenakan sehelai kerudung besar yang tergantung pada lengannya. Sementara gadis kecil berusaha menyembunyikan kantong anggurnya ketika iring-iringan datang mendekat. Barisan arak-arakan bagian depan berusaha mendorong Serafiah mundur, tapi Serafiah terus maju menerobos khalayak ramai, para prajurit, para prajurit pembantu, hingga tiba pada Yesus. Di depan Yesus, Serafiah berlutut dan mengulurkan kerudung sembari berkata, “Ijinkanlah hamba menyeka wajah Tuhanku.” Yesus menyambut kerudung dengan tangan kiri, menyeka wajahNya yang berlumuran darah, lalu mengembalikannya seraya mengucapkan terima kasih. Serafia mencium kain itu dan menyimpannya di bawah mantolnya. Gadis kecil berupaya menyerahkan anggur, tetapi para prajurit tidak mengijinkan Yesus meminumnya. 

Tindakan Serafia yang nekad itu membuat para prajurit terpaku, mengakibatkan kelengangan sesaat. Melihat itu kaum Farisi dan para prajurit amat murka, bukan hanya karena jeda sesaat, tapi  karena penghormatan yang disampaikan kepada Yesus. Melihat situasi itu mereka melampiaskan amarah dengan menghajar Yesus. Ketika telah usai aksinya, Serafia bergegas kembali ke rumahnya.

Begitu tiba di rumah, Serafia meletakkan begitu saja kerudung  di atas meja, sementara dia sendiri jatuh berlutut nyaris tak sadarkan diri. Tak lama berselang seorang lelaki yang merupakan sahabatnya  masuk ke rumah dan mendapati Serafia sedang berlutut  dengan gadis kecil menangis di sisinya. Sahabat itu begitu  terperanjat mendapati wajah Yesus penuh darah tergambar di atas kerudung.  Sahabat lelaki itu membangkitkan Serafia dan menunjuk ke arah kerudung. Melihat itu Serafia bersujud di hadapan kerudung seraya berseru dengan air mata berderai, “Sekarang, sungguh aku harus menyerahkan segala-galanya dengan hati bahagia, sebab Tuhan-ku telah berkenan memberiku kenangan akan DiriNya.” 

Tekstur kerudung ini terbuat dari wol yang sangat baik mutunya. Panjangnya tiga kali lebarnya. Kerudung biasanya dikenakan sebagai penutup bahu. Kebiasaan kaum Yahudi adalah memberikan kerudung kepada mereka yang sedang dilanda duka, berbeban berat atau sakit, agar mereka dapat menyeka wajahnya. Tentunya tindakan memberi kerudung mengungkapkan simpati atau belas kasihan. Serafiah  menyimpan kerudung itu hingga akhir hayatnya. Dia memasangnya di atas kepala tempat tidurnya. Setelah Serafiah meninggal, kerudung itu diserahkan kepada Bunda Maria,lalu mewariskannya kepada para rasul, dan kemudian kepada Gereja.

Serafia dan Yohanes Pembaptis adalah saudara sepupu. Ayah Serafia adalah saudara kandung Zakharia. Ketika Yoakim dan Anna membawa Santa Perawan, pada umur tiga tahun tiga bulan ke Yerusalem untuk diserahkan sebagai perawan Bait Allah, mereka menginap di rumah Zakharia yang letaknya dekat  pasar ikan. Usia Serafia lima tahun lebih tua dari Bunda Maria. Serafiah juga hadir pada acara pertunanganan Yusuf dan Maria  di Yerusalem. Serafia juga merupakan sanak dari Simeon tua, yang menubuatkan Kanak-kanak Yesus ketika dipersembahkan di Bait Allah.  Serafia dibesarkan bersama kedua putera Simeon tua.  Ketika Yesus berusia dua belas tahun dan ‘tinggal’ di Yerusalem tidak kembali ke Nazaret bersama Yusuf dan Maria, Serafialah yang masih lajang membawakan makanan untuk Yesus setiap hari di sebuah penginapan kecil, sekitar seperempat mil jauhnya dari Yerusalem.  

Serafia menikah dengan Sirakh putera Susana yang saleh. Sirakh adalah salah seorang anggota Sanhedrin. Pada mulanya Sirakh amat menentang Yesus. Serafiah isterinya harus menanggung banyak derita karena keterikatannya pada Yesus dan Bunda Maria. Berkat nasehat Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, membuat Sirakh sedikit memahami dan  mengijinkan Serafia untuk mengikuti Yesus. Ketika Yesus diadili secara tidak adil di istana Kayafas, Sirakh bergabung dengan Yusuf dan Nikodemus yang mengupayakan pembebasan bagi Yesus. Baik Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan Sirakh akhirnya mengundurkan diri dari jabatan mereka dalam sidang.

Serafiah  pula yang menebarkan kerudungke atas tanah, ketika arak-arakan Yesus memasuki Kota Yerusalem. Kerudung yang sama itu pula,dia persembahkan kepada Yesus dalam arak-arakan menuju Kalvari. 

By. Matheus Antonius Krivo

Yesus Memanggul Salib (Kronologi 10)

 

Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXX“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Pilatus meninggalkan balai pengadilan setelah pemakluman penyaliban Yesus. Pilatus dikawal oleh sejumlah anggota algojo. Ada dua puluh delapan pasukan kaum Farisi bersenjata pergi menuju balai pengadilan dengan menunggang kuda guna menyertai Yesus ke tempat eksekusi. Di antara pasukan itu terdapat enam orang yang turut serta dalam penangkapan Yesus di Taman Getsemani. Para algojo pembantu menggiring Yesus ke tengah pengadilan. Kemudian para hamba mengambil kayu salib yang lengannya terikat pada badan salib dan mencampakkan di depan kaki Yesus. Yesus berlutut di samping salib, memeluknya dengan kedua tangan, mencium kayu salib itu tiga kali, dan sambil memanjatkan doa syukur kepada Bapa di Surga atas karya penebusan yang sudah dimulaiNya. Para algojo pembantu segera menyeret Yesus bangkit,  lalu menghempaskanNya kembali agar berlutut. Algojo pun meletakan kayu salib yang berat ke atas bahu kanan Yesus. Yesus pun menahan berat beban salib dengan tangan kanan. Ketika Yesus masih berlutut dan berdoa, para algojo pembantu meletakkan lengan salib yang agak sedikit melengkung dan belum diikatkan pada badan salib, ke atas punggung kedua penyamun, dan mengikatkan tangan mereka erat-erat pada kayu salib. Badan salib digotong oleh para hamba, sebab potongan yang melintang tidak akan dipasangkan pada badan salib hingga saat eksekusi. 

Usai meletakan salib pada para tahanan itu, terompet ditiup guna memaklumkan keberangkatan pasukan berkuda Pilatus. Pilatus sendiri memimpin langsung sepasukan algojo, guna mencegah kemungkinan terjadinya pergolakan. Salah seorang Farisi yang tergabung dalam pasukan pengawal menghampiri Yesus yang masih tetap berlutut. Katanya, “Berdiri! Kami sudah cukup mendengar khotbah-khotbah-Mu yang hebat itu. Sekarang berdiri dan berangkat.” 

Mereka menarik Yesus berdiri dengan kasar, sebab Yesus sama sekali tak dapat bangkit karena beratnya beban salib. Yesus kemudian berdiri dan memulai perjalanan memanggul salibNya  ke tempat penyaliban di Golgota.

Iring-iringan perjalanan Yesus dan kedua penjahat menuju Golgota sebagai berikut:

Peniup terompet yang akan selalu meniup terompetnya di setiap ujung jalan dan memaklumkan hukuman.

Sejumlah perempuan dan anak-anak berjalan di belakang arak-arakan dengan tali, paku, palu, dan keranjang-keranjang berisi berbagai macam perkakas dalam tangan mereka. Lainnya, yang lebih kuat, membawa pancang, tangga, dan badan salib kedua penyamun. 

Sementara sebagian dari kaum Farisi mengikuti dengan menunggang kuda. 

Seorang anak lelaki membawa prasasti yang ditulis Pilatus untuk dipasang pada salib, dan  mahkota duri (yang telah ditanggalkan dari kepala Yesus) pada ujung sebuah tongkat yang panjang. 

Yesus menyangga salib pada bahu kanan dengan tangan kanan-Nya. Sementara tangan kiri terkulai tanpa daya di sampingnya. Dari waktu ke waktu tampak Yesus mengangkat naik jubah-Nya yang panjang agar jangan sampai kakiNya terjerat olehnya. 

Keempat algojo pembantu yang memegangi tali-temali yang diikatkan sekeliling pinggang Yesus. Mereka berjalan agak berjarak dari Yesus. Dua algojo berada di depan untuk menarik Yesus maju, sementara dua lainnya di belakang menarik Yesus mundur. Upaya itu agar Yesus tak dapat bergerak maju tanpa harus bersusah payah. Keadaan Yesus ketika memanggul salib:

  • Kedua tangan tersayat oleh tali-temali yang membelenggunya;
  • Wajah berlumuran darah dan tidak dapat dikenali; 
  • Rambut dan jenggot lengket oleh darah;
  • Akibat beratnya beban salib menekan dan rantai yang membelenggu, mengakibatkan jubah yang dikenakan Yesus menggigit luka-luka serta mengoyakkannya
  • Cemooh dan hinaan senantiasa diterimanya oleh pasukan yang menyertai.  
  • Sepanjang perjalanan itu Yesus tak kunjung henti berdoa memohon pengampunan bagi mereka yang menganiaya-Nya.  

Para algojo lainnya berjalan di samping arak-arakan Yesus;

Kedua penyamun digiring di belakang Yesus dengan lengan salib yang terpisah dari badan salib dibebankan di atas punggung mereka. Kedua tangan penyamun diikatkan erat pada kedua ujung lengan salib. Para penyamun mengenakan baju yang besar dan semacam selendang bahu yang menutup bagian atas tubuh mereka, serta topi jerami di atas kepala mereka. Penyamun yang baik tampak tenang, sementara yang lain sebaliknya, ia amat berang dan tak henti-hentinya mengumbar kutuk dan sumpah serapah.

Bagian belakang arak-arakan dipimpin oleh sisa kaum Farisi yang menunggang kuda, yang hilir mudik menyampaikan perintah; 

Pilatus dalam kemegahanya menunggang kuda agak jauh di belakang, dikelilingi para algojo dan sekelompok petugas Kalvari;

Selanjutnya sekitar tiga ratus pasukan yang datang dari perbatasan-perbatasan Italia dan Swiss berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan sejumlah orang di pinggiran jalan menyaksikan iring-iringan.  Para algojo Romawi mencegah orang banyak ikut serta dalam arak-arakan. Atas pencegahan itu membuat banyak orang yang ingin tahu memilih melewati jalan belakang yang memutar, agar bisa tiba lebih awal di Kalvari. Jalanan di mana Yesus digiring adalah jalanan yang sempit dan kumuh.  Orang banyak menonton dari atas atap rumah dan meloi dari jendela-jendela. Sebagian menghina Yesus dengan kata-kata cemooh. Sejumlah kuli  yang bekerja di jalanan sempat melempari Yesus dengan lumpur dan kotoran. Bahkan anak-anak yang telah diprovokasi mengisi kantong-kantong baju mereka dengan kerikil-kerikil tajam, dan melempatkannya dari pintu-pintu rumah ketika Yesus lewat.  


Yesus Jatuh Pertama Kali

Ketika Yesus melintasi jalanan yang sering tergenang air dan lumpur setelah hujan, sebuah batu besar ditempatkan di tengah-tengah guna memudahkan orang melintasinya. Ketika tiba di jalanan itu, tenaga Yesus sama sekali telah terkuras. Akibatnya nyaris tak bisa bergerak lagi. Para algojo pembantu menyeret serta menarik dengan kasarnya tubuh Yesus,  hingga jatuh terjerembab menghantam batu besar itu, sambil salib jatuh di sampingNya. Para algojo pun terpaksa berhenti. Begitu pula seluruh iring-iringan menjadi terhenti, mengakibatkan sedikit kekacauan. Saat jatuh itu para algojo menganiaya serta menghajar Yesus tanpa ampun. Yesus mengulurkan tangan, memohon seseorang membantuNya bangkit berdiri. Akan tetapi seseorang itu berujar, “Ah!” Semuanya akan segera berakhir”. Melihat itu orang-orang Farisi meminta algojo,  “Angkat Dia! Jika tidak, Dia akan mati di tangan kita.” 

Ada banyak perempuan dan anak-anak ikut serta dalam arak-arakan. Para perempuan menangis, sementara anak-anak ketakutan. Ketika Yesus mengangkat kepala; para algojo  menancapkan lagi mahkota duri ke atas kepalaNya sebelum mereka menarik keluar dari lumpur. Mahkota duri yang menudungi kepala Yesus menambah rasa sakit yang tak terperi. Akibat mahkota duri menyebabkan Yesus harus membungkuk kepala ke satu sisi guna memberikan ruang bagi salib, yang menekan berat di pundaknya.

Yesus Jatuh Kedua Kalinya di Hadapan Bunda Maria

Bunda Yesus bersama Yohanes dan beberapa perempuan meninggalkan istana Pilatus segera setelah hukuman mati kepada Yesus dimaklumkan. Bunda Maria sibuk berjalan kian kemari ke tempat-tempat yang telah dikuduskan oleh Sang Putera dan membasahi tempat-tempat itu dengan airmatanya. Namun ketika suara terompet, orang-orang yang bergegas, dan gemerincing pasukan berkuda memaklumkan bahwa iring-iringan akan segera berangkat menuju Kalvari, Santa Perawan tak dapat menahan kerinduannya untuk melihat Puteranya terkasih sekali lagi. Bunda Yesus memohon kepada Yohanes untuk membawanya ke tempat yang pasti akan dilewati Sang Putera. Lalu Yohanes membimbing Bunda Yesus ke suatu istana yang pintu masuknya berada di jalan yang dilalui Yesus setelah jatuh pertama kali. Yohanes memohon dan mendapatkan ijin dari seorang hamba untuk berdiri di pintu masuk bersama Bunda Maria dan para perempuan yang menyertainya. Bunda Allah tampak pucat pasi, matanya sembab dan merah karena airmata, tubuhnya terbungkus rapat dalam balutan mantol berwarna abu-abu kebiruan. 

Ketika teriakan dan seruan cemooh dari khalayak ramai yang mengamuk terdengar jelas, dan bentara yang memaklumkan berita penjahat yang akan dihukum mendekat, hamba itu membuka pintu. Bunda Maria pun jatuh berlutut. Setelah berdoa dengan khusuk, Bunda Maria berpaling kepada Yohanes dan bertanya, “Haruskah aku tinggal? Ataukah sebaiknya aku pergi saja? Adakah aku memiliki kekuatan untuk menyaksikan pemandangan yang demikian?” Yohanes menjawab, “Bunda, jika engkau tidak tinggal dan melihatNya lewat, engkau akan menyesalinya di kemudian hari.” Karenanya, Bunda Maria, Yohanes dan para perempuan tinggal dekat pintu, dengan mata menatap lekat pada arak-arakan yang  bergerak maju perlahan. 

Manakala petugas yang membawa peralatan eksekusi mendekat, dan Bunda Yesus melihat wajah-wajah bengis penuh kemenangan, dia tak kuasa menahan perasaan hatinya, dijalin erat jari-jari kedua tangannya seolah memohon dengan sangat pertolongan dari surga. Melihat itu, seorang dari antara mereka bertanya kepada yang lain: “Siapakah perempuan itu yang berdukacita begitu rupa?” Temannya menjawab, “Ia adalah Bunda Orang Galilea itu.” Mendengar hal ini, orang-orang yang bertanya mengolok-olok sambil menunjuk-nunjuk kepadanya.  Salah seorang dari mereka mengambil paku-paku yang akan dipergunakan untuk memakukan Yesus pada salib dan memperlihatkannya kepada Bunda Maria dengan cara yang paling keji. Tetapi Bunda Yesus memalingkan wajahnya, mengarahkan pandangannya kepada Yesus Sang Putera yang semakin mendekat. Bunda Maria menyandarkan diri pada pilar untuk menopang tubuhnya. Pasukan kaum Farisi yang menunggang kuda lewat, diikuti oleh anak laki-laki yang membawa prasasti, lalu Putera-Nya terkasih. Yesus yang tenggelam di bawah beban berat salib, dengan mahkota duri di kepala, melemparkan tatapan belas kasih dan sengsara kepada BundaNya, langsung terhuyung-huyung, dan jatuh untuk kedua kalinya di atas kedua tangan dan lutut-Nya. Bunda Maria sama sekali hancur luluh melihatnya. Tanpa peduli pada siapapun, Bunda Maria menghambur dari pintu ke tengah kerumunan massa yang sedang menganiaya serta menyiksa Yesus, sambil berseru, “Puteraku terkasih”,  dia pun jatuh berlutut di sisi Sang Putera lalu memelukNya erat-erat. 

Sejenak terjadi kebingungan. Yohanes dan para perempuan kudus berusaha membangkitkan Bunda Maria agar berdiri, para algojo pembantu menghardiknya; seorang di antara mereka berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, hai perempuan? Ia tidak akan berada dalam tangan kami andai Ia dididik dengan baik.”

Sebagian dari para algojo tersentuh hatinya, dan walau mereka harus meminta Santa Perawan untuk minggir dan tidak menghalangi jalan, tak seorang pun berani menyentuhnya. Yohanes dan para perempuan kudus mengelilingi Bunda Maria yang jatuh lemas, tubuhnya roboh ke sebuah batu yang terletak dekat pintu masuk. Kedua murid yang bersama Bunda Yesus membopongnya masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. 

Melihat situasi Bunda Maria telah dibopong pergi, para algojo pembantu menarik Yesus berdiri dan memerintahkanNya untuk memanggul salib. Lengan salib dilepaskan ikatannya dari badan salib dan dililitkan dengan tali-temali hingga Yesus dapat menahan potongan kayu itu dengan kedua lenganNya. Dengan cara demikian berat badan salib sedikit terkurangi karena badan salib lebih terseret ke tanah. 

**Batu tempat Bunda Maria terjatuh itu,  terdapat jejak-jejak tangannya tertera. Batu yang sangat keras ini sesudahnya dipindahkan ke sebuah gereja Katolik pertama yang dibangun di Yerusalem dekat Kolam Betsaida, pada masa Santo Yakobus Muda menjadi uskup kota itu. 

By. Matheus Antonius Krivo