Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi LI dan LII“Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.
Bunda Maria duduk di atas sebuah kain lebar yang dibentangkan di tanah sambil bersandar pada bantalan yang merupakan gulungan mantol. Tubuh Yesus dibaringkan membujur di atas selembar kain dan kepalaNya beristirahat di atas lutut Bunda Maria, Bunda Maria untuk terakhir kalinya merengkuh tubuh Sang Putera terkasih dalam pelukannya. Bunda Maria memandangi luka-luka dan dengan penuh mesra membelai pipi Yesus yang berlumuran darah. Sementara Maria Magdalena mengusapkan wajahnya ke kaki Yesus.
Beberapa lelaki menuju ke sebuah gua kecil yang terletak di sisi Barat Daya Kalvari guna mempersiapkan berbagai barang untuk pengurapan. Cassius dan beberapa prajurit lainnya tetap mengambil jarak dari jenasah Yesus. Casius dan para prajurit ini masih tetap berada di Kalvari untuk memantau keamanan. Para perempuan membawa bejana-bejana, bunga-bunga karang, kain-kain lenan, minyak urapan dan rempah-rempah dan menaruhnya dekati jasad Yesus dan Bunda Maria. Yohanes dan para perempuan dengan hikmat mengikuti setiap pergerakan perlakukan Bunda Maria terhadap Puteranya. Yohanes relatif amat sibuk menolong Bunda Maria. Dia hilir mudik antara para lelaki dan para perempuan, guna memenuhi semua kebutuhan pengurapan. Para perempuan telah menyiapkan beberapa botol kulit yang besar dan sebuah bejana berisi air yang dijerangkan di atas perapian batu bara. Mereka selalu memberikan kepada Bunda Maria dan Maria Magdalena ketika diperlukan. Bejana-bejana berisi air bersih dan bunga-bunga karang, yang kemudian mereka peras ke dalam botol-botol kulit.
Bunda Maria dalam ketabahan, ketegaran dan sepenuh hati membasuh serta membersihkan tubuh Yesus dari bekas-bekas kekejaman yang dilampiaskan kepadaNya. Bunda Maria dengan amat hati-hati dan teliti melepaskan mahkota duri, membuka ikatan belakangnya, lalu memotong satu demi satu duri-duri yang menembusi kepala Yesus, agar tidak mengoyakkan luka-luka. Mahkota duri diletakkan di samping paku-paku. Lalu mencabut duri-duri yang masih tertancap dalam kulit dengan semacam sepit bulat** dan dengan pilu memperlihatkan kepada para sahabatnya.
Wajah Yesus sama sekali tidak dapat dikenali lagi. WajahNya rusak hebat akibat luka-luka dan memar. Jenggot dan rambut-Nya lengket dengan darah. Bunda Maria membasuh kepala dan wajah, menyeka rambutNya dengan bunga-bunga karang basah guna membersihkan dari darah yang mengental. Selanjutnya Bunda Maria membasuh luka-luka di kepala, kedua mata yang bersimbah darah, lubang hidung, dan telinga, dengan sebuah bunga karang dan sehelai saputangan lenan yang digenggam pada tangan kanannya. Lebih lanjut Bunda Maria membersihkan mulut yang setengah ternganga, lidah, gigi dan bibir. Bunda Maria membagi rambut Yesus yang masih tersisa menjadi beberapa bagian. Ada bagian pada masing-masing pelipis, dan yang lain di belakang kepala. Ketika telah diluruskan dan dirapikannya rambut bagian depan dari kekusutan, Bunda Maria menyelipkannya di belakang telinga Yesus. Ketika kepala Yesus telah dibasuh dan dibersihkan dengan seksama,Bunda Maria menyelubunginya dengan sehelai selubung, setelah terlebih dahulu mencium kedua pipi kudus Puteranya terkasih.
Selanjutnya Bunda Maria membersihkan leher, pundak, dada, punggung, kedua tangan dan kaki yang berlubang. Seluruh tulang dada Yesus terlepas dari persendiannya dan tak dapat ditekuk. Terdapat suatu luka mengerikan di bahu yang menyangga beban Salib, dan sekujur tubuh bagian atas dipenuhi memar dan bilur-bilur dalam akibat deraan cambuk. Di dada kiri terdapat suatu luka kecil di mana ujung tombak Cassius muncul setelah menembusi hatiNya. Pada lambung kanan terdapat suatu luka menganga akibat tikaman tombak yang sama. Pada bagian tubuh dipenuhi noda-noda cokelat dan merah terutama pada bagian-bagian di mana kulit terkelupas. Ada pula noda-noda itu berwarna putih kebiruan, serupa daging yang telah diperas dari darahnya.Bunda Maria membasuh semua luka dengan penuh kasih.
Setelah dibersihkan segala luka dan darah, Bunda Maria membasuh leher, dada dan kedua tangan, kaki serta seluruh tubuh Yesus. Usai membasuh dan mengeringkan dengan kain lenan, Bunda Maria menyelubungi bagian-bagian yang telah dibasuh dengan kain selubung, kemudian mengurapi luka-luka di bagian tubuh dengan minyak. Pengurapan berlanjut pada rambut, telinga, lubang hidung dan luka di lambung dengan campuran minyak berharga dan rempah-rempah harum.
Setelah mengurapi semua luka Yesus, Bunda Maria membalut kepala dengan kain lenan, seraya membiarkan wajah belum diselubungkan. Lalu Bunda Maria mengatupkan kedua mata Yesus yang setengah terbuka, sambil membiarkan tangannya berada di atasnya beberapa saat. Lebih lanjut Bunda Maria mengatupkan mulut Yesus yang setengah terbuka, kemudian memeluk mesra tubuh kudus Puteranya, sambil mengusapkan wajah Yesus dengan penuh kasih sekaligus memberi hormat ke atas wajahNya.
Air yang dipergunakan untuk membasuh sang Juruselamat tidak dibuang, melainkan dimasukkan ke dalam botol-botol kulit dengan memeras bunga-bunga karang. Cassius dan beberapa prajurit pergi beberapa kali untuk mengambil air jernih dari sumber mata air Gihon, yang tak berapa jauh letaknya.
Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus setia menunggu selama proses pengurapan. Ketika sudah hampir selesai, Yohanes menghampiri Bunda Maria seraya memohon agar pengurapan dapat segera diselesaikan supaya dapat diperkenankan membawa tubuh Yesus,mengingat Sabat sudah menjelang. Mendengar bisikan Yohanes, Bunda Maria memeluk erat tubuh kudus Yesus, mengucapkan salam perpisahan dengan kata-kata yang sungguh menyentuh hati. Lalu para lelaki mengambil tubuh Yesus dari pangkuan Bunda Maria dengan beralaskan sehelai kain lenan berenda dan membawanya pergi beberapa jauh.
Jasad Yesus dibawa ke suatu tempat di bawah permukaan puncak Golgota, di mana permukaan bukit karang yang rata dapat difungsikan sebagai suatu balai yang nyaman untuk mengurapiNya.
Nikodemus dan Yusuf kemudian berlutut, di bawah bentangan kain, kemudian melepaskan kain lenan yang dibalutkan sekeliling pinggang Yesus. Lalu mereka mengambil bunga-bunga karang, membasuh bagian bawah tubuh Yesus. Sesudahnya tubuh Yesus diangkat dengan bantuan kain-kain lenan yang disilangkan di bawah pinggang dan kedua lututNya, lalu membasuh punggung Yesus tanpa membalikkan tubuh. Mereka terus membasuh hingga air jernih saja yang akhirnya keluar dari perasan bunga-bunga karang. Selanjutnya mereka menuangkan air mur ke atas sekujur tubuh kudus, dan dengan penuh hormat merentangkannya hingga lurus. Hal ini karena tubuh Yesus masih dalam posisi pinggang dan kedua lutut-Nya tertekuk.
Lebih lanjut Yusuf dan Nikodemus menempatkan di bawah pinggul sehelai kain yang lebarnya satu yard dan panjangnya tiga yard, seraya meletakkan di atas pangkuan Yesus kantong-kantong rempah-rempah harum. Nikodemus juga membubuhkan ke sekujur tubuh bubuk harum yang dibawanya. Kemudian mereka membungkus bagian bawah tubuh, dan membalutkan kain yang ada dibawah pinggul Yesus ke sekeliling tubuhNya. Sesudah itu, mereka mengurapi luka-luka di kedua paha, menempatkan kantong-kantong rempah-rempah di antara kedua kaki, yang telah direntangkan hinga lurus, dan membubuhi seluruhnya dengan rempah-rempah harum.
Ketika Yusuf dan Nikodemus sudah selesai membungkus tubuh Yesus, Yohanes membimbing Bunda Maria dan para perempuan lainnya untuk berada di sisi Yesus. Bunda Maria berlutut di sisi kepala Yesus, dan menempatkan di bawah kepala Puteranya sehelai kain lenan bermutu, yang diterimanya dari Claudia Procles- isteri Pilatus. Selanjutnya, dengan dibantu para perempuan, Bunda Maria membubuhkan dari pundak hingga ke pipi Puteranya, kantong-kantong ramu-ramuan, rempah-rempah, bubuk wangi-wangian, dan kemudian mengikat erat kain lenan itu sekeliling kepala dan pundak tubuh Yesus. Maria Magdalena menuangkan sebotol kecil minyak balsam ke dalam luka pada lambung, dan para perempuan lainnya membubuhkan lebih banyak rempah-rempah ke dalam luka-luka di kedua kaki dan tangan Yesus. Kemudian para lelaki membubuhkan rempah-rempah harum sekeliling sisa tubuh Yesus. Lalu menyilangkan kedua tangan Yesus yang telah kaku ke atas dadaNya dan mengikatkan kain putih lebar sekeliling tubuh dari bawah sampai ke dada. Setelah menempatkan ujung sebuah pita besar di bawah kedua ketiak Yesus, mereka melingkarkannya sekeliling kepala dan sekujur tubuh. Akhirnya, para lelaki itu membaringkan Yesus di atas sehelai kain besar yang panjangnya enam yard, yang dibeli Yusuf dari Arimatea dan membungkus tubuh kudus. Tubuh Yesus terbaring diagonal di atas kain itu, salah satu ujung kain diangkat dan ditutupkan ke tubuh Yesus dari bagian kaki hingga ke dada. Ujung satunya ditutupkan dari kepala ke pundak. Sementara kedua ujung kain yang melintang dibalutkan dua kali sekeliling tubuh Yesus.
Santa Perawan, para perempuan kudus, para lelaki - semuanya berlutut sekeliling tubuh Yesus untuk menyampaikan salam perpisahan. Dengan airmata bercucuran mereka memeluk tubuh Yesus.
Yesus Dimakamkan
Para lelaki membaringkan tubuh kudus di atas semacam tandu kulit yang mereka selubungi dengan sehelai kain berwarna cokelat. Ada dua tongkat panjang mereka pasangkan pada tandu. Nikodemus dan Yusuf memanggul gagang tongkat bagian depan, sementara Abenadar dan Yohanes memanggul gagang bagian belakang. Berjalan di belakang mereka adalah Bunda Maria, Maria Heli, Maria Magdalena dan Maria Kleopas dan rombongan para perempuan seperti Serafiah (Veronica), Yohana Khuza, Maria ibunda Markus, Salome isteri Zebedeus, Maria Salome, Salome dari Yerusalem, Susana, dan Anna kemenakan Yusuf (suami Bunda Maria). Cassius dan para prajurit berjalan di barisan paling belakang.
Arak-arakan didahului oleh dua prajurit yang berjalan dengan suluh di tangan guna memberi penerangan dalam grotto makam. Iring-iringan bergerak maju selama sekitar tujuh menit.
Arak-arakan berhenti di pintu masuk taman milik Yusuf dari Arimatea. Ketika berada di depan bukit batu, mereka membaringkan tubuh Yesus di atas sebilah papan panjang yang dilapisi selembar kain. Grotto baru yang telah dibersihkan tampak rapi. Para perempuan duduk di depan grotto, sementara keempat lelaki mengusung masuk tubuh Yesus ke dalamnya. Sebagian lainnya mengisi balai dalam ceruk yang diperuntukkan bagi jenazah dengan rempah-rempah harum, menghamparkan sehelai kain di atasnya, di mana dengan hormat mereka membaringkan tubuh Yesus. Setelah mengungkapkan kasih mereka dengan airmata sambil memeluk Yesus, para lelaki itu meninggalkan grotto. Bunda Maria masuk, duduk dekat sisi kepala Puteranya dan membungkuk ke atas tubuhNya dengan airmata berderai. Usai Bunda Maria meninggalkan grotto, Maria Magdalena dengan tak sabar bergegas masuk dan menaburkan ke atas tubuh Yesus bunga-bunga dan ranting-ranting yang ia kumpulkan dari taman. Lalu, ia menjalin erat jari-jari kedua tangannya dan dengan isak tangis menciumi kaki Yesus. Tak lama Maria Magdalena meninggalkan grotto karena para lelaki membisikan kepadanya bahwa mereka harus segera menutup pintu makam. Mereka menyelimuti tubuh kudus dengan ujung-ujung kain di mana tubuh terbaring, lalu menghamparkan kain penutup berwarna cokelat, menutup pintu-pintu lipat yang terbuat dari logam berwarna merah kecoklatan, di mana terdapat dua tonggak di depannya, yang satu membujur dan yang lain melintang, sehingga secara sempurna membentuk sebuah salib.
Selanjutnya pintu grotto ditutup dengan batu besar yang telah tergeletak di depan makam. Batu besar itu cukup panjang dan sangat berat. Olehnya para lelaki menggulingkannya ke pintu makam menggunakan beberapa pengungkit dari kayu. Pintu masuk grotto ditutup dengan sebuah gerbang yang terbuat dari dahan-dahan pohon yang dijalin.
By. Matheus Antonius Krivo

.jpg)


.jpg)
.jpg)

