Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXXVIII, XXXIX.XLI,XLII,XLIII, XLIV,XLV,XLVI“Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/ yesaya,” Alkitab Gereja Katolik dan Wikipedia bebas dalam bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.
Ketika segala persiapan untuk penyaliban telah selesai, keempat algojo pembantu pergi ke gua dan langsung menyeret Yesus dengan sikap brutal. Ketika Yesus keluar dari gua, khalayak ramai yang menonton meneriakkan kata-kata cemooh. Ketika Yesus dibawa keluar kembali, sejumlah perempuan yang menyertai Maria Bunda Yesus berupaya menyerahkan sejumlah uang kepada seorang laki-laki, sambil memohonnya agar memberikan uang kepada para algojo pembantu asalkan mereka mengijinkan Yesus meneguk anggur yang telah dipersiapkan Veronica. Akan tetapi para algojo yang menerima anggur, bukannya memberikan kepada Yesus, tapi mereka meneguknya sendiri.
Pakaian Yesus Dilucuti
Para algojo segera melucuti pakaian dari tubuh Yesus. Mereka melucuti mantol, ikat pinggang di mana tali-temali diikatkan, dan ikat pinggang sendiri. Ketika mendapati bahwa tidak bisa melepaskan jubah wol (ditenun oleh Bunda Maria), dari kepala Yesus oleh karena terhalang mahkota duri yang tertancap di kepala, para algojo merenggut dengan kasar mahkota yang duri, sehingga merobek kembali setiap luka. Usai mengeluarkan mahkota duru, para algojo mencengkeram jubah dan mengoyakkannya dengan kasar di atas kepala Yesus yang penuh luka dan berdarah.
Yesus berdiri di hadapan para musuh yang bengis, dalam keadaan telanjang tanpa busana. Tertinggal hanyalah kain penutup bahu pendek yang tergantung pada pundak dan kain linen yang melilit pinggang. Kain penutup bahu yang terbuat dari wol itu tertanam dalam luka-luka. Yesus merasakan betapa sakit mengerikan ketika algojo menarik kain itu dengan kasar. Pada saat itu tubuh Yesus sama sekali lemah akibat luka-luka dan kehilangan begitu banyak darah. Yesus seakan tidak mampu lagi menyangga tubuhNya sendiri. Sekujur tubuh penuh luka menganga, bahu dan punggung terkoyak hingga ke tulang-belulangnya. Yesus nyaris jatuh, ketika para algojo menggiringNya ke suatu batu besar guna mendudukkan sesaat. Ketika baru saja Yesus duduk, algojo kembali menancapkan mahkota duri di atas kepalaNya. Lalu algojo menawarkan cuka dan empedu, tetapi Yesus memalingkan wajah-Nya dalam kebisuan.
**Para algojo membawa dua tempayan yang satu berisi cuka dan empedu, sedangkan yang lain berisi campuran anggur, rempah-rempah dan absinth. Minuman dari tempayan kedua yang ditawarkan kepada Yesus.
Yesus Dipaku pada Salib
Setelah beberapa saat Yesus duduk, para algojo kembali memerintahkan Yesus untuk menempatkan di atas salib agar mereka segera memakunya.
Para algojo mencengkeram tangan kanan Yesus, lalu meregangkannya ke lubang paku yang telah dipersiapkan, mengikatkannya erat-erat pada lengan salib menggunakan seutas tali. Seorang algojo berlutut di atas dada, algojo kedua memegangi tangan Yesus agar lurus pada palang salib. algojo ketiga mengambil sebuah paku panjang yang tebal, menekankannya pada telapak tangan dan dengan sebuah palu besi yang besar memalukan paku menembusi daging hingga tembus ke papan salib.
Yesus meneriakkan satu saja erangan, yang dalam dan tertahan, darah pun muncrat memerciki lengan para algojo pembantu. Paku-paku itu sangat besar, ukuran kepalanya sebesar mata uang koin, dan tebalnya setebal ibu jari tangan; ujung-ujung paku menembusi hingga bagian belakang palang salib.
Ketika para algojo telah memakukan tangan kanan, mereka mendapati bahwa tangan kiri tidak mencapai lubang paku yang telah dipersiapkan. Oleh sebab itu algojo melilitkan tali-temali pada lengan kiri, sambil menginjak palang salib kuat-kuat, mereka menarik paksa tangan kiri sekencang mungkin hingga tangan itu mencapai tempat yang telah dipersiapkan. Perlakuan yang mengerikan ini mengakibatkan Yesus merasakan sakit yang tak terperi, dadaNya turun-naik, kedua kaki menekuk tegang. Kemudian seorang algojo berlutut di atas dada Yesus, mengikatkan lenganNya pada lengan salib dan memakukan paku kedua ke tangan kiri. Darah segar muncrat, suara erangan- yang lemah sekali lagi terdengar sayup-sayup di antara suara dentaman palu. Oleh karena kedua lengan Yesus diregangkan secara paksa, sehingga tidak bisa lagi menempel pada lengan salib yang bentuknya curam. Terdapat jarak yang lebar antara lengan dan ketiak.
Para algojo memasang sepotong papan kayu pada bagian bawah badan salib guna kaki Yesus dapat dipakukan. Dengan demikian beban tubuh Yesus tidak akan bertumpu pada kedua tangan yang terkoyak, sekaligus mencegah agar tulang-tulang kaki jangan sampai patah saat dipakukan ke palang salib. Sebuah lubang paku telah dibuat pada papan kayu ketika paku dipalukan menembusi kaki. Tersedia pula lekukan kecil bagi tumit. Hal ini dilakukan agar tangan Yesus tidak terkoyak akibat beban tubuh yang dapat mempercepat kematian. Para algojo menginginkan Yesus mengalami penyiksaan yang lama di atas salib sebelum akhirnya mati.
Sekujur tubuh Yesus telah tertarik ke atas, menegang karena peregangan paksa pada kedua tangan. Ketika mendapati kedua lutut Yesus yang tertekuk, para algojo berusaha meluruskan dan mengikatkan kuat-kuat pada palang salib menggunakan tali-temali. Begitu mendapati bahwa kaki Yesus tidak mencapai papan kayu yang telah dipersiapkan bagi tumpuan kakinya, sejumlah algojo menjadi berang. Sebagian dari algojo mengusulkan agar dibuat lubang-lubang paku bagi paku-paku yang menembusi kedua tangan, sebab teramat sulit memindahkan papan kayu. Akan tetapi sebagian algojo lainnya tidak mau melakukannya, malahan berteriak-teriak, “Dia sendiri tidak akan meregangkan tubuh-Nya begitu rupa, tetapi kita akan membantu-Nya,”. Para algojo mengucapkan itu disertai sumpah-serapah dan kutukan pada Yesus.
Setelah melilitkan tali-temali pada kaki kanan Yesus, para algojo menariknya dengan kencangnya hingga kaki mencapai papan kayu, dan mereka mengikatnya erat-erat. Yesus sungguh merasakan sakit begitu ngeri hingga mengeluarkan kata-kata dari mulutNya, “AllahKu, ya AllahKu”.
Selanjutnya para algojo mengikatkan dada dan kedua lengan Yesus ke palang salib, karena khawatir kalau-kalau kedua tangan terobek karena paku. Lebih lanjut para algojo menumpangkan kaki kiri ke atas kaki kanan, setelah terlebih dahulu melubangi kedua kaki Yesus dengan semacam alat tusuk, sebab kedua kaki-Nya tak dapat dipaku sekaligus bersama-sama. Seorang algojo mengambil sebatang paku yang sangat panjang dan menembuskannya ke kedua kaki Yesus hingga ke palang kayu di bawahnya. Hantaman palu selama penyaliban sebanyak tiga puluh enam kali. Ketika penyaliban Yesus telah selesai, komandan algojo Romawi memerintahkan agar prasasti Pilatus digantungkan di puncak salib.
Salib Yesus Dipancangkan
Kira-kira pukul dua belas lewat seperempat penyaliban Yesus berakhir.Selanjutnya para algojo melilitkan tali-temali ke badan salib dan mengikatkan ujung-ujung tali ke suatu balok panjang yang dipancangkan kuat ke atas tanah. Dengan bantuan tali-temali ini para algojo mengangkat salib. Sebagian dari algojo menahan salib, yang lainnya mendorong kaki salib ke lubang yang telah dipersiapkan. Salib Yesus diangkat tinggi-tinggi, lalu terayun-ayun sejenak di udara dan akhirnya masuk ke dalam lubang dengan suatu hentakan yang hebat. Suara sorak dan teriak cemooh menggema dari khalayak saat menyaksikan salib jatuh dengan dentuman hebat ke dalam lubang. Para algojo pembantu menggeser-geser salib agar menancap kuat ke dalam lubang. Lalu mereka memasang lima pancang sekelilingnya guna menahan salib.
Ketika salib dipancangkan,Yesus mengerang lemah, segala lukaNya terkoyak, darah memancar lagi, tulang-tulang setengah terlepas dari engselnya, saling bertumbukan satu dengan yang lainnya.
Pada saat salib Yesus terpacang ke dalam lubang dengan dentuman hebat, tampak Bunda Maria, Yohanes dan para rasul, para perempuan kudus, dan orang-orang yang bersimpati membungkuk hormat dan menyembah “Sabda yang menjadi daging.” Sambil mengedangkan tangan-tangan seakan mereka memohon pertolongan dari Yang Mahakudus.
Puncak bukit tempat salib Yesus dipancangkan, kira-kira dua kaki lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Olehnya kedua kaki Yesus cukup dekat dengan tanah sehingga para sahabat-Nya dapat menggapai serta menciumnya. Wajah Yesus menghadap ke arah Barat Laut.
Para algojo lalu menyandarkan tangga-tangga ke sisi salib, memanjatnya dan melepaskan tali-temali yang tadinya mereka gunakan untuk mengikatkan tubuh Yesus ke salib sebelum salib dipancangkan. Ketika tali temali dilepaskan darah memancar dan mengalir normal kembali. Saat itu Yesus merasakan sakit yang luar biasa sehingga Dia menundukkan kepala dan seolah-olah mati. Penampakan Yesus ketika di atas Kayu Salib:
wajah sama sekali rusak dan tidak dapat dikenali lagi;
kepala ditudungi mahkota duri menyebabkan Dia tidak dapat mengangkat kepala lagi;
bibir kering kerontang dan setengah terbuka karena kehabisan tenaga;
rambut dan jenggot lengket oleh darah;
dada terkoyak oleh bilur-bilur dan luka-luka;
kedua siku, pergelangan tangan dan pundak bengkak;
tulang-tulang nyaris terlepas dari persendian;
darah terus-menerus menetes dari luka-luka menganga di kedua tangan;
daging pada sekujur tubuh tercabik-cabik begitu rupa hingga nyaris dapat menghitung tulang-tulang rusuk-Nya;
kedua kaki dan lengan Yesus diregangkan paksa nyaris terlepas;
Sekujur tubuh penuh luka lebam berwarna hitam, biru dan berdarah. Darah yang memancar dan menetes pada mulanya berwarna merah, lambat-laun menjadi pucat dan berair.
Pemandangan yang bertolak belakang dengan sosok Yesus, Putera Allah sebelumnya. Warna kulit putih bersih, agak kemerah-merahan dan kecoklatan; dadanya bidang tak berbulu; bahunya lebar, kedua tangan dan kaki berotot; lutut kuat dan keras; kedua tungkai kaki panjang dengan otot-otot kuat; bentuk kaki indah, tangan dan jari-jemari panjang dan lentik, dan meskipun tidak lembut seperti jemari wanita, juga tidak serupa jemari tangan lelaki yang biasa bekerja keras; leher jenjang; kepala serasi; kening lebar dan tinggi; wajah oval; rambut lebat, berwarna coklat keemasan, dengan belahan di tengah dan jatuh tergerai di pundak; jenggot tidak panjang, tetapi lancip dan terbelah di dagu.
Pakaian Yesus Dibagi-bagikan
Usai memancangkan Salib Yesus, para algojo membagi-bagi pakaian Yesus serta membuang undi atasnya. Mantol Yesus, yang sempit di bagian atas dan sangat lebar di bagian bawah, dengan bertali-tali di dadanya. Para algojo mencabut tali-talinya dan menjadi tali-tali lepas, lalu dibagi-bagikan. Hal sama juga dilakukan atas jubah putih yang panjang, ikat pinggang, penutup bahu, dan baju dalam yang sepenuhnya basah oleh darah. Oleh karena tak dicapai kesepakatan atas siapa yang berhak memiliki jubah tak berjahit yang tak dapat disobek ataupun dibagi, para algojo mengeluarkan semacam papan catur yang ditandai dengan figur-figur untuk diundi. Ketika siap melemparkan undi, seorang pesuruh yang diutus Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, menyampaikan kepada para prajurti bahwa ada orang-orang yang bersedia membeli segala pakaian Yesus. Mendengar itu, para algojo mengumpulkannya kembali dan menjualnya dalam satu buntalan. Pakaian Yesus ini kemudian menjadi reliqui dalam Gereja.
Kedua Penyamun yang Disalibkan Mengapiti Yesus
Selama penyaliban Yesus berlangsung, kedua penyamun dibiarkan terbaring di tanah agak jauh dari sana. Kedua tangan mereka diikatkan pada palang salib. Beberapa algojo berjaga di sekitarnya. Adapun tuduhan yang telah terbukti atas mereka adalah pembunuhan terhadap seorang perempuan Yahudi bersama anak-anaknya, sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yoppa. Kedua penyamun ditangkap dalam penyamaran mereka sebagai pedagang kaya, di sebuah benteng di mana Pilatus sesekali tinggal apabila sedang melatih pasukannya. Keduanya telah lama dipenjarakan sebelum dihadapkan ke pengadilan. Penyamun yang berada di sebelah kiri jauh lebih tua dari yang satunya masih lebih muda. Kedua penyamun dikenal dengan nama Dismas dan Gesmas. Penyamun yang baik (lebih tua) disebut Dismas dan yang jahat (lebih muda) disebut Gesmas. Keduanya termasuk dalam gerombolan penyamun yang bersarang di perbatasan-perbatasan Mesir. Di salah satu gua yang dihuni oleh kawanan penyamun inilah Keluarga Kudus tinggal saat melarikan diri ke Mesir, pada waktu pembunuhan Kanak-kanak Suci. Anak malang yang terjangkit kusta, yang serta-merta sembuh saat dibasuh dalam air bekas mandi bayi Yesus, tak lain adalah Dismas. Kemurahan hati ibunya dalam menerima serta memberikan tumpangan kepada Keluarga Kudus telah diganjari dengan kesembuhan puteranya. Dismas sama sekali tak tahu menahu akan Yesus, tetapi karena dia tidak keras hati dan menyaksikan kesabaran Yesus yang luar biasa telah menyentuh hatinya secara mendalam.
Usai memancangkan Salib Yesus, tiba gilirannya menyalibkan kedua penyamun. Para algojo melepaskan belenggu kedua penyamun agar dapat menyalibkan mereka sesegera mungkin, sebab langit mulai berawan dan menampakkan tanda-tanda akan datangnya badai. Setelah memberikan rempah-rempah dan cuka kepada mereka, para algojo menanggalkan pakaian kumal kedua penyamun, melilitkan tali-temali sekeliling tangan mereka, dan dengan bantuan tangga-tangga kecil menyeret mereka ke tempat penyaliban. Para algojo lalu mengikatkan lengan kedua penyamun ke palang salib dengan tali-temali yang terbuat dari kulit kayu, mengikat pergelangan tangan, siku, lutut dan juga kaki mereka, menarik tali-temali itu kencang-kencang hingga persendian mereka patah dan darah muncrat ke luar. Kedua penyamun mengerang sekuat-kuatnya.
Salib kedua penyamun ditempatkan satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri salib Yesus. Keadaan kedua penyamun di atas salib sungguh mengenaskan. Keduanya menanggung sakit yang tak terperi. Seorang yang di sebelah kiri Yesus (yang muda dan jahat) tak henti-hentinya melontarkan kutuk dan sumpah serapah. Sedangkan seorang di sebelah kanan Salib Yesus (seorang yang baik) berseru, “Segala siksa ini sungguh mengerikan, tetapi andai mereka memperlakukan kita seperti mereka memperlakukan Orang Galilea yang malang itu, pastilah kita telah lama mati.”
Tali-temali yang membelenggu mereka diikatkan sangat kencang, hingga mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa. Rona wajah mereka biru pucat, mata memerah melotot seolah hendak keluar dari tempatnya. Salib kedua penyamun jauh lebih pendek dari salib Tuhan kita.
Setelah menyalibkan Yesus dan kedua penyamun, para algojo membereskan peralatan, sambil melontarkan beberapa patah kata penghinaan kepada Yesus lalu pergi. Begitu pula kaum Farisi dengan menunggang kuda menghampiri Yesus, sambil melontarkan kata-kata cemooh, lalu pergi meninggalkan Kalvari. algojo Romawi berjumlah seratus orang yang disiagakan pun secara berbaris meninggalkan kawasan Kalvari. Pengamanan diambil alih oleh limapuluh algojo dibawah Abenadar, seorang keturunan Arab. Abenadar di kemudian hari dibaptis dengan nama Ctésiphon. Begitu pula wakilnya bernama Cassius, yang setelah menjadi seorang Kristen dikenal sebagai Longinus. Dua belas orang Farisi, dua belas orang Saduki, sejumlah ahli Taurat dan beberapa tua-tua, datang ke Kalvari setelah gagal membujuk Pilatus agar mengganti tulisan prasasti pada Salib Yesus. Mereka datang dengan menunggang kuda mengitari puncak Kalvari, sambil menghalau Bunda Maria dari kaki salib. Oleh karena diusir Yohanes membawa Bunda Yesus kepada perempuan-perempuan kudus yang berdiri agak jauh dari salib Yesus. Ketika lewat di depan Salib Yesus, mereka menggeleng-gelengkan kepala mengejek Yesus, seraya berseru, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu, turunlah dari salib! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib, supaya kita melihat dan percaya.” Juga, para algojo mengolok-olok Dia.
Ketika pasukan seratus meninggalkan Kalvari dan digantikan oleh pasukan Abenadar, saat itu Yesus yang tergantung nyaris tak sadarkan diri. Gesmas (penyamun yang jahat) yang memperhatikan Yesus berseru, “Setan yang merasuki Dia hendak meninggalkanNya.” Seorang algojo mengambil bunga karang mencelupkannya ke dalam anggur asam, mencucukkannya pada sebatang buluh, dan menghunjukkannya kepada mulut Yesus. Kata algojo itu, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah Diri-Mu! Turunlah dari salib.”
Tak lama berselang Yesus mengangkat sedikit kepala-Nya dan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Gesmas berseru, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!” Dismas (penyamun yang baik) yang diam membisu, rupanya tersentuh oleh ungkapan pengampunan dari Yesus terhadap musuh-musuhNya. Seketika itu pula ia teringat pada Yesus dan Bunda Maria yang telah menyembuhkannya dari kusta semasa kanak-kanak. Ketika Bunda Maria mendengar suara Puteranya, langsung berlari mendekati salib dengan diikuti oleh Yohanes, Salome dan Maria Kleopas. Abenadar, kepala pasukan tidak menghalangi mereka. Dismas yang sebelumnya diam itu tiba-tiba berseru dengan suara lantang kepada Gesmas, “Bagaimana mungkin engkau menghina Dia sementara Dia berdoa bagimu? Dia begitu tenang dan menanggung segala penghinaanmu dengan penuh kesabaran. Sungguh Dia seorang nabi; Dialah Raja kita; Dialah Putera Allah.” Teguran sekonyong-konyong yang datang dari bibir seorang penjahat hina yang sedang menanti ajal di salib ini menyebabkan kegemparan hebat di antara mereka yang hadir; mereka memungut batu-batu dan bermaksud melemparkannya kepada si penyamun; tetapi kepala pasukan Abenadar melarang.
Dismas pun terus berkata kepada Gesmas, yang masih juga menghujat Yesus, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita. Tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Ingatlah bahwa engkau sekarang berada di ujung maut, sebab itu bertobatlah.” Dismas beroleh pencerahan dan amat tersentuh hatinya; ia mengakukan segala dosanya kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, jika Engkau menghukum aku, Engkau akan melakukannya dengan adil.” Dan Yesus menjawab, “Engkau akan beroleh belas kasihanKu.” Dismas, yang diliputi tobat sempurna, seketika itu juga memanjatkan syukur kepada Allah atas rahmat luar biasa yang boleh ia terima. Dismas menyesali segala dosanya. Dismas lalu menengadahkan kepalanya ke arah Yesus, sambil berseru dengan penuh harap, “Tuhan, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Yesus pun menjawabnya, “Amin, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Maria Magdalena, Maria Kleopas, dan Yohanes berdiri dekat Salib dan menatap Yesus. Sementara Bunda Maria, dikuasai kasih sayang keibuan terdalam, memohon kepada Yesus agar ia diperkenankan mati bersamaNya. Akan tetapi Yesus memandang kepada IbuNya, lalu mengarahkan pandangan kepada Yohanes dan berkata, “Perempuan, inilah anakmu.” Selanjutnya Yesus berkata kepada Yohanes, “Inilah Ibumu.” Yohanes menatap Yesus yang berada di ambang maut, lalu menyalami Bunda Maria dengan sikap penuh hormat. Bunda Maria yang dikuasai kesedihan setelah mendengar perkataan Yesus itu, nyaris tak sadarkan diri sehingga dipapah pergi agak menjauh dari salib oleh para perempuan yang menyertainya.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul dua belas, setengah jam sesudah penyaliban. Keadaan yang terjadi berubah begitu cepat, namun mencengangkan bagi mereka yang menyaksikannya dengan perasaan takjub sekaligus ngeri.
Sejak menjelang pukul dua belas kabut tebal kemerahan menyelimuti Matahari. Bola Matahari berwarna kuning tua. Setelah itu kegelapan menyelimuti seluruh wilayah hingga pukul tiga sore. Tanda alam yang penuh ajaib itu telah memungkinkan Pilatus berdiskusi dengan Herodes tentang keadaan yang terjadi. Pilatus juga memanggil para tua-tua dan menanyakan pendapat mereka mengenai kegelapan misterius yang mungkin merupakan suatu pratanda. Pilatus mengatakan bahwa ia sendiri menganggap fenomena ini sebagai bukti mengerikan murka Allah atas penyaliban Orang Galilea itu, yang hampir dapat dipastikan adalah Nabi dan Raja mereka. Pilatus menegaskan diri bahwa ia sama sekali tak bertanggung-jawab atas apa yang terjadi, sebab ia telah mencuci tangan atas segala perkara itu sehingga tidak bersalah.
Para tua-tua tetap bersih keras seraya menjawab Pilatus dengan sikap dongkol mengatakan bahwa tak ada suatu pun yang tidak biasa dalam gejala alam itu dan para filsuf akan dengan mudah menerangkannya. Mereka sama sekali tidak menyesal atas suatu pun yang telah mereka lakukan terhadap Yesus.
Ketika waktu berajak menuju pukul tiga sore, Yesus berseru dengan suara nyaring, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) Seruan Yesus diambang ajal memecah keheningan yang senyap yang telah berlangsung beberapa saat di Kalvari. Kaum Farisi berpaling kepada Yesus yang tergantung pada salib. Seorang dari mereka berkata, “Lihat, Dia memanggil Elia,” Lalu yang lain pun berkata, “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” Ketika Bunda Maria mendengar suara PuteraNya, tak kuasa menahan diri, ia berlarian kembali ke kaki Salib, diikuti oleh Yohanes, Maria puteri Kleopas, Maria Magdalena dan Salome. Suatu pasukan berkuda terdiri dari sekitar tiga puluh algojo dari Yudea dan daerah sekitar Yoppa, yang sedang dalam perjalanan ke Yerusalem guna mengikuti perayaan, lewat tepat pada saat sekeliling Salib diliputi keheningan. Ketika mereka melihat Yesus tergantung di kayu Salib dengan keadaan yang begitu ngeri dan keji, sekaligus melihat tanda-tanda luar biasa akan murka Allah yang terpancar dalam gejala alam, mereka pun berseru, “Andai Bait Allah tidak berada di Yerusalem, pastilah kota ini akan dibumihanguskan oleh sebab kejahatan sebegitu keji.” Kaum Farisi yang mendengar pernyataan pasukan itu, terpaksa merendahkan suara mereka, khawatir kalau-kalau terjadi pergolakan. Atas kondisi itu kaum Farisi berunding dengan Abenadar- kepala pasukan, dan bersepakat bahwa pintu gerbang kota yang ada dekat Kalvari akan ditutup, guna mencegah meluasnya kabar tentang peristiwa penyaliban itu. Mereka juga meminta kepada Pilatus dan Herodes untuk memberikan pasukan sejumlah 500 algojo guna bersiaga menghadapi kemungkinan terjadinya huru-hara. Sementara itu, kepala pasukan menggunakan segala daya upaya dalam wewenangnya demi mengusahakan ketenangan dan mencegah kaum Farisi menghina Yesus lebih lanjut, khawatir jika hal itu akan semakin menggusarkan rakyat.
Mendekati pukul tiga, terang berangsur-angsur muncul kembali; bulan beranjak pergi dari bola Matahari. Matahari bersinar, walau tampak redup, karena masih dikelilingi oleh kabut kemerahan. Ketika terang berangsur-angsur pulih, wajah Yesus perlahan terlihat kembali. Yesus dalam keadaan nyaris tak sadarkan diri. LidahNya kering kerontang, sehingga berkata, “Aku haus!” Para murid yang berdiri sekeliling Salib memandang kepadaNya dengan tatapan duka mendalam. Mendengar permintaan Yesus, para murid kebingungan karena tidak terpikirkan oleh mereka mempersiapkan air dan bisa memberikan kepada Yesus menjelang ajalNya. Para murid lalu menyerahkan sejumlah uang kepada para algojo agar mengijinkan mereka memberi Yesus sedikit minum. Para algojo menolaknya. Para algojo kemudian mencelupkan bunga karang ke dalam anggur asam dan empedu hendak memberikannya kepada Yesus. Kepala pasukan, Abenadar, tergerak oleh belas kasihan mengambil bunga karang dari tangan para algojo. Lalu dia memeras empedunya dan menuangkan anggur asam segar ke dalam bunga karang seraya memasangkannya pada sebatang buluh. Dia menempatkan buluh di ujung sebilah tombak, dan menyerahkannya kepada Yesus agar Dia minum. Dalam situasi itu Yesus mengeluarkan perkataan, “Apabila suaraKu tak lagi terdengar, maka mulut orang-orang mati akan terbuka.” Sebagian dari khalayak yang mendengar berteriak, “Ia menghujat lagi!” Tetapi Abenadar menyuruh mereka diam.
Akhirnya pada pukul tiga sore, Yesus melewati pergulatan maut seketika. Keringat dingin mengaliri sekujur tubuh-Nya. Yohanes berdiri di kaki Salib. Yohanes menyeka kaki Yesus dengan kain pundaknya. Magdalena meringkuk di atas tanah dalam dukacita yang begitu hebat di belakang Salib. Bunda Maria berdiri di antara Yesus dan penyamun yang baik ditopang oleh Salome dan Maria Kleopas. Mata sang Bunda menatap lekat wajah Puteranya yang di ambang ajal. Yesus lalu berkata, “Sudah selesai,” dan mengangkat kepalaNya, Dia berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan RohKu.” Sekejap kemudian, Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan RohNya. Yohanes dan para perempuan jatuh rebah ke atas tanah (= prostratio). Kedua mata Abenadar terus terpaku menatap wajah Yesus yang telah rusak sama sekali. Kepala pasukan ini sepenuhnya dikuasai oleh segala yang telah terjadi. Ketika sesaat sebelum wafat, Yesus memaklumkan kata-kata terakhir-Nya dengan suara nyaring, bumi berguncang dalam wujud gempa hebat sehingga bukit karang Kalvari terbelah, membentuk suatu jurang yang dalam antara Salib Yesus dengan salib Gesmas.
Pada saat ajal, kedua tangan Yesus yang diregangkan paksa dengan paku-paku, terbuka dan kembali ke ukurannya yang normal. Begitu pula kedua lenganNya. Tubuh Yesus menjadi kaku. Berat beban tubuh bertumpu pada kaki. Lutut tertekuk, dan kaki sedikit terpelintir ke satu sisi.
Ketika Abenadar menyaksikan secara seksama detik-detik terakhir Yesus menghembuskan nafasNya; kuda tunggangannya gemetar di bawah pelananya. Hati Abenadar tersentuh hebat mendalam. Abenadar melemparkan tombaknya jauh-jauh, menebah dadanya sembari berseru nyaring, “Terpujilah Allah Yang Mahatinggi, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Sungguh, Orang ini adalah Putera Allah!”
Dalam kesadaran baru, Abenadar menyerahkan baik kuda maupun tombaknya kepada wakilnya yang bernama Casius (kemudian dikenal dengan Longinus), yang sesudah menyampaikan beberapa patah kata kepada para algojo segera menunggangi kudanya dan mengambil alih pimpinan. Abenadar pun memilih meninggalkan Kalvari, melintasi Lembah Gihon menuju gua-gua di Lembah Hinnom, di mana para murid bersembunyi. Abenadar memaklumkan wafat Yesus kepada mereka, lalu bersama-sama mereka pergi ke kota guna menemui Pilatus. Segera sesudah Abenadar memberikan kesaksian iman di hadapan publik akan keallahan Yesus, sejumlah besar algojo mengikuti jejaknya.Yohanes bangkit berdiri, beberapa perempuan kudus yang ada dekat sana menghampiri Maria dan membimbingnya pergi dari kaki Salib.
Ketika Yesus telah wafat. Kaum Farisi pada mulanya amat cemas dengan adanya gempa, tetapi setelah goncangan berakhir mereka melemparkan batu-batu ke dalam jurang. Mereka berusaha mengukur kedalaman jurang menggunakan tali.
Kenyataan ketika terjadi gempa hebat tatkala Yesus Tergantung di Salib
Gempa bumi dahsyat mengakibatkan terjadinya jurang yang dalam di Bukit Kalvari. Begitu juga terjadi kerusakan parah di berbagai belahan Palestina lainnya. Namun yang paling parah di Yerusalem. Kegaduhan dan kekacauan akibat robohnya rumah-rumah dan tembok-tembok kota di segala penjuru menimbulkan kepanikan hebat. Sekonyong-konyong munculnya orang-orang yang telah mati. Jiwa-jiwa orang mati itu menghadang sekaligus menegur dengan kata-kata kecaman kepada orang-orang berdosa yang berlarian hendak menyembunyikan diri.
Meski demikian para imam dan umat Yahudi yang sedang merayakan hari raya di Bait Allah tetap melangsungkan perayaan mereka sampai selesai. Meski kurban sempat terhenti ketika gempa dasya dan terjadi aliran massa yang berlarian menuju gerbang-gerbang Bait Allah.
Namun para imam tetap berupaya menertibkan ibadat. Para imam mencegah mereka yang berada di bagian dalam Bait Allah berlari keluar. Para imam juga berusaha menerobos khalayak ramai yang berlarian di depan mereka sembari menurunkan anak-anak tangga keluar dari Bait Allah. Sejumlah imam tetap melanjutkan upacara kurban sambil berusaha menenangkan rakyat.
Pasukan Romawi yang bertugas di benteng Antonia juga berusaha sekuat tenaga menjaga ketenangan. Olehnya kekacauan perayaan tidak berlanjut dengan huru-hara, meskipun banyak orang dicekam ketakutan dan kecemasan.
Akibat gempa yang terjadi menimbulkan sejumlah kerusakan di Bait Allah antara lain:
kedua pilar yang ditempatkan di pintu masuk ruang Yang Mahakudus dari Yang Kudus, di mana suatu tirai sakral digantungkan, digoncang hebat hingga ke dasarnya;
pilar di sisi kiri roboh ke arah Selatan, sementara pilar di sisi kanan roboh ke arah Utara. Akibat robohnya kedua pilar mengoyakkan tabir menjadi dua dari atas sampai ke bawah disertai bunyi mengerikan. Olehnya tersingkaplah ruang Yang Mahakudus dari Yang Kudus yang membuat orang banyak dapat melihatnya;
sebuah batu besar terlepas dari tembok dan jatuh di pintu masuk tempat kudus;
Bangunan melengkung Bait Suci patah; tanah tercabut, dan banyak pilar lainnya yang roboh.
Bukit Golgota
"Golgota" (Γολγοθα) merupakan transkripsi dalam bahasa Yunani dari kata Aram "Gûlgaltâ" (baca: gulgalta), yang berarti 'tengkorak' (Matius 27:33; Markus 15:22; Lukas 23:33). Nama itu disesuaikan dengan bentuk tempatnya yang bulat mirip tengkorak. Alkitab menerjemahkannya dengan istilah yang berarti "tempat tengkorak" (bahasa Inggris: place of [the] skull), dalam bahasa Yunani Κρανίου Τόπος (Kraníou Tópos), dan dalam bahasa Latin Calvariae Locus, darimana muncul istilah "Kalvari" (bahasa Inggris: Calvary).
Etimologi istilah "tempat tengkorak" didasarkan akar kata kerja Ibrani גלל g-l-l, dari mana diturunkan kata Ibrani untuk "tengkorak", גֻּלְגֹּלֶת (gulgōleṯ). Sejumlah penjelasan alternatif diberikan untuk nama ini. Ada yang mengusulkan nama Aramnya sebenarnya adalah Gol Goatha, artinya bukit penghukuman, kemungkinan sama dengan lokasi Goatha yang disinggung dalam Kitab Yeremia, dalam menggambarkan geografi Yerusalem. Penjelasan lain adalah tempat itu merupakan lokasi pelaksanaan penghukuman umum, sehingga nama itu merujuk kepada banyaknya tengkorak yang ditinggalkan dapat ditemukan di sana, atau bahwa lokasi itu dengan dengan pemakamam umum, dan nama itu mengacu kepada tulang-tulang yang dikuburkan di sana. Teks Kitab Suci tentang Golgota :
Injil Matius, 27:33: Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.
Injil Markus, 15:22: Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.
Injil Lukas, 23:33: Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
Injil Yohanes, 19:17: Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.
Hukuman Mati Dengan Cara Disalibkan
(oleh Pastor Kamilus Ndona Sopi, CP)
Hukuman mati ini berasal dari negeri Persia. Kemudian diambil alih oleh Yunani. Sejak perang dengan Kartago, orang Roma mulai menggunakan hukuman salib. Bangsa Romawi menjadikan salib sebagai alat hukuman yang paling kejam terhadap para budak dan orang-orang asing (terutama orang jajahan) yang memberontak.
Bagi orang Yahudi hukuman diberikan bagi para pemuja berhala, penghojat dan pemberontak dengan cara dirajam dengan batu dan digantung pada sebuah tiang. Terhukum dibiarkan mati secara mengerikan karena dianggap dikutuk oleh Allah. Dan agar tidak menajiskan, maka mayatnya segera dikuburkan (Ul 21:23). "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Gal 3:13).
Penyaliban diawali penderaan dengan tujuan memperlemah daya tahan tubuh terhukum, dibuat tidak dapat melawan dan menjai bahan olok-olokan. Cara mendera orang Yahudi berbeda dengan orang Romawi. Orang Yahudi tidak boleh memberikan deraan lebih dari empat puluh pukulan, masing-masing pada bahu kiri dan kanan serta dada. Hukuman orang Romawi tidak ada batasnya dan boleh memukul di mana saja.
Alat penderaan terbuat dari cambuk yang ujungnya diperkuat dengan batu-batu timah dengan paku-paku kecil di ujungnya atau tulang punggung binatang yang telah diruncingkan ujung-ujungnya.
Tangan si terhukum diborgol dan diikat pada sebuah tiang yang tingginya berukuran kurang lebih 60 cm. Dalam posisi membungkuk si terhukum didera oleh algojo-algojo. Kedahsyatan penderaan dapat menyebabkan banyak luka dan darah di seluruh tubuh terhukum. Yesus Sendiri disesah secara luar biasa, di mana Ia menerima tidak kurang dari 121 kali deraan atau tidak kurang dari 726 luka di sekujur Tubuh-Nya). Luka-luka dan aliran darah bekas penderaan tentu saja mempercepat proses kematian.Olehna rupaNya pun tak tampak (Yes 1:6; 53: 3-4).
Patibulum adalah kayu palang yang beratnya berkisar antara 50-60 kg dan panjangnya sekitar 1,5 meter dengan lubang di tengahnya. Si terhukum dipaksa untuk membawa sendiri patibulum-nya ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Tempat eksekusi biasanya sangat strategis agar mudah ditonton orang yang lewat. Di tempat ini telah dipancang tiang vertikal (stipes), yang ujungnya dibuat lebih kecil sehingga patibulum mudah dimasukkan padanya.
Kedua tangan si terhukum diikat terentang pada patibulum yang diletakkan pada bahunya. Tali dililitkan pada tangan kanan membelit lengan, melingkari dada, lalu membelit lengan kiri, mengikat tangan kiri; ujung tali diikat pada pergelangan kaki kiri, sehingga ia terpaksa berjalan membungkuk, tidak bebas dan menimbulkan tertawaan khalayak ramai yang menyaksikannya.
Tiba di tempat hukuman si terhukum dibaringkan. Lebih dahulu tangannya direntang, dipaku dan/atau diikat pada patibulum di atas tanah, kemudian patibulum dengan orangnya diangkat dan ditancapkan pada tiang stipes melalui lubang patibulum itu. Sesudah itu kaki si terhukum dipakukan pada tiang stipes.
Ada sebatang kayu kecil (sedicula) ditempelkan pada bagian pantat atau pun telapak kaki. Dengan demikian lengan si terhukum tidak mudah sobek dan ia akan bertahan lebih lama pada salib. Kemudian si terhukum dibiarkan tergantung pada kayu salib sampai ia wafat. Untuk mempercepat proses kematian, si terhukum seringkali disesah dan kakinya dipatahkan (crurifragium) (bdk Yoh 19: 31-32).
Bagi yang tidak punya kuburan, mayat si terhukum seringkali dibiarkan membusuk, bahkan menjadi mangsa serangga dan binatang buas. Namun, kerap juga kaum kerabat atau keluarga meminta izin dengan memberi sejumlah uang kepada penguasa, supaya mayat si terhukum dapat dikuburkan.
By. Matheus Antonius Krivo

.jpg)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar