Kamis, 21 Agustus 2025

Jenasah Yesus Diturunkan Dari Salib (Kronologis 14)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Memanggul Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XLVII, XVIII, L“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yusuf dari Arimatea Meminta Memakamkan Jenasah Yesus

Usai kegemparan di kota Yerusalem akibat gempa dasyat, anggota sidang Bait Allah mengirimkan permohonan kepada Pilatus agar kaki-kaki para penjahat dipatahkan, supaya segera mati sebelum hari Sabat tiba. Atas permohonan itu Pilatus memutuskan mengirimkan para algojo ke Kalvari guna melaksanakan permohonan itu.

Mendengar hal ikhwal itu, Yusuf dari Arimatea menghadap Pilatus dan memberitahukan bahwa ia mendengar Yesus telah wafat. Yusuf  mengatakan kepada Pilatus bahwa dia bersama Nikodemus bersedia untuk memakamkan Yesus di sebuah makam baru di belakang taman miliknya yang terletak tidak jauh dari Kalvari. Mendengar informasi dan permintaan Yusuf dari Arimatea, Pilatus minta pengawalnya untuk segera memanggil kepala pasukan, Abenadar. Ketika Abenadar datang, Pilatus bertanya kepadanya apakah Raja Orang Yahudi sungguh sudah mati. Atas pertanyaan itu Abenadar menceritakan secara rinci kepada Pilatus mengenai proses Yesus wafat;  kata-kata Yesus yang terakhir, seruan nyaring Yesus tepat sebelum wafat, dan gempa bumi yang membelah bukit karang dan membuat jurang yang dalam di sana. Satu-satunya hal yang membuat Pilatus terheran adalah bahwa kematian Yesus terjadi begitu cepat, sebab mereka yang disalibkan biasanya mampu bertahan hidup lebih lama. Mendengar cerita Abenadar,  Pilatus memberikan instruksi sekaligus wewenang kepada Yusuf untuk menurunkan jenazah Raja Orang Yahudi dari Salib dan melaksanakan ritual pemakaman. Pilatus pun menugaskan kembali Abenadar  ke Kalvari guna memastikan instruksinya dilaksanakan. 


Kaki Yesus Tidak Dipatahkan Namun LambungNya Ditikam

Sesuai perintah Pilatus, enam algojo pembantu datang ke Kalvari dengan membawa tangga, sekop, tali-temali dan alat pemukul dari besi yang besar untuk mematahkan kaki-kaki para penjahat guna mempercepat kematian mereka. Ketika mereka menuju Salib Yesus, Bunda Maria dan kerabatnya mundur beberapa langkah. Bunda Maria dicekam ketakutan kalau-kalau para algojo masih mau melampiaskan kekejian  pada tubuh Puteranya yang telah tak bernyawa. Ketakutan Bunda Maria beralasan sebab ketika algojo menyandarkan tangga pada Salib, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya berpura-pura mati. Namun, beberapa saat kemudian, ketika mendapati tubuh Yesus telah dingin dan kaku, mereka membiarkan dan memindahkan tangga ke salib kedua penyamun yang masih tergantung hidup. Para algojo mengambil alat pemukul besi lalu mematahkan lengan-lengan di atas dan di bawah siku. Sementara pada saat yang sama seorang algojo pembantu lainnya mematahkan kaki-kaki mereka di atas dan di bawah lutut. Gesmas meneriakkan seruan-seruan yang mengerikan, sebab itu algojo menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan gada yang mematikan di dadanya. Dismas mengerang dalam-dalam dan wafat.  Tali-temali kemudian dilepaskan, kedua mayat jatuh bergelimpangan ke atas tanah. Lalu para algojo menyeret kedua jasad penyamun ke sebuah rawa yang terletak antara Kalvari dan tembok kota, dan menguburkan di sana.

Menyaksikan masih ada keraguan anak buahnya, Cassius sebagai wakil kepala pasukan yang sedang menunggang kuda, tiba-tiba tergerak hatinya menyambar sebilah tombak bergerak menuju ke hadapan Salib, sembari  menikam lambung kanan Yesus hingga menembusi hati dan muncul di sisi kiri. Ketika Cassius mencabut tombaknya, dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air, yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Cassius langsung meloncat dari kudanya, jatuh berlutut, menebah dadanya, dan memaklumkan dengan suara nyaring imannya yang teguh akan ke-Allah-an Yesus di hadapan semua yang hadir. Mata Cassius yang juling langsung normal kembali. Bunda Maria dan kerabatnya yang menyaksikan adegan penikaman langsung mendekati salib dan mendapati Cassius tetap berlutut di hadapan Salib Yesus. Bersama Bunda Maria dan kerabatnya, Cassius pun turut serta mengumpulkan darah dan air Yesus dalam bejana-bejana, dan menyeka sisanya dengan potongan-potongan kain lenan.

Persiapan Sebelum Menurunkan dan Menguburkan Jenasah Yesus

Sesudah meninggalkan istana Pilatus, Yusuf dari Arimatea langsung  menemui Nikodemus  yang sedang berada di rumah seorang perempuan yang adalah pedagang rempah-rempah harum.  Nikodemus membeli banyak wangi-wangian yang diperlukan untuk mengurapi jenazah Yesus. Perempuan itu mendapatkan rempah-rempah yang mahal dari berbagai tempat lain. Yusuf pergi membeli kain lenan yang baik mutunya. Para pelayan Yusuf mengambil tangga, palu dan martil, pasak, tempayan-tempayan air serta bunga-bunga karang dari sebuah gudang dekat sana, lalu menempatkan barang-barang itu dalam sebuah tandu. 

Yusuf juga memerintahkan beberapa pelayannya untuk membersihkan kubur baru di taman. Para pelayan yang telah membersihkan kubur, menuju Kalvari dan memberitakan kepada Bunda Maria bersama kerabatnya bahwa tuan mereka (Yusuf Arimatea) akan mengambil dan memakamkan jenasah Yesus di sebuah kubur baru.

Mendengar itu, Yohanes langsung kembali ke kota bersama para perempuan yang menyertai seklaigus agar Bunda Maria dapat sedikit pulih kekuatannya. Setiba di kota, Yohanes membeli beberapa barang yang diperlukan untuk pemakaman. Bunda Maria beristirahat di suatu penginapan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan dekat Senakel. Mereka tidak masuk kembali ke kota lewat gerbang yang paling dekat Kalvari,  sebab gerbang ditutup dan dijaga oleh para algojo yang disiagakan di sana oleh kaum Farisi. Mereka lewat gerbang yang menuju ke Betlehem.

Nikodemus telah membeli seratus pon akar-akaran. Mereka membawa rempah-rempah itu dalam tong-tong kecil yang terbuat dari kulit kayu. Mereka membawanya dengan meng gantungkan di sekeliling leher  dan menempel pada dada. Satu di antara tong-tong ini berisi semacam bubuk. Ada pula beberapa kantong ramu-ramuan dalam tas-tas yang terbuat dari perkamen atau kulit. Yusuf dari Arimatea membawa sekotak minyak urapan. Para hamba membawa bejana-bejana, botol-botol kulit, bunga-bunga karang dan perkakas serta lentera tertutup. Para pelayan berangkat menuju Bukit Kalvari. Begitu juga Yohanes dan para perempuan kudus menyusul para hamba itu ke Kalvari. Para perempuan berjumlah kurang lebih lima orang, sebagian dari mereka dengan balutan-balutan tebal kain lenan di bawah mantol mereka. 

Yusuf dan Nikodemus juga dalam busana kabung; mereka mengenakan busana berlengan hitam dan ikat pinggang lebar. Jubah mereka, yang mereka tudungkan ke atas kepala, lebar dan panjang, berwarna abu-abu, berfungsi pula untuk menyembunyikan segala yang mereka bawa.

Ketika Yusuf dan Nikodemus tiba di gerbang kota, mereka mendapati gerbang ditutup, para algojo berjajar sepanjang jalan-jalan serta tikungan-tikungan. Yusuf menunjukkan surat perintah yang ditandatangani Pilatus, agar mereka dapat lewat dengan bebas. Para algojo dengan senang hati akan mempersilakan, tetapi mereka menjelaskan kepadanya bahwa telah beberapa kali mereka berusaha membuka pintu gerbang, namun gerbang sama sekali tak bergeming, tampaknya gerbang terimbas gempa dan macet di suatu bagian. Tetapi ketika Yusuf dan Nikodemus mengulurkan tangan meraih palangnya, pintu gerbang terbuka seolah dengan sendirinya, sehingga mereka semua yang menyaksikannya amat tercengang.

Yusuf dan Nikodemus ketika tiba di Bukit Kalvari mendapati para pelayan  yang diutus terlebih dahulu telah tiba dan para perempuan sedang duduk menangis di depan Salib. Cassius dan beberapa algojo tetap berada dalam jarak tertentu dengan sikap penuh hormat. Yusuf dan Nikodemus menceriterakan kepada Bunda Maria dan Yohanes segala daya upaya yang telah mereka lakukan demi menyelamatkan Yesus dari kematian yang keji. Begitu juga  upaya mereka yang berhasil mencegah tulang-tulang Yesus tidak dipatahkan.  Sedangkan para perempuan  juga bercerita mengenai luka yang dibuat Cassius dengan tombaknya. Tak lama berselang kepala pasukan Abenadar tiba dan langsung mereka memulai menurunkan tubuh Yesus dari Salib dan  kemudian mengurapiNya.

Jenasah Yesus Diturunkan dari Salib

Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena duduk di kaki Salib. Sementara di sebelah kanan antara salib Dismas dan Salib Yesus, para perempuan  sibuk mempersiapkan kain lenan, rempah-rempah, air, bunga-bunga karang dan bejana-bejana. Cassius juga datang mendekat dan menceriterakan kepada Abenadar mukjizat penyembuhan matanya. Semua yang hadir tampak begitu terharu, hati mereka diliputi dukacita dan belas kasih. Namun, pada saat yang sama, mereka tetap menjaga keheningan yang khusuk, setiap gerak-gerik mereka penuh kesalehan dan hormat. Maria Magdalena tak henti-hentinya menangisi Yesus. 

Nikodemus dan Yusuf menyandarkan tangga-tangga ke belakang Salib dan memanjatnya. Pada tangan mereka membawa sehelai kain lebar di mana dipasang tiga tali pengikat yang panjang. Mereka mengikatkan tubuh Yesus, mulai dari bagian bawah kedua lengan hingga ke lutut, pada palang Salib dengan tali-tali pengikat, dan menahan kedua lengan dengan mengikatkannya pada lengan salib dengan kain-kain lenan. 

Lalu mereka melepaskan paku-paku dengan mendorong paku-paku itu dari belakang menggunakan pasak-pasak kuat yang dihantamkan ke ujung-ujung paku. Dengan demikian, tangan-tangan Yesus tidak banyak terkoyak dan paku-paku dengan mudah berjatuhan dari luka-lukaNya. Tampak luka-luka telah semakin melebar oleh sebab berat tubuh. Tubuh Yesus ditopang dengan kain sehingga tidak lagi tergantung pada paku. Pada bagian bawah tubuh, yang sejak wafat  telah melorot ke lutut, berada pada posisi normal karena disangga oleh kain yang diikatkan ke lengan-lengan Salib. Yusuf melepaskan paku dari tangan kiri, dan selanjutnya diselubungi dengan kain sehingga tangan jatuh dengan lembut ke atas tubuh Yesus.  Nikodemus mengikatkan lengan kanan Yesus pada palang Salib, dan kepala yang bermahkotakan duri, yang terkulai ke bahu kanan. Lalu ia melepaskan paku kanan, dan setelah menyelubungi lengan dengan kain penyangganya, membiarkan tangan itu jatuh dengan lembut ke atas tubuh Yesus. Pada saat yang sama, kepala pasukan Abenadar, dengan bersusah-payah melepaskan paku besar yang menembusi kedua kaki Yesus. Cassius dengan hormat menerima paku-paku itu dan meletakkannya di depan kaki Santa Perawan.

Setelah menyandarkan tangga-tangga ke bagian depan Salib dengan posisi nyaris tegak lurus dan dekat dengan tubuh Yesus, Yusuf dan Nikodemus melepaskan tali pengikat bagian atas dan mengaitkannya ke salah satu kaitan yang ada pada tangga. Lalu melakukan hal yang sama dengan kedua tali pengikat lainnya. Demikianlah Yusuf dan Nikodemus memindahkan tali-tali pengikat dari kaitan yang satu ke kaitan yang lainnya, sehingga tubuh kudus Yesus turun dengan perlahan dan lembut dan diterima oleh Abenadar yang berdiri di atas sebuah bangku. Abenadar menerima jasad Yesus dalam pelukannya sambil menahannya.   Sementara Yusuf dan Nikodemus, dengan menyangga bagian atas tubuh Yesus, menuruni tangga perlahan-lahan hingga ke tanah. 

Semua mata menatap lekat pada tubuh Yesus dan mengikuti setiap gerak-gerik Yusuf, Nikodemus dan Abenadar. Saat jasad Yesus diturunkan tubuhNya terbalut kain lenan dari lutut hingga ke pinggang. Kemudian mereka meletakkannya dalam pelukan Bunda Maria yang sedang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Sang Putera.


By. Matheus Antonius Krivo





Tidak ada komentar:

Posting Komentar