Kamis, 21 Agustus 2025

Jenasah Yesus Diurapi dan Dimakamkan (Kronologis 15)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi LI dan LII“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.



Jenasah Yesus Diurapi dan Dimakamkan

Bunda Maria duduk di atas sebuah kain lebar yang dibentangkan di tanah sambil  bersandar pada bantalan yang merupakan gulungan mantol.  Tubuh Yesus dibaringkan membujur di atas selembar kain dan kepalaNya beristirahat di atas lutut Bunda Maria, Bunda Maria untuk terakhir kalinya merengkuh tubuh Sang Putera terkasih dalam pelukannya.  Bunda Maria memandangi luka-luka  dan dengan penuh mesra membelai pipi Yesus yang berlumuran darah. Sementara Maria Magdalena mengusapkan wajahnya ke kaki Yesus.

Beberapa lelaki menuju ke sebuah gua kecil yang terletak di sisi Barat Daya Kalvari guna mempersiapkan berbagai barang untuk pengurapan.  Cassius dan beberapa prajurit lainnya tetap mengambil jarak dari jenasah Yesus. Casius dan para prajurit ini masih tetap berada di Kalvari untuk memantau keamanan. Para perempuan membawa bejana-bejana, bunga-bunga karang, kain-kain lenan, minyak urapan dan rempah-rempah dan menaruhnya dekati jasad Yesus dan Bunda Maria. Yohanes dan para perempuan dengan hikmat mengikuti setiap pergerakan perlakukan Bunda Maria terhadap Puteranya.  Yohanes relatif amat sibuk menolong Bunda Maria. Dia hilir mudik antara para lelaki dan para perempuan, guna memenuhi semua kebutuhan pengurapan. Para perempuan telah menyiapkan  beberapa botol kulit yang besar dan sebuah bejana berisi air yang dijerangkan di atas perapian batu bara. Mereka selalu memberikan kepada Bunda Maria dan Maria Magdalena ketika diperlukan. Bejana-bejana berisi air bersih dan bunga-bunga karang, yang kemudian mereka peras ke dalam botol-botol kulit.

Bunda Maria dalam ketabahan, ketegaran dan sepenuh hati  membasuh serta membersihkan tubuh Yesus dari bekas-bekas kekejaman yang dilampiaskan kepadaNya. Bunda Maria dengan amat hati-hati dan teliti melepaskan mahkota duri, membuka ikatan belakangnya, lalu memotong satu demi satu duri-duri yang menembusi kepala Yesus, agar tidak mengoyakkan luka-luka. Mahkota duri diletakkan di samping paku-paku. Lalu mencabut duri-duri yang masih tertancap dalam kulit dengan semacam sepit bulat** dan dengan pilu memperlihatkan kepada para sahabatnya. 

Wajah Yesus sama sekali tidak dapat dikenali lagi. WajahNya rusak hebat akibat luka-luka dan memar. Jenggot dan rambut-Nya lengket dengan darah. Bunda Maria membasuh kepala dan wajah, menyeka rambutNya dengan bunga-bunga karang basah guna membersihkan dari darah yang mengental. Selanjutnya Bunda Maria membasuh luka-luka di kepala, kedua mata yang bersimbah darah, lubang hidung, dan telinga, dengan sebuah bunga karang dan sehelai saputangan lenan yang digenggam pada tangan kanannya. Lebih lanjut Bunda Maria membersihkan mulut yang setengah ternganga, lidah, gigi dan bibir. Bunda Maria membagi rambut Yesus yang masih tersisa menjadi beberapa bagian. Ada  bagian pada masing-masing pelipis, dan yang lain di belakang kepala. Ketika telah diluruskan dan dirapikannya rambut bagian depan dari kekusutan, Bunda Maria menyelipkannya di belakang telinga Yesus. Ketika kepala Yesus  telah dibasuh dan dibersihkan dengan seksama,Bunda Maria menyelubunginya dengan sehelai selubung, setelah terlebih dahulu mencium kedua pipi kudus Puteranya terkasih. 

Selanjutnya Bunda Maria membersihkan leher, pundak, dada, punggung, kedua tangan dan kaki yang berlubang. Seluruh tulang dada Yesus terlepas dari persendiannya dan tak dapat ditekuk. Terdapat suatu luka mengerikan di bahu yang menyangga beban Salib, dan sekujur tubuh bagian atas dipenuhi memar dan bilur-bilur dalam akibat deraan cambuk. Di dada kiri terdapat suatu luka kecil di mana ujung tombak Cassius muncul setelah menembusi hatiNya. Pada lambung kanan terdapat suatu luka menganga akibat tikaman tombak yang sama. Pada bagian tubuh dipenuhi noda-noda cokelat dan merah terutama pada bagian-bagian di mana kulit terkelupas. Ada pula noda-noda itu berwarna putih kebiruan, serupa daging yang telah diperas dari darahnya.Bunda Maria membasuh semua luka dengan penuh kasih.

Setelah dibersihkan segala luka dan darah, Bunda Maria membasuh leher, dada dan kedua tangan, kaki serta seluruh tubuh Yesus. Usai membasuh dan mengeringkan dengan kain lenan, Bunda Maria menyelubungi bagian-bagian yang telah dibasuh dengan kain selubung, kemudian mengurapi luka-luka di bagian tubuh dengan minyak. Pengurapan berlanjut pada rambut, telinga, lubang hidung dan luka di lambung dengan campuran minyak berharga dan rempah-rempah harum. 

Setelah mengurapi semua luka Yesus, Bunda Maria membalut kepala dengan kain lenan, seraya membiarkan wajah belum diselubungkan. Lalu Bunda Maria mengatupkan kedua mata Yesus yang setengah terbuka, sambil membiarkan tangannya berada di atasnya beberapa saat. Lebih lanjut Bunda Maria mengatupkan mulut Yesus yang setengah terbuka, kemudian memeluk mesra tubuh kudus Puteranya, sambil mengusapkan wajah Yesus dengan penuh kasih sekaligus memberi hormat ke atas wajahNya.

Air yang dipergunakan untuk membasuh sang Juruselamat tidak dibuang, melainkan dimasukkan ke dalam botol-botol kulit dengan memeras bunga-bunga karang. Cassius dan beberapa prajurit pergi beberapa kali untuk mengambil air jernih dari sumber mata air Gihon, yang tak berapa jauh letaknya.  

Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus setia menunggu selama proses pengurapan. Ketika sudah hampir selesai, Yohanes menghampiri Bunda Maria seraya memohon agar pengurapan dapat segera diselesaikan supaya dapat diperkenankan membawa tubuh Yesus,mengingat Sabat sudah menjelang. Mendengar bisikan Yohanes, Bunda Maria memeluk erat tubuh kudus Yesus, mengucapkan salam perpisahan dengan kata-kata yang sungguh menyentuh hati. Lalu para lelaki mengambil tubuh Yesus dari pangkuan Bunda Maria dengan beralaskan sehelai kain lenan berenda dan membawanya pergi beberapa jauh. 

Jasad Yesus dibawa ke suatu tempat di bawah permukaan puncak Golgota, di mana permukaan bukit karang yang rata dapat difungsikan sebagai suatu balai yang nyaman untuk mengurapiNya. 

Nikodemus dan Yusuf kemudian berlutut,  di bawah bentangan kain, kemudian melepaskan kain lenan yang dibalutkan sekeliling pinggang Yesus.  Lalu mereka mengambil bunga-bunga karang, membasuh bagian bawah tubuh Yesus.  Sesudahnya tubuh Yesus diangkat dengan bantuan kain-kain lenan yang disilangkan di bawah pinggang dan kedua lututNya, lalu membasuh punggung Yesus tanpa membalikkan tubuh. Mereka terus membasuh hingga air jernih saja yang akhirnya keluar dari perasan bunga-bunga karang. Selanjutnya mereka menuangkan air mur ke atas sekujur tubuh kudus, dan dengan penuh hormat merentangkannya hingga lurus. Hal ini karena tubuh Yesus masih dalam posisi pinggang dan kedua lutut-Nya tertekuk. 

Lebih lanjut Yusuf dan Nikodemus menempatkan di bawah pinggul sehelai kain yang lebarnya satu yard dan panjangnya tiga yard, seraya meletakkan di atas pangkuan Yesus kantong-kantong rempah-rempah harum. Nikodemus juga membubuhkan ke sekujur tubuh bubuk harum yang dibawanya. Kemudian mereka membungkus bagian bawah tubuh, dan membalutkan kain yang ada dibawah pinggul Yesus ke sekeliling tubuhNya. Sesudah itu, mereka mengurapi luka-luka di kedua paha, menempatkan kantong-kantong rempah-rempah di antara kedua kaki, yang telah direntangkan hinga lurus, dan membubuhi seluruhnya dengan rempah-rempah harum.

Ketika Yusuf dan Nikodemus sudah selesai membungkus tubuh Yesus,  Yohanes membimbing Bunda Maria dan para perempuan lainnya untuk berada di sisi Yesus. Bunda Maria berlutut di sisi kepala Yesus, dan menempatkan di bawah kepala Puteranya sehelai kain lenan bermutu, yang diterimanya dari Claudia Procles- isteri Pilatus. Selanjutnya, dengan dibantu para perempuan, Bunda Maria membubuhkan dari pundak hingga ke pipi Puteranya, kantong-kantong ramu-ramuan, rempah-rempah, bubuk wangi-wangian, dan kemudian mengikat erat kain lenan itu sekeliling kepala dan pundak tubuh Yesus. Maria Magdalena menuangkan sebotol kecil minyak balsam ke dalam luka pada lambung, dan para perempuan lainnya membubuhkan lebih banyak rempah-rempah ke dalam luka-luka di kedua kaki dan tangan Yesus. Kemudian para lelaki membubuhkan rempah-rempah harum sekeliling sisa tubuh Yesus. Lalu menyilangkan kedua tangan Yesus yang telah kaku ke atas dadaNya dan mengikatkan kain putih lebar sekeliling tubuh dari bawah sampai ke dada.  Setelah menempatkan ujung sebuah pita besar di bawah kedua ketiak Yesus, mereka melingkarkannya sekeliling kepala dan sekujur tubuh. Akhirnya, para lelaki itu membaringkan Yesus di atas sehelai kain besar yang panjangnya enam yard, yang dibeli Yusuf dari Arimatea dan membungkus tubuh kudus. Tubuh Yesus terbaring diagonal di atas kain itu, salah satu ujung kain diangkat dan ditutupkan ke tubuh Yesus dari bagian kaki hingga ke dada. Ujung satunya ditutupkan dari kepala ke pundak. Sementara kedua ujung kain yang melintang dibalutkan dua kali sekeliling tubuh Yesus.

Santa Perawan, para perempuan kudus, para lelaki - semuanya berlutut sekeliling tubuh Yesus untuk menyampaikan salam perpisahan. Dengan airmata bercucuran mereka memeluk tubuh Yesus. 


Yesus Dimakamkan

Para lelaki membaringkan tubuh kudus di atas semacam tandu kulit yang mereka selubungi dengan sehelai kain berwarna cokelat. Ada dua tongkat panjang mereka pasangkan pada tandu. Nikodemus dan Yusuf memanggul gagang tongkat bagian depan, sementara Abenadar dan Yohanes memanggul gagang bagian belakang. Berjalan di belakang mereka adalah Bunda Maria, Maria Heli, Maria Magdalena dan Maria Kleopas  dan rombongan para perempuan seperti Serafiah (Veronica), Yohana Khuza, Maria ibunda Markus, Salome isteri Zebedeus, Maria Salome, Salome dari Yerusalem, Susana, dan Anna kemenakan Yusuf (suami Bunda Maria). Cassius dan para prajurit berjalan di barisan paling belakang. 

Arak-arakan didahului oleh dua prajurit yang berjalan dengan suluh di tangan guna memberi penerangan dalam grotto makam. Iring-iringan bergerak maju selama sekitar tujuh menit. 

Arak-arakan berhenti di pintu masuk taman milik Yusuf dari Arimatea. Ketika berada di depan bukit batu, mereka membaringkan tubuh Yesus di atas sebilah papan panjang yang dilapisi selembar kain. Grotto baru yang telah dibersihkan tampak rapi. Para perempuan duduk di depan grotto, sementara keempat lelaki mengusung masuk tubuh Yesus ke dalamnya.  Sebagian lainnya mengisi balai dalam ceruk yang diperuntukkan bagi jenazah dengan rempah-rempah harum, menghamparkan sehelai kain di atasnya, di mana dengan hormat mereka membaringkan tubuh Yesus. Setelah mengungkapkan kasih mereka dengan airmata sambil memeluk Yesus, para lelaki itu meninggalkan grotto. Bunda Maria masuk, duduk dekat sisi kepala Puteranya dan membungkuk ke atas tubuhNya dengan airmata berderai. Usai Bunda Maria meninggalkan grotto, Maria Magdalena dengan tak sabar bergegas masuk dan menaburkan ke atas tubuh Yesus bunga-bunga dan ranting-ranting yang ia kumpulkan dari taman. Lalu, ia menjalin erat jari-jari kedua tangannya dan dengan isak tangis menciumi kaki Yesus. Tak lama Maria Magdalena meninggalkan grotto karena para lelaki membisikan kepadanya bahwa mereka harus segera menutup pintu makam.  Mereka menyelimuti tubuh kudus dengan ujung-ujung kain di mana tubuh terbaring, lalu menghamparkan kain penutup berwarna cokelat, menutup pintu-pintu lipat yang terbuat dari logam berwarna merah kecoklatan, di mana terdapat dua tonggak di depannya, yang satu membujur dan yang lain melintang, sehingga secara sempurna membentuk sebuah salib.

Selanjutnya pintu grotto ditutup dengan batu besar yang telah  tergeletak di depan makam. Batu besar itu cukup panjang dan sangat berat. Olehnya para lelaki menggulingkannya ke pintu makam menggunakan beberapa pengungkit dari kayu.  Pintu masuk grotto ditutup dengan sebuah gerbang yang terbuat dari dahan-dahan pohon yang dijalin. 


By. Matheus Antonius Krivo



Jenasah Yesus Diturunkan Dari Salib (Kronologis 14)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XLVII, XVIII, L“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yusuf dari Arimatea Meminta Memakamkan Jenasah Yesus

Usai kegemparan di kota Yerusalem akibat gempa dasyat, anggota sidang Bait Allah mengirimkan permohonan kepada Pilatus agar kaki-kaki para penjahat dipatahkan, supaya segera mati sebelum hari Sabat tiba. Atas permohonan itu Pilatus memutuskan mengirimkan para algojo ke Kalvari guna melaksanakan permohonan itu.

Mendengar hal ikhwal itu, Yusuf dari Arimatea menghadap Pilatus dan memberitahukan bahwa ia mendengar Yesus telah wafat. Yusuf  mengatakan kepada Pilatus bahwa dia bersama Nikodemus bersedia untuk memakamkan Yesus di sebuah makam baru di belakang taman miliknya yang terletak tidak jauh dari Kalvari. Mendengar informasi dan permintaan Yusuf dari Arimatea, Pilatus minta pengawalnya untuk segera memanggil kepala pasukan, Abenadar. Ketika Abenadar datang, Pilatus bertanya kepadanya apakah Raja Orang Yahudi sungguh sudah mati. Atas pertanyaan itu Abenadar menceritakan secara rinci kepada Pilatus mengenai proses Yesus wafat;  kata-kata Yesus yang terakhir, seruan nyaring Yesus tepat sebelum wafat, dan gempa bumi yang membelah bukit karang dan membuat jurang yang dalam di sana. Satu-satunya hal yang membuat Pilatus terheran adalah bahwa kematian Yesus terjadi begitu cepat, sebab mereka yang disalibkan biasanya mampu bertahan hidup lebih lama. Mendengar cerita Abenadar,  Pilatus memberikan instruksi sekaligus wewenang kepada Yusuf untuk menurunkan jenazah Raja Orang Yahudi dari Salib dan melaksanakan ritual pemakaman. Pilatus pun menugaskan kembali Abenadar  ke Kalvari guna memastikan instruksinya dilaksanakan. 


Kaki Yesus Tidak Dipatahkan Namun LambungNya Ditikam

Sesuai perintah Pilatus, enam algojo pembantu datang ke Kalvari dengan membawa tangga, sekop, tali-temali dan alat pemukul dari besi yang besar untuk mematahkan kaki-kaki para penjahat guna mempercepat kematian mereka. Ketika mereka menuju Salib Yesus, Bunda Maria dan kerabatnya mundur beberapa langkah. Bunda Maria dicekam ketakutan kalau-kalau para algojo masih mau melampiaskan kekejian  pada tubuh Puteranya yang telah tak bernyawa. Ketakutan Bunda Maria beralasan sebab ketika algojo menyandarkan tangga pada Salib, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya berpura-pura mati. Namun, beberapa saat kemudian, ketika mendapati tubuh Yesus telah dingin dan kaku, mereka membiarkan dan memindahkan tangga ke salib kedua penyamun yang masih tergantung hidup. Para algojo mengambil alat pemukul besi lalu mematahkan lengan-lengan di atas dan di bawah siku. Sementara pada saat yang sama seorang algojo pembantu lainnya mematahkan kaki-kaki mereka di atas dan di bawah lutut. Gesmas meneriakkan seruan-seruan yang mengerikan, sebab itu algojo menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan gada yang mematikan di dadanya. Dismas mengerang dalam-dalam dan wafat.  Tali-temali kemudian dilepaskan, kedua mayat jatuh bergelimpangan ke atas tanah. Lalu para algojo menyeret kedua jasad penyamun ke sebuah rawa yang terletak antara Kalvari dan tembok kota, dan menguburkan di sana.

Menyaksikan masih ada keraguan anak buahnya, Cassius sebagai wakil kepala pasukan yang sedang menunggang kuda, tiba-tiba tergerak hatinya menyambar sebilah tombak bergerak menuju ke hadapan Salib, sembari  menikam lambung kanan Yesus hingga menembusi hati dan muncul di sisi kiri. Ketika Cassius mencabut tombaknya, dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air, yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Cassius langsung meloncat dari kudanya, jatuh berlutut, menebah dadanya, dan memaklumkan dengan suara nyaring imannya yang teguh akan ke-Allah-an Yesus di hadapan semua yang hadir. Mata Cassius yang juling langsung normal kembali. Bunda Maria dan kerabatnya yang menyaksikan adegan penikaman langsung mendekati salib dan mendapati Cassius tetap berlutut di hadapan Salib Yesus. Bersama Bunda Maria dan kerabatnya, Cassius pun turut serta mengumpulkan darah dan air Yesus dalam bejana-bejana, dan menyeka sisanya dengan potongan-potongan kain lenan.

Persiapan Sebelum Menurunkan dan Menguburkan Jenasah Yesus

Sesudah meninggalkan istana Pilatus, Yusuf dari Arimatea langsung  menemui Nikodemus  yang sedang berada di rumah seorang perempuan yang adalah pedagang rempah-rempah harum.  Nikodemus membeli banyak wangi-wangian yang diperlukan untuk mengurapi jenazah Yesus. Perempuan itu mendapatkan rempah-rempah yang mahal dari berbagai tempat lain. Yusuf pergi membeli kain lenan yang baik mutunya. Para pelayan Yusuf mengambil tangga, palu dan martil, pasak, tempayan-tempayan air serta bunga-bunga karang dari sebuah gudang dekat sana, lalu menempatkan barang-barang itu dalam sebuah tandu. 

Yusuf juga memerintahkan beberapa pelayannya untuk membersihkan kubur baru di taman. Para pelayan yang telah membersihkan kubur, menuju Kalvari dan memberitakan kepada Bunda Maria bersama kerabatnya bahwa tuan mereka (Yusuf Arimatea) akan mengambil dan memakamkan jenasah Yesus di sebuah kubur baru.

Mendengar itu, Yohanes langsung kembali ke kota bersama para perempuan yang menyertai seklaigus agar Bunda Maria dapat sedikit pulih kekuatannya. Setiba di kota, Yohanes membeli beberapa barang yang diperlukan untuk pemakaman. Bunda Maria beristirahat di suatu penginapan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan dekat Senakel. Mereka tidak masuk kembali ke kota lewat gerbang yang paling dekat Kalvari,  sebab gerbang ditutup dan dijaga oleh para algojo yang disiagakan di sana oleh kaum Farisi. Mereka lewat gerbang yang menuju ke Betlehem.

Nikodemus telah membeli seratus pon akar-akaran. Mereka membawa rempah-rempah itu dalam tong-tong kecil yang terbuat dari kulit kayu. Mereka membawanya dengan meng gantungkan di sekeliling leher  dan menempel pada dada. Satu di antara tong-tong ini berisi semacam bubuk. Ada pula beberapa kantong ramu-ramuan dalam tas-tas yang terbuat dari perkamen atau kulit. Yusuf dari Arimatea membawa sekotak minyak urapan. Para hamba membawa bejana-bejana, botol-botol kulit, bunga-bunga karang dan perkakas serta lentera tertutup. Para pelayan berangkat menuju Bukit Kalvari. Begitu juga Yohanes dan para perempuan kudus menyusul para hamba itu ke Kalvari. Para perempuan berjumlah kurang lebih lima orang, sebagian dari mereka dengan balutan-balutan tebal kain lenan di bawah mantol mereka. 

Yusuf dan Nikodemus juga dalam busana kabung; mereka mengenakan busana berlengan hitam dan ikat pinggang lebar. Jubah mereka, yang mereka tudungkan ke atas kepala, lebar dan panjang, berwarna abu-abu, berfungsi pula untuk menyembunyikan segala yang mereka bawa.

Ketika Yusuf dan Nikodemus tiba di gerbang kota, mereka mendapati gerbang ditutup, para algojo berjajar sepanjang jalan-jalan serta tikungan-tikungan. Yusuf menunjukkan surat perintah yang ditandatangani Pilatus, agar mereka dapat lewat dengan bebas. Para algojo dengan senang hati akan mempersilakan, tetapi mereka menjelaskan kepadanya bahwa telah beberapa kali mereka berusaha membuka pintu gerbang, namun gerbang sama sekali tak bergeming, tampaknya gerbang terimbas gempa dan macet di suatu bagian. Tetapi ketika Yusuf dan Nikodemus mengulurkan tangan meraih palangnya, pintu gerbang terbuka seolah dengan sendirinya, sehingga mereka semua yang menyaksikannya amat tercengang.

Yusuf dan Nikodemus ketika tiba di Bukit Kalvari mendapati para pelayan  yang diutus terlebih dahulu telah tiba dan para perempuan sedang duduk menangis di depan Salib. Cassius dan beberapa algojo tetap berada dalam jarak tertentu dengan sikap penuh hormat. Yusuf dan Nikodemus menceriterakan kepada Bunda Maria dan Yohanes segala daya upaya yang telah mereka lakukan demi menyelamatkan Yesus dari kematian yang keji. Begitu juga  upaya mereka yang berhasil mencegah tulang-tulang Yesus tidak dipatahkan.  Sedangkan para perempuan  juga bercerita mengenai luka yang dibuat Cassius dengan tombaknya. Tak lama berselang kepala pasukan Abenadar tiba dan langsung mereka memulai menurunkan tubuh Yesus dari Salib dan  kemudian mengurapiNya.

Jenasah Yesus Diturunkan dari Salib

Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena duduk di kaki Salib. Sementara di sebelah kanan antara salib Dismas dan Salib Yesus, para perempuan  sibuk mempersiapkan kain lenan, rempah-rempah, air, bunga-bunga karang dan bejana-bejana. Cassius juga datang mendekat dan menceriterakan kepada Abenadar mukjizat penyembuhan matanya. Semua yang hadir tampak begitu terharu, hati mereka diliputi dukacita dan belas kasih. Namun, pada saat yang sama, mereka tetap menjaga keheningan yang khusuk, setiap gerak-gerik mereka penuh kesalehan dan hormat. Maria Magdalena tak henti-hentinya menangisi Yesus. 

Nikodemus dan Yusuf menyandarkan tangga-tangga ke belakang Salib dan memanjatnya. Pada tangan mereka membawa sehelai kain lebar di mana dipasang tiga tali pengikat yang panjang. Mereka mengikatkan tubuh Yesus, mulai dari bagian bawah kedua lengan hingga ke lutut, pada palang Salib dengan tali-tali pengikat, dan menahan kedua lengan dengan mengikatkannya pada lengan salib dengan kain-kain lenan. 

Lalu mereka melepaskan paku-paku dengan mendorong paku-paku itu dari belakang menggunakan pasak-pasak kuat yang dihantamkan ke ujung-ujung paku. Dengan demikian, tangan-tangan Yesus tidak banyak terkoyak dan paku-paku dengan mudah berjatuhan dari luka-lukaNya. Tampak luka-luka telah semakin melebar oleh sebab berat tubuh. Tubuh Yesus ditopang dengan kain sehingga tidak lagi tergantung pada paku. Pada bagian bawah tubuh, yang sejak wafat  telah melorot ke lutut, berada pada posisi normal karena disangga oleh kain yang diikatkan ke lengan-lengan Salib. Yusuf melepaskan paku dari tangan kiri, dan selanjutnya diselubungi dengan kain sehingga tangan jatuh dengan lembut ke atas tubuh Yesus.  Nikodemus mengikatkan lengan kanan Yesus pada palang Salib, dan kepala yang bermahkotakan duri, yang terkulai ke bahu kanan. Lalu ia melepaskan paku kanan, dan setelah menyelubungi lengan dengan kain penyangganya, membiarkan tangan itu jatuh dengan lembut ke atas tubuh Yesus. Pada saat yang sama, kepala pasukan Abenadar, dengan bersusah-payah melepaskan paku besar yang menembusi kedua kaki Yesus. Cassius dengan hormat menerima paku-paku itu dan meletakkannya di depan kaki Santa Perawan.

Setelah menyandarkan tangga-tangga ke bagian depan Salib dengan posisi nyaris tegak lurus dan dekat dengan tubuh Yesus, Yusuf dan Nikodemus melepaskan tali pengikat bagian atas dan mengaitkannya ke salah satu kaitan yang ada pada tangga. Lalu melakukan hal yang sama dengan kedua tali pengikat lainnya. Demikianlah Yusuf dan Nikodemus memindahkan tali-tali pengikat dari kaitan yang satu ke kaitan yang lainnya, sehingga tubuh kudus Yesus turun dengan perlahan dan lembut dan diterima oleh Abenadar yang berdiri di atas sebuah bangku. Abenadar menerima jasad Yesus dalam pelukannya sambil menahannya.   Sementara Yusuf dan Nikodemus, dengan menyangga bagian atas tubuh Yesus, menuruni tangga perlahan-lahan hingga ke tanah. 

Semua mata menatap lekat pada tubuh Yesus dan mengikuti setiap gerak-gerik Yusuf, Nikodemus dan Abenadar. Saat jasad Yesus diturunkan tubuhNya terbalut kain lenan dari lutut hingga ke pinggang. Kemudian mereka meletakkannya dalam pelukan Bunda Maria yang sedang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Sang Putera.


By. Matheus Antonius Krivo