Selasa, 19 Agustus 2025

Yesus Jatuh Di Jalan Salib (Kronologi 12)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXXV & XXXVI“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yesus Jatuh Keempat Kali Tercebur Lumpur

Ketika arak-arakan Yesus bersama Simon yang memikul salib,  tiba di gerbang arah Selatan di belakang Bukit Sion,  para algojo pembantu tiba-tiba mendorong Yesus ke sebuah kubangan yang ada di dekatnya. Simon dari Kirene, dalam usahanya menghindari kubangan, memutar palang salibnya, mengenai Yesus sehingga  jatuh tercebur ke dalam lumpur yang kotor. Simon bersusah-payah mengangkat salib kembali. Yesus lalu berseru dalam nada suara sendu namun terdengar jelas, penuh sedih dan menyayat hati, “Yerusalem, Yerusalem. Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Ketika kaum Farisi mendengar perkataan ini, amarah mereka meledak. Mereka pun melancarkan kembali caci-maki serta hajaran yang bertubi guna memaksa Yesus segera keluar dari lumpur. Kekejian kaum Farisi terhadap Yesus menggusarkan hati Simon dari Kirene hingga akhirnya dia berseru, “Jika kalian terus bersikap brutal seperti ini, aku akan melemparkan salib ini dan tidak mau memikulnya lagi. Kalian dapat memaksaku hanya setelah kalian melangkahi mayatku terlebih dulu.”


Yesus Jatuh Kelima Kali Ditopang Simon dari Kirene

Ketika arak-arakan Yesus tiba di jalanan dengan  tiga cabang yakni  ke arah Barat Daya menuju Betlehem melalui lembah Gihon. Lalu arah Selatan menuju Emaus, Joppa dan  ke Kalvari yang berakhir di pintu gerbang  menuju ke Bethsur. Pada jalanan itu, banyak orang ada dekat sana sambil menyaksikan peristiwa yang sedang terjadi. Tampak petugas telah mengikatkan suatu papan pengumuman pada sebuah tonggak yang berdiri di awal jalan menuju Kalvari, memaklumkan kepada siapa saja yang lewat bahwa Yesus dan kedua penyamun akan segera dihukum mati. Sekelompok perempuan bergerombol menangis dan meratap. Banyak di antara mereka menggendong anak-anak kecil dalam pelukan. Sebagian besar adalah para gadis dan para perempuan dari Yerusalem yang mendahului arak-arakan. Sebagian kecil lainnya berasal dari Betlehem, Hebron dan daerah-daerah sekitarnya yang datang untuk merayakan Paskah.

Sesampai di jalanan bercabang tiga itu, Yesus nyaris jatuh lagi. Akan tetapi Simon dari Kirene bergegas menopang yang membuat Yesus tersandar pada tubuhnya. Ketika para perempuan dan anak-anak melihat keadaan Yesus demikian, mereka menangis histeris sambil meratap.   Yesus berpaling kepada mereka dan berkata, “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Oleh karena situasi demikian, arak-arakan akhirnya berhenti sejenak.

Yesus Jatuh Keenam dan Ketujuh kali

Ketika iring-iringan tiba di suatu jalanan menikung tajam ke Selatan, Yesus tersandung dan jatuh (keenam). Jatuhnya sungguh parah. Kendati sudah terjatuh dan tak berdaya, tetapi algojo pembantu tetap memukul Yesus guna memaksaNya bangkit berdiri.  

Menyaksikan Yesus jatuh dan sikap kasar dari para algojo, Simon dari Kirene dengan rasa dongkol tanpa menghiraukan tubuhnya sendiri yang lelah, memohon kepada algojo agar dia dapat membantu Yesus memikul salib lagi. Akan tetapi para algojo pembantu memakinya lalu mengusir Simon pergi. Simon memilih bergabung dengan kelompok para murid. 

Yesus pun bangkit dan melanjutkan perjalanan ke Kalvari. Segera sesudah tiba di puncak Kalvari, kira-kira pukul dua belas kurang seperempat Yesus yang sudah kehabisan tenaga dengan beban salib di pundakNya jatuh terkapar lagi (ketujuh).

Para algojo yang tak berperikemanusiaan menyeret Yesus ke atas menggunakan tali-temali yang mereka ikatkan sekeliling pinggangNya, lalu mereka melepaskan ikatan lengan salib dan melemparkan palang itu ke atas tanah. Para algojo pun berseru dengan nada mengejek,“Raja yang Mahakuasa, kami hendak mempersiapkan tahta bagi baginda.”

Ketika tiba di Kalvari, para algojo memerintahkan agar para pekerja dan anak-anak lelaki yang membawa peralatan eksekusi segera mendahului. Kaum Farisi yang datang dengan menunggang kuda, langsung mengambil jalan menuju sisi Timur Kalvari. 

Dalam kondisi sempoyongan, Yesus dipaksa algojo untuk segera membaringkan diri di atas salib. Tujuannya adalah para algojo dapat mengukur serta menandai titik-titik untuk kedua tangan dan kakiNya. Di tengah situasi itu, kaum Farisi tiada henti-hentinya mencemooh Yesus. Ketika segala pengukuran telah selesai, mereka menggiring Yesus ke sebuah gua yang terdapat dalam bukit karang. Gua itu dulunya biasa dipergunakan sebagai tempat penyimpanan. Algojo membuka pintunya, mendorong Yesus masuk dengan hebatnya. Atas dorongan itu membuat Yesus mengerang kesakitan, segera pula mereka menutup pintu gua dan menempatkan penjaga-penjaga di depannya. 

Para algojo pembantu melanjutkan persiapan untuk penyaliban.

Dari puncak Kalvari terlihat pemandangan yang indah atas seluruh kota Yerusalem. Puncak Kalvari bentuknya melingkar. Sekelilingnya dibentengi tembok yang rendah dengan lima pintu masuk yang terpisah. Pada bagian tengah puncak bukit merupakan area yang agak tinggi. Tingginya sekitar dua kaki. Guna mencapai puncaknya orang harus mendaki dua sampai tiga langkah

Para algojo menggali lubang-lubang untuk ketiga salib di puncak bukit Kalvari. Lubang yang diperuntukkan bagi kedua penyamun dibuat satu di sebelah kanan, dan satu di sebelah kiri lubang yang diperuntukkan bagi salib Yesus. Kedua lubang itu lebih rendah dan lebih kasar buatannya daripada lubang salib Yesus. 

Lalu algojo menggotong salib Yesus ke tempat di mana hendak disalibkan dan menempatkannya dengan posisi sedemikian rupa hingga salib dapat dengan mudah jatuh masuk ke dalam lubang yang telah dipersiapkan. algojo mengikatkan lengan salib erat-erat ke badan salib, memakukan papan di bagian bawah sebagai tumpuan kaki, membuat lubang-lubang untuk paku, serta membuat lekukan-lekukan di badan salib pada bagian-bagian yang akan menyangga kepala dan punggung Yesus. Tujuannya agar tubuh Yesus dapat menempel pada salib. Dengan posisi demikian memungkinkan penderitaan lebih panjang. Apabila berat seluruh tubuh Yesus dibiarkan bertumpu pada kedua tangan, maka akan cepat terkoyak dan kematian akan datang lebih cepat. Para algojo memancangkan pula potongan-potongan kayu ke tanah, agar salib dapat berdiri tegak. Begitu pula persiapan lainnya untuk untuk penyaliban kedua penyamun. 

By. Matheus Antonius Krivo



Senin, 18 Agustus 2025

Simon dari Kirene, Veronika dan Yesus Jatuh untuk Ketiga Kalinya (Kronologi 11)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Bersama Simon dari Kirene, Veronika dan Jatuh pada jalan salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXXIII & XXXIV“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Simon dari Kirene dan Yesus Jatuh Ketiga Kalinya

Ketika arak-arakan tiba di sebuah bangunan melengkung yang berhadapan dengan alun-alun di mana tiga jalan berakhir, Yesus tersandung sebuah batu besar yang ada di tengah jalan. Salib tergelincir dari pundakNya sehingga Dia jatuh terkapar di atas batu. Jatuh itu membuat Yesus sama sekali tak berdaya untuk bangkit berdiri.  Melihat kondisi itu, kaum Farisi berteriak kepada para prajurit, “Kita tak akan dapat membawaNya ke tempat eksekusi dalam keadaan hidup, jika kalian tidak mendapatkan seseorang untuk memanggul salib-Nya.” Saat itulah Simon dari Kirene, sedang berjalan lewat, bersama ketiga anaknya. Simon adalah seorang tukang kebun, yang hendak pulang ke rumah setelah bekerja di suatu taman dekat tembok sebelah Timur kota. Simon membawa sekantong potongan ranting tanam-tanaman. 

Melihat Simon lewat, para prajurit segera menahannya dan memerintahkannya untuk membantu Yesus memanggul salib. Pada mulanya Simon menolak, tetapi segera terpaksa taat, meskipun anak-anaknya menangis dengan ribut karena takut. Kepada anak-anak yang menangis beberapa perempuan yang menyertai arak-arakan menenangkan serta menjaga mereka. Simon teramat marah, dan dengan hebat mengungkapkan kekesalan hatinya karena dipaksa berjalan dengan seorang yang keadaannya begitu hina, dekil dan penuh sengsara; tetapi Yesus meneteskan airmata dan menatap padanya dengan tatapan surgawi yang begitu lemah lembut sehingga hatinya tersentuh. Bukannya terus menunjukkan kedongkolan hatinya, malahan Simon membantu Yesus bangkit, sementara para algojo mengikatkan satu sisi lengan salib ke atas pundaknya. Simon berjalan di belakang Yesus, dengan demikian banyak meringankan Yesus dari beban salib yang berat. 

Ketika segala sesuatunya telah siap, arak-arakan pun bergerak maju kembali. Simon seorang yang kekar perawakannya, usianya sekitar empatpuluh tahun. Anak-anaknya mengenakan jubah dari bahan yang berwarna-warni. Dua yang tertua, Rufus dan Aleksander, di kemudian hari menggabungkan diri dengan para murid Yesus. Anak ketiga jauh lebih kecil, tetapi beberapa tahun sesudahnya pergi untuk tinggal bersama Santo Stefanus. 

Yesus Berjumpa  dengan Serafiah /Veronika

Ketika arak-arakan telah maju kurang lebih dua ratus langkah dari tempat di mana Simon mulai membantu memanggul salib Yesus, dari sebuah rumah di sebelah kiri jalan,  pintunya terbuka dan keluarlah seorang perempuan dewasa berpenampilan anggun, sambil menggandeng seorang anak perempuan berumur sekitar 9 tahun, dan melangkah pasti menuju arak-arakan. Nama perempuan itu adalah Serafia.  Serafia adalah isteri Sirakh, salah seorang anggota sidang Bait Allah. Di kemudian hari, Serafia dikenal sebagai Veronica, sebuah nama yang diambil dari kata “vera icon” (gambar asli), guna mengenangkan tindakannya yang gagah berani pada hari itu.

Serafia membawa anggur harum penuh sedap, untuk dipersembahkannya kepada Yesus, guna sedikit menyegarkan dahaga dalam perjalanan sengsara menuju Kalvari. Serafiah mengenakan sehelai kerudung besar yang tergantung pada lengannya. Sementara gadis kecil berusaha menyembunyikan kantong anggurnya ketika iring-iringan datang mendekat. Barisan arak-arakan bagian depan berusaha mendorong Serafiah mundur, tapi Serafiah terus maju menerobos khalayak ramai, para prajurit, para prajurit pembantu, hingga tiba pada Yesus. Di depan Yesus, Serafiah berlutut dan mengulurkan kerudung sembari berkata, “Ijinkanlah hamba menyeka wajah Tuhanku.” Yesus menyambut kerudung dengan tangan kiri, menyeka wajahNya yang berlumuran darah, lalu mengembalikannya seraya mengucapkan terima kasih. Serafia mencium kain itu dan menyimpannya di bawah mantolnya. Gadis kecil berupaya menyerahkan anggur, tetapi para prajurit tidak mengijinkan Yesus meminumnya. 

Tindakan Serafia yang nekad itu membuat para prajurit terpaku, mengakibatkan kelengangan sesaat. Melihat itu kaum Farisi dan para prajurit amat murka, bukan hanya karena jeda sesaat, tapi  karena penghormatan yang disampaikan kepada Yesus. Melihat situasi itu mereka melampiaskan amarah dengan menghajar Yesus. Ketika telah usai aksinya, Serafia bergegas kembali ke rumahnya.

Begitu tiba di rumah, Serafia meletakkan begitu saja kerudung  di atas meja, sementara dia sendiri jatuh berlutut nyaris tak sadarkan diri. Tak lama berselang seorang lelaki yang merupakan sahabatnya  masuk ke rumah dan mendapati Serafia sedang berlutut  dengan gadis kecil menangis di sisinya. Sahabat itu begitu  terperanjat mendapati wajah Yesus penuh darah tergambar di atas kerudung.  Sahabat lelaki itu membangkitkan Serafia dan menunjuk ke arah kerudung. Melihat itu Serafia bersujud di hadapan kerudung seraya berseru dengan air mata berderai, “Sekarang, sungguh aku harus menyerahkan segala-galanya dengan hati bahagia, sebab Tuhan-ku telah berkenan memberiku kenangan akan DiriNya.” 

Tekstur kerudung ini terbuat dari wol yang sangat baik mutunya. Panjangnya tiga kali lebarnya. Kerudung biasanya dikenakan sebagai penutup bahu. Kebiasaan kaum Yahudi adalah memberikan kerudung kepada mereka yang sedang dilanda duka, berbeban berat atau sakit, agar mereka dapat menyeka wajahnya. Tentunya tindakan memberi kerudung mengungkapkan simpati atau belas kasihan. Serafiah  menyimpan kerudung itu hingga akhir hayatnya. Dia memasangnya di atas kepala tempat tidurnya. Setelah Serafiah meninggal, kerudung itu diserahkan kepada Bunda Maria,lalu mewariskannya kepada para rasul, dan kemudian kepada Gereja.

Serafia dan Yohanes Pembaptis adalah saudara sepupu. Ayah Serafia adalah saudara kandung Zakharia. Ketika Yoakim dan Anna membawa Santa Perawan, pada umur tiga tahun tiga bulan ke Yerusalem untuk diserahkan sebagai perawan Bait Allah, mereka menginap di rumah Zakharia yang letaknya dekat  pasar ikan. Usia Serafia lima tahun lebih tua dari Bunda Maria. Serafiah juga hadir pada acara pertunanganan Yusuf dan Maria  di Yerusalem. Serafia juga merupakan sanak dari Simeon tua, yang menubuatkan Kanak-kanak Yesus ketika dipersembahkan di Bait Allah.  Serafia dibesarkan bersama kedua putera Simeon tua.  Ketika Yesus berusia dua belas tahun dan ‘tinggal’ di Yerusalem tidak kembali ke Nazaret bersama Yusuf dan Maria, Serafialah yang masih lajang membawakan makanan untuk Yesus setiap hari di sebuah penginapan kecil, sekitar seperempat mil jauhnya dari Yerusalem.  

Serafia menikah dengan Sirakh putera Susana yang saleh. Sirakh adalah salah seorang anggota Sanhedrin. Pada mulanya Sirakh amat menentang Yesus. Serafiah isterinya harus menanggung banyak derita karena keterikatannya pada Yesus dan Bunda Maria. Berkat nasehat Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, membuat Sirakh sedikit memahami dan  mengijinkan Serafia untuk mengikuti Yesus. Ketika Yesus diadili secara tidak adil di istana Kayafas, Sirakh bergabung dengan Yusuf dan Nikodemus yang mengupayakan pembebasan bagi Yesus. Baik Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan Sirakh akhirnya mengundurkan diri dari jabatan mereka dalam sidang.

Serafiah  pula yang menebarkan kerudungke atas tanah, ketika arak-arakan Yesus memasuki Kota Yerusalem. Kerudung yang sama itu pula,dia persembahkan kepada Yesus dalam arak-arakan menuju Kalvari. 

By. Matheus Antonius Krivo