Selasa, 19 Agustus 2025

Yesus Ditangkap (Kronologis 3)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus di perhadapkan kepada Hanas. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi VI. “Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yesus Ditangkap

Persiapan Penangkapan  dan Yudas Berkhianat 

Yudas memilih berkhianat karena sudah lelah mengikuti Yesus Sang Guru pergi kemana-mana, menghabiskan banyak waktu dan terancam keselamatan lantaran Yesus telah membuat pertentangan di tengah masyarakat Yahudi. Selain itu Yudas agak dongkol pada Maria Magdalena yang menyediakan minyak Narwastu untuk mengurapi kaki Yesus. Minyak tersebut mahal harganya. 

Pada titik itu, Yudas mulai membangun relasi dengan utusan-utusan Kaum Farisi dan Saduki. Para utusan kaum Farisi selalu membisikan kepadanya tentang kejahatan-kejahatan yang dibuat Yesus yang menimbulkan pertentangan. Sekaligus mereka ingin menghentikan semuanya itu dengan cara menangkap Yesus. Terhadap berbagai informasi itu, Yudas ingin memanfaatkannya untuk mendapatkan sesuatu dari kaum Farisi dan Saduki yang sedang melawan Yesus karena pengajaranNya.

Pada hari-hari terakhir, pembicaraan Yudas dengan Kaum Farisi dan Saduki sudah masuk pada tahap memastikan momentum untuk menangkap Yesus. Sejumlah informasi penting ditanyakan kepada Yudas,  “Apakah kita akan dapat menangkap-Nya? Adakah orang-orang bersenjata bersama-Nya?” Yudas pun menjawab: “Tidak, Ia seorang diri bersama kesebelas rasul. Dia sedang amat berduka, dan kesebelas rasul adalah orang-orang yang penakut.”  Dalam komunikasi tersebut, Yudas dengan kepentingannya meyakinkan mereka bahwa  saat yang tepat adalah sekarang untuk menangkap Yesus. Kalau wakut yang lain kemungkinan dia tidak lagi memiliki kuasa untuk menyerahkan Yesus ke dalam tangan mereka. Yudas juga sudah meyakini bahwa dia barangkali tidak akan pernah kembali kepada kelompknya Yesus. Oleh karena beberapa hari belakangan para rasul yang lain dan Yesus sendiri mulai menaruh curiga kepadanya. Kalau kembali bisa saja mereka akan membunuhnya. Begitu juga, Yudas meyakinkan mereka bahwa apabila mereka tidak segera menangkap Yesus, Yesus akan meloloskan diri dan kembali dengan bala tentara dari para pengikut-Nya, dan mengangkat diri sebagai raja. 

Oleh pernyataan Yudas dan ancamannya memungkinkan kaum Farisi dan Saduki serta Sanhendrin bersekongkol untuk memberi Yudas upah dalam upayanya memuluskan penangkapan Yesus. Yudas  diberi upah tigapuluh keping uang perak. Kepingan-kepingan uang ini berbentuk persegiempat, dengan lubang-lubang di sisi-sisinya, diikat menjadi satu menggunakan cincin-cincin dalam suatu ikatan serupa rantai. Sesungguhnya Yudas kecewa dengan upah yang diterimanya karena terlalu mahal darah Yesus Sang Guru yang harus dikorbankan. Meski  kecewa tapi Yudas tidak bisa lagi menolak skenario dan konspirasi Kaum Farisi, Saduki dan para imam kepala untuk menangkap dan membunuh Yesus. Ada tiga orang mendampingi Yudas ketika pergi ke ruangan saat para Algojo Bait Allah berkumpul. Di sana kepada Yudas dipastikan kesiapan pasukan yang akan melakukan penangkapan Yesus. Ketika Yudas mengikuti Perjamuan Terakhir, ada seorang utusan yang bertindak sebagai mata-mata menyertainya guna memastikan apakah Yesus sudah berangkat dari tempat perjamuan menuju Taman Getsemani.

Kayu Salib Dipersiapkan

Ketika Yudas telah menerima upah, seorang Farisi pergi keluar dan menyuruh tujuh hamba untuk mengambil kayu yang akan dipergunakan sebagai Salib bagi Yesus, seandainya Dia berhasil dihadapkan ke pengadilan. Mereka melakukan itu karena keesokan harinya tak akan ada cukup waktu mempersiapkan mengingat segera dimulainya perayaan Paskah. Para hamba kaum Farisi mendapatkan kayu dari suatu tempat sekitar tigaperempat mil jauhnya,  dekat sebuah tembok tinggi, di mana terdapat banyak balok-balok kayu lainnya milik Bait Allah. Para hamba menyeretnya ke suatu lapangan yang terletak di belakang pengadilan Kayafas. Balok kayu utama Salib berasal dari sebatang pohon yang dulunya tumbuh di Lembah Yosafat, dekat Sungai Kidron. Kayu itu tumbang melintasi aliran sungai, sekalian dipergunakan sebagai semacam jembatan penyeberangan. Ketika Nehemias menyembunyikan api suci dan bejana-bejana suci di kolam Betsaida, balok itu ditinggalkan di sana bersama dengan balok-balok kayu lainnya. Salib terdiri dari lima potong kayu. 

Mereka pun mempersiapkan kayu-kayu balok itu untuk menjadi salib. Pengerjaan salib dilakukan ketika sepanjang malam sejak Yesus ditangkap. Para Algojo juga mempersiapkan salib untuk kedua penyamun. Para pekerja sangat mengomel saat mengerjakan salib karena dikerjakan sepanjang malam. Omelan mereka sempat didengar oleh Maria Ibu Yesus sendiri dan para perempuan yang menyertainya ketika berada di area pengadilan Kayafas.

Para pekerja cukup menghadapi kesulitan dalam mengerjakan salib untuk Yesus. Setiap saat mereka harus mengambil kayu-kayu baru, sebab selalu tidak cocok. Ada pula yang pecah dan retak. Olehnya terdapat potongan-potongan kayu yang berbeda dipasangkan pada salib. 

Persiapan Akhir Dan Perjalanan Menangkap Yesus

Yudas setelah meninggalkan Perjamuan bersama Yesus langsung menemui komplotan musuh Yesus untuk memastikan persiapan akhir menuju penangkapan di Bukit Zaitun. Yudas meminta agar hanya sekelompok kecil orang saja yang diutus menyertainya untuk melakukan penangkapan. Jika tidak, maka para murid Yesus yang berjaga akan merasa curiga dan terjadi huru-hara. Terhadap strategi Yudas ini, kaum musuh Yesus, menempatkan tiga ratus orang di gerbang-gerbang kota dan di jalan-jalan Ophel, sebelah Selatan Bait Allah, dan di sepanjang Lembah Millo hingga ke rumah Hanas, dan di atas Bukit Sion. Penempatan orang-orang tersebut sebagai siaga jika diperlukan untuk mengirimkan bala bantuan. Yudas menempuh strategi itu karena segenap rakyat di Ophel adalah pengikut Yesus. Selain itu Yudas juga meminta mereka agar berhati-hati, supaya jangan sampai Yesus meloloskan diri. Kalau sudah tertangkap Yudas menyarankan agar Yesus dibelenggu dengan rantai dan mempergunakan bentuk-bentuk magis lainnya sehingga mencegah Yesus meloloskan diri. Mendengar permintaan Yudas, pasukan musuh Yesus menyatakan dengan acuh tak acuh, “Sekali Dia ada dalam tangan kami, kami tak akan membiarkan-Nya lolos.”

Lebih lanjut Yudas menyusun skenario hendak ke Taman Getsemani. Yudas memasuki taman mendahului pasukan, lalu memeluk dan menyampaikan salam kepada Yesus, seakan-akan dia kembali kepadaNya sebagai sahabat dan murid. Lalu, para Algojo menyerbu dan menangkap Yesus. Yudas melakukan seperti itu supaya orang mengira bahwa para Algojo berada di Taman Getsemani secara kebetulan. Jadi, ketika Algojo  muncul, dia dapat melarikan diri seperti para murid lainnya dan tidak akan terdengar lagi kabar tentangnya. Ia berpikiran, bahwa mungkin suatu keributan akan terjadi, dan bahwa mungkin para rasul akan mempertahankan diri, sementara itu Yesus berjalan lewat di tengah-tengah para musuhNya, seperti yang telah sering Dia lakukan sebelumnya. 

Gerombolan yang menyertai Yudas terdiri dari dua puluh orang Algojo penjaga Bait Allah dan kalangan militer yang ada di bawah perintah Hanas dan Kayafas. Mereka berpakaian mirip dengan Algojo Romawi, dengan topi helm (morion), dan mengenakan tali pengikat yang tergantung di sekeliling paha mereka. Pasukan yang bertugas berjenggot panjang, berbeda dengan  para Algojo Romawi di Yerusalem yang hanya berjambang dan mencukur janggut dan kumis. Anggota pasukan bersenjatakan pedang, sebagian di antaranya  diperlengkapi dengan tombak. Mereka juga membawa tongkat,  lentera dan suluh. Tetapi, ketika berangkat mereka hanya menyalakan satu alat penerang saja yaitu suluh.

Yudas berangkat ke Taman Getsemani disertai dengan dua puluh Algojo saja. Namun dari jarak tertentu, dia diikuti lagi oleh empat orang Algojo pembantu biasa yang membawa tali-temali dan rantai. Sesudah gerombolan Yudas dan pasukan, ikut pula enam orang utusan yang merupakan orang-orang yang selalu berkomunikasi dengan Yudas sebelumnya. Di antaranya adalah imam kepercayaan Hanas, seorang anak buah Kayafas, dua orang dari kaum Farisi, dan dua orang lagi dari kalangan Saduki dan Herodian. Keenam orang ini adalah kaki-tangan Hanas dan Kayafas, bertindak dalam kapasitas sebagai mata-mata.

Selama perjalanan para Algojo bersikap bersahabat terhadap Yudas hingga tiba di tempat di mana jalan memisahkan Taman Zaitun dari Taman Getsemani. Setelah sampai di tempat itu, mereka menolak membiarkan Yudas maju sendirian dan berubah sikap. Mereka bertindak dengan penuh kekasaran. Yudas tetap menghendaki agar dia maju terlebih dahulu dan berbicara kepada Yesus dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa, kemudian barulah mereka maju dan menangkap Yesus. Dengan demikian seakan-akan ia tak ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi. Tetapi para Algojo menjawab dengan sengit, “Tidak demikian, engkau tidak akan lepas dari tangan kami sebelum orang Galilea itu ada dengan aman dalam genggaman kami.”

Yesus Ditangkap

Gerombolan  melihat kedelapan rasul yang lain bergegas datang untuk menggabungkan diri dengan Yesus ketika mendengar keributan yang terjadi. Para Algojo langsung memanggil keempat Algojo pembantu, yang berada tidak jauh dari mereka bergabung. Ketika itu pula, dalam terang sinar rembulan, Yesus dan ketiga rasulNya pertama kali melihat pasukan bersenjata itu. Petrus bermaksud melawan mereka dengan kekuatan senjata. Ia mengatakan: “Tuhan, kedelapan yang lain sudah dekat, marilah kita menyerang mereka.” Tetapi Yesus memintanya agar tetap tenang, lalu Petrus berbalik dan mundur beberapa langkah. Saat itu, empat murid muncul dari taman dan bertanya apakah yang telah terjadi. Yudas hendak menjawab, tetapi para Algojo menyela dan tidak memperbolehkannya berbicara. Keempat murid itu adalah Yakobus Muda, Filipus, Thomas dan Nataniel. Nataniel, yang adalah putera Simeon Tua, bersama beberapa orang murid lainnya telah menggabungkan diri dengan kedelapan rasul di Getsemani. Sementara para murid yang lain maju mundur dengan was-was, siap melarikan diri begitu ada isyarat.

Yesus menghampiri para Algojo dan bertanya dalam suara yang tegas dan jelas, “Siapakah yang kamu cari?” Para pemimpin menjawab, “Yesus dari Nazaret.” Yesus berkata kepada mereka, “Akulah Dia.” Baru saja Dia mengucapkan kata-kata itu, mereka semuanya jatuh ke tanah. Yudas, yang berdiri dekat mereka, tercengang dan maju menghampiri Yesus, namun Yesus menggamit lengannya dan berkata: “Sahabat, dari manakah engkau?” Yudas dengan terbata-bata mengatakan sesuatu tentang urusan yang harus dikerjakannya. Sementara itu, para Algojo bangkit kembali dan mereka menghampiri Yesus, tetapi masih menunggu isyarat ciuman. Yudas telah berjanji untuk menyalami Guru-nya dengan ciuman agar mereka dapat mengenali-Nya. Sementara Petrus dan para murid yang lain mengelilingi Yudas dan mencercanya dengan macam-macam makian, seraya menyebutnya pencuri dan pengkhianat. Yudas berusaha meredakan amarah rasul-rasul dengan segala macam dusta, tetapi usahanya sia-sia belaka apalagi sedang  dikelilingi para Algojo.

Lalu Yesus bertanya lagi, “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata Yesus, “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Dengan kata-kataNya itu, para Algojo jatuh ke tanah untuk kedua kalinya. Mereka semua gemetaran. Para rasul mengelilingi Yudas dan meluapkan amarah mereka atas pengkhianatannya. Yesus berkata kepada para Algojo, “Bangkitlah,” dan mereka pun bangkit.  Para Algojo  semuanya diam ketakutan. Lalu, mereka menyuruh Yudas untuk segera memberikan isyarat yang telah mereka sepakati, sebab perintah yang disampaikan kepada mereka adalah untuk menangkap Dia seorang, yang dicium Yudas. Yudas menghampiri Yesus dan memberi-Nya ciuman, seraya berkata, “Salam Rabbi.” Yesus menjawab, “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Segera para Algojo mengepung Yesus, dan para Algojo pembantu menangkapNya. Yudas hendak melarikan diri, tetapi para rasul mencegahnya. Mereka menyerang para Algojo sambil berseru, “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”  Petrus, yang paling tidak sabaran menghunus pedang dan menetakkannya kepada Malkhus, hamba imam besar yang hendak menghalau para rasul, sehingga putus telinga kanannya. Malkhus jatuh ke tanah dan suatu kegemparan terjadi.

Ketika Petrus menyerang Malkhus, Yesus berkata kepadanya, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Dia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?” Lalu kata Yesus, “Biarkan Aku menyembuhkannya” dan Yesus pun menghampiri Malkhus, menjamah telinganya, berdoa dan telinganya pun disembuhkan. Para Algojo dan Algojo pembantu serta keenam orang Farisi, sama sekali tidak tergerak oleh mukjizat yang terjadi. Mereka terus melontarkan kata-kata penghinaan kepada Tuhan kita dan berkata kepada mereka yang berdiri dekat sana, “Tipu muslihat iblis. Kuasa sihir membuat telinga tampak seolah-olah terputus, dan sekarang kuasa sihir yang sama membuatnya tampak seolah-olah disembuhkan.”

Ketika para Algojo pembantu telah mencengkeram Yesus dan hendak mengikat-Nya,Yudas melarikan diri segera sesudah dia memberikan ciuman kepada Yesus. Akan tetapi Yudas berpapasan dengan beberapa murid Yesus yang menghujaninya dengan caci-maki. Melihat itu  enam orang Farisi datang menyelamatkannya dan berhasil melarikan diri.

Lalu, Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saatnya bagi kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” Orang-orang Farisi memerintahkan agar Ia diikat lebih kuat lagi, dan mereka menjawab dengan nada menghina, “Ah! Engkau tak dapat menaklukkan kami dengan sihir-Mu.” Ketika Yesus diikat dan dengar kasarnya perlakuan mereka kepada Yesus, para murid semuanya melarikan diri.

Para Algojo pembantu yang mengikat Yesus dengan sangat brutal, berbadan pendek, kekar, dan lincah, kulit kuning kemerahan, kaki-kaki telanjang, serta tangan dan leher polos tanpa aksesoris.

Kedua tangan Yesus diikat, pergelangan tangan kanan diikatkan ke bawah siku kiri, dan pergelangan tangan kiri diikatkan ke bawah siku kanan. Mereka melingkarkan pada pinggang Yesus semacam ikat pinggang dengan ujung-ujung besi pada permukaannya dan membelenggu kedua tangan-Nya. Di leher-Yesus mereka mengenakan ban leher yang dipasangi ujung-ujung besi. Pada ban leher ini digantungkan dua selempang kulit, yang disilangkan di dada-Nya seperti stola dan diikatkan ke ikat pinggang. Lalu, mereka mengikatkan empat tali tampar ke bagian-bagian ikat pinggang yang berbeda, dengan tali-tali ini mereka menyeret Yesus ke sana kemari dengan secara keji. 

Orang-orang Farisi  menyalakan suluh-suluh baru dan arak-arakan pun mulai berjalan.Sepuluh Algojo berjalan di depan, lalu, dibelakangnya keempat Algojo pembantu yang memegang tali dan menyeret Yesus, orang-orang Farisi dan sepuluh Algojo lagi berjalan di barisan belakang. Para murid telah melarikan diri. Tertinggal hanyalah Yohanes. Mula-mula Yohanes mengikuti dari belakang, tapi kemudian orang Farisi mengejar hendak menangkapnya, Yohanes pun kemudian lari menyelamatkan diri dengan melepaskan jubahnya.

Pasukan yang menyeret Yesus melintasi jalanan dengan menyeberang jembatan Sungai Kidron. Sebelum tiba di jembatan Yesus sudah dua kali jatuh karena perlakuan yang kasar dari para Algojo pembantu.Persis di tengah jembatan, Yesus dihajar, terlempar dan tercebur ke dalam air. Dari dalam air, para Algojo menarik tubuh Yesus ke atas jembatan menggunakan tali temali yang melilit tubuhNya. Di ujung jembatan, Yesus masih jatuh terkapar lagi karena hajaran para Algojo pembantu. Sepanjang perjalanan itu para Algojo pembantu terus memukul Yesus dengan kasar. Dari Sungai Kidron gerombolan berlangkah melintasi Ophel yang terletak di sebelah Selatan Bait Suci. Ketika memasuki gerbang Ophel, Yesus terjatuh lagi.

Warga Ophel yang mendengar huru hara sempat  keluar berlarian menuju pintu gerbang kota guna menanyakan penyebab timbulnya kegaduhan. Tetapi para Algojo menyambut mereka dengan kasar dan memerintahkan untuk segera pulang ke rumah. Kepada warga Ophel para Algojo memberitahu mereka, “Kami baru saja menangkap Yesus, nabi palsu kalian. Dia yang telah menipu kalian mentah-mentah. Para imam besar akan segera mengadiliNya, dan Ia akan disalibkan.” Jerit tangis pilu terdengar di mana-mana. Para perempuan dan anak-anak yang malang berlarian kian kemari, menangis sembari meremas-remas tangan mereka.  Para Algojo mendorong warga Ophel ke samping, memukul, dan memerintahkan agar pulang ke rumah, sambil  terus menhujat, “Bukti apa lagi yang kita perlukan? Bukankah tingkah laku orang-orang ini nyata-nyata menunjukkan bahwa orang Galilea itu memicu pemberontakan?”

Lebih lanjut warga Ophel terus menangisi Yesus dan bersimpati kepadaNya, sambil meminta Algojo untuk membebaskan Yesus.“Bebaskan Dia bagi kami, bebaskan Dia! Siapa lagi yang akan menolong kami, siapa lagi yang akan menghibur kami, siapa yang akan menyembuhkan penyakit kami?” Meski demikian Algojo pembantu yang beringas terus menyeret Yesus ke sana-kemari, menghajarNya dengan tongkat mereka.

Dari Ophel, pasukan menuruni bukit dan memasuki gerbang kota. Lalu berlangkah ke arah Barat menuruni jalanan yang curam menuju Millo. Kemudian dari menuju ke Selatan dan menghantar Yesus  ke kediaman Hanas. Sepanjang perjalanan dari Taman Getsemani menuju kediaman Hanas, Yesus jatuh tujuh kali.

Petrus dan Yohanes mengikuti Yesus dari kejauhan  hingga masuk ke Balai Pengadilan Kayafas. 

Catatan:

Warga Ophel  adalah kelompok masyarakat biasa yang hidup dengan menjadi buruh harian. Sebagiannya menjadi buruh kasar di Bait Allah. Warga Ophel sangat mengenal Yesus dari Nazareth karena mereka mempercayaiNya dengan aneka mujizat penyembuhan. Warga Ophel merupakan pengikut Yesus yang setia. Yesus telah memberikan penghiburan, pengajaran, menolong dan menyembuhkan berbagai penyakit dari banyak warga Ophel yang miskin dan pekerja kasar. Yesus selalu singgah di Ophel sepanjang perjalananNya dari Betania ke Hebron. Terakhir ketika Yohanes Pembaptis  baru meninggal karena disuruh bunuh oleh Herodes atas kehendak Herodias.

By. Matheus Antonius Krivo



Tidak ada komentar:

Posting Komentar