Kamis, 21 Agustus 2025

Jenasah Yesus Diurapi dan Dimakamkan (Kronologis 15)

 


Biarkan KITA tahu kisah Jenasah Yesus Diurapi dan Dimakamkan. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi LI dan LII“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.



Jenasah Yesus Diurapi dan Dimakamkan

Bunda Maria duduk di atas sebuah kain lebar yang dibentangkan di tanah sambil  bersandar pada bantalan yang merupakan gulungan mantol.  Tubuh Yesus dibaringkan membujur di atas selembar kain dan kepalaNya beristirahat di atas lutut Bunda Maria. Bunda Maria untuk terakhir kalinya merengkuh tubuh Sang Putera terkasih dalam pelukannya. Bunda Maria memandangi luka-luka dan dengan penuh mesra membelai pipi Yesus yang berlumuran darah. Sementara Maria Magdalena mengusapkan wajahnya ke kaki Yesus.

Beberapa lelaki menuju ke sebuah gua kecil yang terletak di sisi Barat Daya Kalvari guna mempersiapkan berbagai barang untuk pengurapan.  Cassius dan beberapa prajurit lainnya tetap mengambil jarak dari jenasah Yesus. Cassius dan para prajurit masih tetap berada di Kalvari untuk memantau keamanan. Para perempuan membawa bejana-bejana, bunga-bunga karang, kain-kain lenan, minyak urapan dan rempah-rempah dan menaruhnya dekat jasad Yesus dan Bunda Maria. Yohanes dan para perempuan dengan hikmat mengikuti setiap pergerakan perlakukan Bunda Maria terhadap Puteranya.  Yohanes relatif amat sibuk menolong Bunda Maria. Dia hilir mudik antara para lelaki dan para perempuan, guna memenuhi semua kebutuhan pengurapan. Para perempuan telah menyiapkan  beberapa botol kulit yang besar dan sebuah bejana berisi air yang dijerangkan di atas perapian batu bara. Mereka selalu memberikan kepada Bunda Maria dan Maria Magdalena ketika diperlukan. Bejana-bejana berisi air bersih dan bunga-bunga karang, yang kemudian mereka peras ke dalam botol-botol kulit.

Bunda Maria dalam ketabahan, ketegaran dan sepenuh hati  membasuh serta membersihkan tubuh Yesus dari bekas-bekas kekejaman yang dilampiaskan kepadaNya. Bunda Maria dengan amat hati-hati dan teliti melepaskan mahkota duri, membuka ikatan belakangnya, lalu memotong satu demi satu duri-duri yang menembusi kepala Yesus, agar tidak mengoyakkan luka-luka. Mahkota duri diletakkan di samping paku-paku. Lalu mencabut duri-duri yang masih tertancap dalam kulit dengan semacam sepit bulat dan dengan pilu memperlihatkan kepada para sahabatnya. 

Wajah Yesus sama sekali tidak dapat dikenali lagi. WajahNya rusak hebat akibat luka-luka dan memar. Jenggot dan rambut-Nya lengket dengan darah. Bunda Maria membasuh kepala dan wajah, menyeka rambutNya dengan bunga-bunga karang basah, guna membersihkan dari darah yang mengental. Selanjutnya Bunda Maria membasuh luka-luka di kepala, kedua mata yang bersimbah darah, lubang hidung, dan telinga, dengan sebuah bunga karang dan sehelai saputangan lenan yang digenggam pada tangan kanannya. Lebih lanjut Bunda Maria membersihkan mulut yang setengah ternganga, lidah, gigi dan bibir. Bunda Maria membagi rambut Yesus yang masih tersisa menjadi beberapa bagian. Ada  bagian pada masing-masing pelipis, dan yang lain di belakang kepala. Ketika telah diluruskan dan dirapikannya rambut bagian depan dari kekusutan, Bunda Maria menyelipkannya di belakang telinga Yesus. Ketika kepala Yesus telah dibasuh dan dibersihkan dengan seksama, Bunda Maria menyelubunginya dengan sehelai selubung, setelah terlebih dahulu mencium kedua pipi kudus Puteranya terkasih. 

Selanjutnya Bunda Maria membersihkan leher, pundak, dada, punggung, kedua tangan dan kaki yang berlubang. Seluruh tulang dada Yesus terlepas dari persendiannya dan tak dapat ditekuk. Terdapat suatu luka mengerikan di bahu yang menyangga beban Salib, dan sekujur tubuh bagian atas dipenuhi memar dan bilur-bilur dalam akibat deraan cambuk. Di dada kiri terdapat suatu luka kecil di mana ujung tombak Cassius muncul setelah menembusi hatiNya. Pada lambung kanan terdapat suatu luka menganga akibat tikaman tombak yang sama. Pada bagian tubuh dipenuhi noda-noda cokelat dan merah terutama pada bagian-bagian di mana kulit terkelupas. Ada pula noda-noda itu berwarna putih kebiruan, serupa daging yang telah diperas dari darahnya.Bunda Maria membasuh semua luka dengan penuh kasih.

Setelah dibersihkan segala luka dan darah, Bunda Maria membasuh leher, dada dan kedua tangan, kaki serta seluruh tubuh Yesus. Usai membasuh dan mengeringkan dengan kain lenan, Bunda Maria menyelubungi bagian-bagian yang telah dibasuh dengan kain selubung, kemudian mengurapi luka-luka di bagian tubuh dengan minyak. Pengurapan berlanjut pada rambut, telinga, lubang hidung dan luka di lambung dengan campuran minyak berharga dan rempah-rempah harum. 

Setelah mengurapi semua luka Yesus, Bunda Maria membalut kepala dengan kain lenan, seraya membiarkan wajah belum diselubungkan. Lalu Bunda Maria mengatupkan kedua mata Yesus yang setengah terbuka, sambil membiarkan tangannya berada di atasnya beberapa saat. Lebih lanjut Bunda Maria mengatupkan mulut Yesus yang setengah terbuka, kemudian memeluk mesra tubuh kudus Puteranya, sambil mengusapkan wajah Yesus dengan penuh kasih sekaligus memberi hormat ke atas wajahNya.

Air yang dipergunakan untuk membasuh sang Juruselamat tidak dibuang, melainkan dimasukkan ke dalam botol-botol kulit dengan memeras bunga-bunga karang. Cassius dan beberapa prajurit pergi beberapa kali untuk mengambil air jernih dari sumber mata air Gihon, yang tak berapa jauh letaknya.  

Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus setia menunggu selama proses pengurapan. Ketika sudah hampir selesai, Yohanes menghampiri Bunda Maria seraya memohon, agar pengurapan dapat segera diselesaikan supaya dapat diperkenankan membawa tubuh Yesus, mengingat Sabat sudah menjelang. Mendengar bisikan Yohanes, Bunda Maria memeluk erat tubuh kudus Yesus, mengucapkan salam perpisahan dengan kata-kata yang sungguh menyentuh hati. Lalu para lelaki mengambil tubuh Yesus dari pangkuan Bunda Maria dengan beralaskan sehelai kain lenan berenda dan membawanya pergi beberapa jauh. 

Jasad Yesus dibawa ke suatu tempat di bawah permukaan puncak Golgota, di mana permukaan bukit karang yang rata dapat difungsikan sebagai suatu balai yang nyaman untuk mengurapiNya. 

Nikodemus dan Yusuf kemudian berlutut,  di bawah bentangan kain, kemudian melepaskan kain lenan yang dibalutkan sekeliling pinggang Yesus.  Lalu mereka mengambil bunga-bunga karang, membasuh bagian bawah tubuh Yesus.  Sesudahnya tubuh Yesus diangkat dengan bantuan kain-kain lenan yang disilangkan di bawah pinggang dan kedua lututNya, lalu membasuh punggung Yesus tanpa membalikkan tubuh. Mereka terus membasuh hingga air jernih saja yang akhirnya keluar dari perasan bunga-bunga karang. Selanjutnya mereka menuangkan air mur ke atas sekujur tubuh kudus, dan dengan penuh hormat merentangkannya hingga lurus. Hal itu karena tubuh Yesus masih dalam posisi pinggang dan kedua lutut-Nya tertekuk. 

Lebih lanjut Yusuf dan Nikodemus menempatkan di bawah pinggul sehelai kain yang lebarnya satu yard dan panjangnya tiga yard, seraya meletakkan di atas pangkuan Yesus kantong-kantong rempah-rempah harum. Nikodemus juga membubuhkan ke sekujur tubuh bubuk harum yang dibawanya. Kemudian mereka membungkus bagian bawah tubuh, dan membalutkan kain yang ada dibawah pinggul Yesus ke sekeliling tubuhNya. Sesudah itu, mereka mengurapi luka-luka di kedua paha, menempatkan kantong-kantong rempah-rempah di antara kedua kaki, yang telah direntangkan hinga lurus, dan membubuhi seluruhnya dengan rempah-rempah harum.

Ketika Yusuf dan Nikodemus sudah selesai membungkus tubuh Yesus, Yohanes membimbing Bunda Maria dan para perempuan lainnya untuk berada di sisi Yesus. Bunda Maria berlutut di sisi kepala Yesus, dan menempatkan di bawah kepala Puteranya sehelai kain lenan bermutu, yang diterimanya dari Claudia Procles-isteri Pilatus. Selanjutnya, dengan dibantu para perempuan, Bunda Maria membubuhkan dari pundak hingga ke pipi Puteranya, ramu-ramuan, rempah-rempah, bubuk wangi-wangian, dan kemudian mengikat erat kain lenan itu sekeliling kepala dan pundak tubuh Yesus. Maria Magdalena menuangkan sebotol kecil minyak balsam ke dalam luka pada lambung, dan para perempuan lainnya membubuhkan lebih banyak rempah-rempah ke dalam luka-luka di kedua kaki dan tangan Yesus. Kemudian para lelaki membubuhkan rempah-rempah harum sekeliling sisa tubuh Yesus. Lalu menyilangkan kedua tangan Yesus yang telah kaku ke atas dadaNya dan mengikatkan kain putih lebar sekeliling tubuh dari bawah sampai ke dada.  Setelah menempatkan ujung sebuah pita besar di bawah kedua ketiak Yesus, mereka melingkarkannya sekeliling kepala dan sekujur tubuh. Akhirnya, para lelaki itu membaringkan Yesus di atas sehelai kain besar yang panjangnya enam yard, yang dibeli Yusuf dari Arimatea dan membungkus tubuh kudus. Tubuh Yesus terbaring diagonal di atas kain itu, salah satu ujung kain diangkat dan ditutupkan ke tubuh Yesus dari bagian kaki hingga ke dada. Ujung satunya ditutupkan dari kepala ke pundak. Sementara kedua ujung kain yang melintang dibalutkan dua kali sekeliling tubuh Yesus.

Bunda Maria, para perempuan kudus, para lelaki - semuanya berlutut sekeliling tubuh Yesus untuk menyampaikan salam perpisahan. Dengan airmata bercucuran mereka memeluk tubuh Yesus. 


Yesus Dimakamkan

Para lelaki membaringkan Tubuh kudus di atas semacam tandu kulit yang mereka selubungi dengan sehelai kain berwarna cokelat. Ada dua tongkat panjang mereka pasangkan pada tandu. Nikodemus dan Yusuf memanggul gagang tongkat bagian depan, sementara Abenadar dan Yohanes memanggul gagang bagian belakang. Berjalan di belakang mereka adalah Bunda Maria, Maria Heli, Maria Magdalena, Maria Kleopas dan rombongan para perempuan seperti Serafiah (Veronica), Yohana Khuza, Maria ibunda Markus, Salome isteri Zebedeus, Maria Salome, Salome dari Yerusalem, Susana, dan Anna kemenakan Yusuf (suami Bunda Maria). Cassius dan para prajurit berjalan di barisan paling belakang. 

Arak-arakan didahului oleh dua prajurit yang berjalan dengan suluh di tangan guna memberi penerangan dalam grotto makam. Iring-iringan bergerak maju selama sekitar tujuh menit. 

Arak-arakan berhenti di pintu masuk taman milik Yusuf dari Arimatea. Ketika berada di depan bukit batu, mereka membaringkan tubuh Yesus di atas sebilah papan panjang yang dilapisi selembar kain. Grotto baru yang telah dibersihkan tampak rapi. Para perempuan duduk di depan grotto, sementara keempat lelaki mengusung masuk tubuh Yesus ke dalamnya.  Sebagian lainnya mengisi balai dalam ceruk yang diperuntukkan bagi jenazah dengan rempah-rempah harum, menghamparkan sehelai kain di atasnya, di mana dengan hormat mereka membaringkan tubuh Yesus. Setelah mengungkapkan kasih mereka dengan airmata sambil memeluk Yesus, para lelaki itu meninggalkan grotto. Bunda Maria masuk, duduk dekat sisi kepala Puteranya dan membungkuk ke atas tubuhNya dengan airmata berderai. Usai Bunda Maria meninggalkan grotto, Maria Magdalena dengan tak sabar bergegas masuk dan menaburkan ke atas tubuh Yesus bunga-bunga dan ranting-ranting yang ia kumpulkan dari taman. Lalu, ia menjalin erat jari-jari kedua tangannya dan dengan isak tangis menciumi kaki Yesus. Tak lama Maria Magdalena meninggalkan grotto karena para lelaki membisikan kepadanya, bahwa mereka harus segera menutup pintu makam.  Mereka menyelimuti tubuh kudus dengan ujung-ujung kain di mana tubuh terbaring, lalu menghamparkan kain penutup berwarna cokelat, menutup pintu-pintu lipat yang terbuat dari logam berwarna merah kecoklatan, di mana terdapat dua tonggak di depannya, yang satu membujur dan yang lain melintang, sehingga secara sempurna membentuk sebuah salib.

Selanjutnya pintu grotto ditutup dengan batu besar yang telah  tergeletak di depan makam. Batu besar itu cukup panjang dan sangat berat. Olehnya para lelaki menggulingkannya ke pintu makam menggunakan beberapa pengungkit dari kayu.  Pintu masuk grotto ditutup dengan sebuah gerbang yang terbuat dari dahan-dahan pohon yang dijalin. 

Selesailah kisah tragis yang menimpa Yesus dari Nazareth, Allah yang menjelma menjadi manusia ribuan tahun silam. Anda yang membacanya hingga di makam ini, songsonglah kemuliaanNya sepanjang kehidupanmu di dunia dan di akhirat. 


By. Matheus Antonius Krivo



Jenasah Yesus Diturunkan Dari Salib (Kronologis 14)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus Diturunkan dari Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XLVII, XVIII, L“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yusuf dari Arimatea Meminta Memakamkan Jenasah Yesus

Usai kegemparan di kota Yerusalem akibat gempa dasyat, anggota sidang Bait Allah mengirimkan permohonan kepada Pilatus, agar kaki-kaki para penjahat dipatahkan, supaya segera mati sebelum hari Sabat tiba. Atas permohonan itu Pilatus memutuskan mengirimkan para algojo ke Kalvari, guna melaksanakan permohonan itu.

Mendengar hal ikhwal itu, Yusuf dari Arimatea menghadap Pilatus dan memberitahukan bahwa ia mendengar Yesus telah wafat. Yusuf  mengatakan kepada Pilatus bahwa dia bersama Nikodemus bersedia untuk memakamkan Yesus di sebuah makam baru di belakang taman miliknya yang terletak tidak jauh dari Kalvari. Mendengar informasi dan permintaan Yusuf dari Arimatea, Pilatus meminta pengawalnya untuk segera memanggil kepala pasukan, Abenadar. Ketika Abenadar datang, Pilatus bertanya kepadanya apakah Raja Orang Yahudi sungguh sudah mati. Atas pertanyaan itu Abenadar menceritakan secara rinci kepada Pilatus mengenai proses Yesus wafat;  kata-kata Yesus yang terakhir, seruan nyaring Yesus tepat sebelum wafat, dan gempa bumi yang membelah bukit karang dan membuat jurang yang dalam di sana. Satu-satunya hal yang membuat Pilatus amat heran adalah kematian Yesus terjadi begitu cepat. Biasanya mereka yang disalibkan mampu bertahan hidup lebih lama. Mendengar cerita Abenadar,  Pilatus memberikan instruksi sekaligus wewenang kepada Yusuf untuk menurunkan jenazah Raja Orang Yahudi dari Salib sekaligus melaksanakan ritual pemakaman. Pilatus pun menugaskan kembali Abenadar  ke Kalvari, guna memastikan instruksinya dilaksanakan. 


Kaki Yesus Tidak Dipatahkan Namun LambungNya Ditikam

Sesuai perintah Pilatus, enam algojo pembantu datang ke Kalvari dengan membawa tangga, sekop, tali-temali dan alat pemukul dari besi yang besar untuk mematahkan kaki-kaki para penjahat, guna mempercepat kematian mereka. Ketika mereka menuju Salib Yesus, Bunda Maria dan kerabatnya mundur beberapa langkah. Bunda Maria dicekam ketakutan kalau-kalau para algojo masih mau melampiaskan kekejian  pada tubuh Puteranya yang telah tak bernyawa. Ketakutan Bunda Maria beralasan, sebab ketika algojo menyandarkan tangga pada Salib, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya berpura-pura mati. Namun, beberapa saat kemudian, ketika mendapati tubuh Yesus telah dingin dan kaku, mereka membiarkan dan memindahkan tangga ke salib kedua penyamun yang masih hidup. Para algojo mengambil alat pemukul besi, lalu mematahkan lengan-lengan di atas dan di bawah siku. Sementara pada saat yang sama, seorang algojo pembantu lainnya mematahkan kaki-kaki mereka di atas dan di bawah lutut. Gesmas meneriakkan seruan-seruan yang mengerikan, sebab itu algojo menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan gada yang mematikan di dadanya. Dismas mengerang dalam-dalam dan wafat.  Tali-temali kemudian dilepaskan, kedua mayat jatuh bergelimpangan ke atas tanah. Lalu para algojo menyeret kedua jasad penyamun ke sebuah rawa yang terletak antara Kalvari dan tembok kota, dan menguburkan di sana.

Menyaksikan masih ada keraguan anak buahnya, Cassius sebagai wakil kepala pasukan yang sedang menunggang kuda, tiba-tiba tergerak hatinya menyambar sebilah tombak bergerak menuju ke hadapan salib, sembari  menikam lambung kanan Yesus hingga menembusi hati dan muncul di sisi kiri. Ketika Cassius mencabut tombaknya, dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air, yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Cassius langsung meloncat dari kudanya, jatuh berlutut, menebah dadanya, dan memaklumkan dengan suara nyaring imannya yang teguh akan ke-Allah-an Yesus di hadapan semua yang hadir. Mata Cassius yang juling langsung normal kembali. Bunda Maria dan kerabatnya yang menyaksikan adegan penikaman, langsung mendekati salib dan mendapati Cassius tetap berlutut di hadapan Salib Yesus. Bersama Bunda Maria dan kerabatnya, Cassius pun turut mengumpulkan darah dan air dari lambung Yesus dalam bejana-bejana, dan menyeka sisanya dengan potongan-potongan kain lenan.

Persiapan Sebelum Menurunkan dan Menguburkan Jenasah Yesus

Sesudah meninggalkan istana Pilatus, Yusuf dari Arimatea langsung  menemui Nikodemus  yang sedang berada di rumah seorang perempuan yang adalah pedagang rempah-rempah harum.  Nikodemus membeli banyak wangi-wangian yang diperlukan untuk mengurapi jenazah Yesus. Perempuan itu mendapatkan rempah-rempah yang mahal dari berbagai tempat lain. Yusuf pergi membeli kain lenan yang baik mutunya. Para pelayan Yusuf mengambil tangga, palu dan martil, pasak, tempayan-tempayan air serta bunga-bunga karang dari sebuah gudang dekat sana, lalu menempatkan barang-barang itu dalam sebuah tandu. 

Yusuf juga memerintahkan beberapa pelayannya untuk membersihkan kubur baru di taman. Para pelayan yang telah membersihkan kubur, menuju Kalvari dan memberitakan kepada Bunda Maria bersama kerabatnya bahwa tuan mereka (Yusuf Arimatea) akan mengambil dan memakamkan jenasah Yesus di sebuah kubur baru.

Mendengar itu, Yohanes langsung kembali ke kota bersama para perempuan yang menyertai sekaligus, agar Bunda Maria dapat sedikit pulih kekuatannya. Setiba di kota, Yohanes membeli beberapa barang yang diperlukan untuk pemakaman. Bunda Maria beristirahat di suatu penginapan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan dekat Senakel. Mereka tidak masuk kembali ke kota lewat gerbang yang paling dekat Kalvari,  sebab gerbang ditutup dan dijaga oleh para algojo yang disiagakan di sana oleh kaum Farisi. Mereka lewat gerbang yang menuju ke Betlehem.

Nikodemus telah membeli seratus pon akar-akaran. Mereka membawa rempah-rempah itu dalam tong-tong kecil yang terbuat dari kulit kayu dengan menggantungkan di sekeliling leher  dan menempel pada dada. Satu di antara tong-tong ini berisi semacam bubuk. Ada pula beberapa kantong ramu-ramuan dalam tas-tas yang terbuat dari perkamen atau kulit. Yusuf dari Arimatea membawa sekotak minyak urapan. Para hamba membawa bejana-bejana, botol-botol kulit, bunga-bunga karang dan perkakas serta lentera tertutup. Para pelayan berangkat menuju Bukit Kalvari. Begitu juga Yohanes dan para perempuan kudus menyusul para hamba itu ke Kalvari. Para perempuan berjumlah kurang lebih lima orang, sebagian dari mereka dengan balutan-balutan tebal kain lenan di bawah mantol mereka. 

Yusuf dan Nikodemus juga dalam busana kabung; mereka mengenakan busana berlengan hitam dan ikat pinggang lebar. Jubah mereka, yang mereka tudungkan ke atas kepala, lebar dan panjang, berwarna abu-abu, berfungsi pula untuk menyembunyikan segala yang mereka bawa.

Ketika Yusuf dan Nikodemus tiba di gerbang kota, mereka mendapati gerbang ditutup, para algojo berjajar sepanjang jalan-jalan serta tikungan-tikungan. Yusuf menunjukkan surat perintah yang ditandatangani Pilatus, agar mereka dapat lewat dengan bebas. Para algojo dengan senang hati mempersilakan, sambil menjelaskan kepada Yusuf, bahwa telah beberapa kali mereka berusaha membuka pintu gerbang, namun gerbang sama sekali tidak bisa terbuka. Tampaknya gerbang terimbas gempa dan macet di suatu bagian. Tetapi ketika Yusuf dan Nikodemus mengulurkan tangan meraih palangnya, pintu gerbang terbuka seolah dengan sendirinya, sehingga mereka semua yang menyaksikannya amat tercengang.

Yusuf dan Nikodemus ketika tiba di Bukit Kalvari mendapati para pelayan  yang diutus terlebih dahulu telah tiba. Begitu pula para perempuan sedang duduk menangis di depan Salib. Cassius dan beberapa algojo tetap berada dalam jarak tertentu dengan sikap penuh hormat. Yusuf dan Nikodemus menceriterakan kepada Bunda Maria dan Yohanes segala daya upaya yang telah mereka lakukan demi menyelamatkan Yesus dari kematian yang keji. Begitu juga  upaya mereka yang berhasil mencegah tulang-tulang Yesus tidak dipatahkan.  Sedangkan para perempuan juga bercerita mengenai luka yang dibuat Cassius dengan tombaknya. Tak lama berselang kepala pasukan Abenadar tiba dan langsung mereka memulai menurunkan tubuh Yesus dari Salib dan kemudian mengurapiNya.

Jenasah Yesus Diturunkan dari Salib

Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena duduk di kaki Salib. Sementara di sebelah kanan antara salib Dismas dan Salib Yesus, para perempuan  sibuk mempersiapkan kain lenan, rempah-rempah, air, bunga-bunga karang dan bejana-bejana. Cassius juga datang mendekat dan menceriterakan kepada Abenadar mukjizat penyembuhan matanya. Semua yang hadir tampak begitu terharu, hati mereka diliputi dukacita dan belas kasih. Namun, pada saat yang sama, mereka tetap menjaga keheningan yang khusuk, setiap gerak-gerik mereka penuh kesalehan dan hormat. Maria Magdalena tak henti-hentinya menangisi Yesus. 

Nikodemus dan Yusuf menyandarkan tangga-tangga ke belakang Salib dan memanjatnya. Pada tangan mereka membawa sehelai kain lebar di mana dipasang tiga tali pengikat yang panjang. Mereka mengikatkan tubuh Yesus, mulai dari bagian bawah kedua lengan hingga ke lutut, pada palang Salib dengan tali-tali pengikat, dan menahan kedua lengan dengan mengikatkannya pada lengan salib dengan kain-kain lenan. 

Lalu mereka melepaskan paku-paku dengan mendorong paku-paku itu dari belakang menggunakan pasak-pasak kuat yang dihantamkan ke ujung-ujung paku. Dengan itu, tangan-tangan Yesus tidak banyak terkoyak dan paku-paku mudah berjatuhan dari luka-luka. Tampak luka-luka telah semakin melebar oleh sebab berat tubuh. Tubuh Yesus ditopang dengan kain sehingga tidak lagi tergantung pada paku. Pada bagian bawah tubuh, yang sejak wafat  telah melorot ke lutut, berada pada posisi normal karena disangga oleh kain yang diikatkan ke lengan-lengan Salib. Yusuf melepaskan paku dari tangan kiri, dan selanjutnya diselubungi dengan kain sehingga tangan jatuh dengan lembut ke atas tubuh.  Nikodemus mengikatkan lengan kanan Yesus pada palang Salib, dan kepala yang bermahkotakan duri, yang terkulai ke bahu kanan. Lalu ia melepaskan paku kanan, dan setelah menyelubungi lengan dengan kain penyangganya, membiarkan tangan itu jatuh dengan lembut ke atas tubuh. Pada saat yang sama, kepala pasukan Abenadar, dengan bersusah-payah melepaskan paku besar yang menembusi kedua kaki Yesus. Cassius dengan hormat menerima paku-paku itu dan meletakkannya di depan kaki Santa Perawan.

Setelah menyandarkan tangga-tangga ke bagian depan Salib dengan posisi nyaris tegak lurus dan dekat dengan tubuh Yesus, Yusuf dan Nikodemus melepaskan tali pengikat bagian atas dan mengaitkannya ke salah satu kaitan yang ada pada tangga. Lalu melakukan hal yang sama dengan kedua tali pengikat lainnya. Demikianlah Yusuf dan Nikodemus memindahkan tali-tali pengikat dari kaitan yang satu ke kaitan yang lainnya. Dengan itu tubuh kudus Yesus turun dengan perlahan dan lembut dan diterima oleh Abenadar yang berdiri di atas sebuah bangku. Abenadar menerima jasad Yesus dalam pelukannya sambil menahannya. Sementara Yusuf dan Nikodemus, dengan menyangga bagian atas tubuh Yesus, menuruni tangga perlahan-lahan hingga ke tanah. 

Semua mata menatap lekat pada tubuh Yesus dan mengikuti setiap gerak-gerik Yusuf, Nikodemus dan Abenadar. Saat jasad Yesus diturunkan tubuhNya terbalut kain lenan dari lutut hingga ke pinggang. Kemudian mereka meletakkannya dalam pelukan Bunda Maria yang sedang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Sang Putera.


By. Matheus Antonius Krivo





Pakaian Yesus Dilucuti, Dipaku, Tergantung dan Wafat di Salib (Kronologis 13)

 

Biarkan KITA tahu kisah Yesus ketika PakaianNya Dilucuti, Dipaku, Tergantung dan Wafat di Salib. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi XXXVIII, XXXIX.XLI,XLII,XLIII, XLIV,XLV,XLVI“Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya,” Alkitab Gereja Katolik dan Wikipedia bebas dalam bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.

Ketika segala persiapan untuk penyaliban telah selesai, keempat algojo pembantu pergi ke gua dan langsung menyeret Yesus dengan sikap brutal. Saat Yesus keluar dari gua, khalayak ramai yang menonton meneriakan kata-kata cemooh. Sejumlah perempuan yang menyertai Maria Bunda Yesus berupaya menyerahkan sejumlah uang kepada seorang laki-laki, sambil memohonnya agar memberikan uang kepada para algojo pembantu, asalkan mereka mengijinkan Yesus meneguk anggur yang telah dipersiapkan Serafiah/Veronica.  Akan tetapi para algojo yang menerima anggur, bukannya memberikan  kepada Yesus, tapi mereka meneguknya sendiri. 

Pakaian Yesus Dilucuti

Segera setelah Yesus ada di hadapan para algojo, mereka langsung melucuti pakaian dari tubuh Tuhan. Mereka melucuti mantol, ikat pinggang di mana tali-temali diikatkan, dan ikat pinggang sendiri. Ketika mendapati bahwa tidak bisa melepaskan jubah wol (ditenun oleh Bunda Maria), dari kepala Yesus oleh karena terhalang mahkota duri yang tertancap di kepala, para algojo merenggut dengan kasar mahkota duri, sehingga merobek kembali setiap luka. Usai mengeluarkan mahkota duri para algojo mencengkeram jubah, sambil mengoyakannya dengan kasar di atas kepala Yesus yang penuh luka dan berdarah. 

Yesus berdiri di hadapan para musuh yang bengis, dalam keadaan telanjang tanpa busana. Tertinggal hanyalah kain  penutup bahu pendek yang tergantung pada pundak dan kain linen yang melilit pinggang. Kain penutup bahu yang terbuat dari wol itu tertanam dalam luka-luka. Yesus merasakan betapa sakit mengerikan ketika algojo menarik kain itu dengan kasar. Pada saat itu tubuh Yesus sama sekali lemah akibat luka-luka dan kehilangan begitu banyak darah. Yesus seakan tidak mampu lagi menyangga tubuhNya sendiri. Sekujur tubuh penuh luka menganga, bahu dan punggung terkoyak hingga ke tulang-belulangnya.  Yesus nyaris jatuh, ketika para algojo  menggiringNya ke suatu batu besar guna mendudukkan sesaat. Ketika baru saja Yesus duduk, algojo kembali menancapkan  mahkota duri di atas kepalaNya. Lalu algojo menawarkan cuka dan empedu, tetapi Yesus memalingkan wajah-Nya dalam kebisuan. 

**Para algojo membawa dua tempayan yang satu berisi cuka dan empedu, sedangkan yang lain berisi campuran anggur, rempah-rempah dan absinth.  Minuman dari tempayan kedua yang ditawarkan kepada Yesus.


Yesus Dipaku pada Salib

Setelah beberapa saat Yesus duduk, para algojo kembali memerintahkan Yesus untuk menempatkan di atas salib agar mereka segera memakunya.

Para algojo mencengkeram tangan kanan Yesus, lalu meregangkannya ke lubang paku yang telah dipersiapkan, mengikatkannya erat-erat pada lengan salib menggunakan seutas tali. Seorang algojo berlutut di atas dada, algojo kedua memegangi tangan Yesus agar lurus pada palang salib. Algojo ketiga mengambil sebuah paku panjang yang tebal, menekankannya pada telapak tangan dan dengan sebuah palu besi yang besar memalukan paku menembusi daging hingga tembus ke papan salib. 

Yesus meneriakkan satu saja erangan yang dalam dan tertahan, darah pun muncrat memerciki lengan para algojo pembantu. Paku-paku itu sangat besar, ukuran kepalanya sebesar mata uang koin, dan tebalnya setebal ibu jari tangan. Ujung-ujung paku menembusi hingga bagian belakang palang salib. 

Ketika para algojo telah memakukan tangan kanan, mereka mendapati bahwa tangan kiri tidak mencapai lubang paku yang telah dipersiapkan. Oleh sebab itu algojo melilitkan tali-temali pada lengan kiri, sambil menginjak palang salib kuat-kuat, mereka menarik paksa tangan kiri sekencang mungkin hingga tangan itu mencapai tempat yang telah dipersiapkan. Perlakuan yang mengerikan ini mengakibatkan Yesus merasakan sakit yang tak terperi, dadaNya turun-naik, kedua kaki menekuk tegang. Kemudian seorang algojo berlutut di atas dada Yesus, mengikatkan lenganNya pada lengan salib dan memakukan paku kedua ke tangan kiri. Darah segar muncrat, suara erangan- yang lemah sekali lagi terdengar sayup-sayup di antara suara dentaman palu.  Oleh karena kedua lengan Yesus diregangkan secara paksa, sehingga tidak bisa lagi menempel pada lengan salib yang bentuknya curam. Terdapat jarak yang lebar antara lengan dan ketiak. 

Para algojo memasang sepotong papan kayu pada bagian bawah badan salib, guna kaki Yesus dapat dipakukan. Dengan demikian beban tubuh Yesus tidak akan bertumpu pada kedua tangan yang terkoyak, sekaligus mencegah agar tulang-tulang kaki jangan sampai patah saat dipakukan ke palang salib. Sebuah lubang paku telah dibuat pada papan kayu  ketika paku dipalukan menembusi kaki. Tersedia pula lekukan kecil bagi tumit. Hal ini dilakukan agar tangan Yesus tidak terkoyak akibat beban tubuh yang dapat mempercepat kematian. Para algojo menginginkan Yesus mengalami penyiksaan yang lama di atas salib, sebelum akhirnya mati.  

Sekujur tubuh Yesus telah tertarik ke atas, menegang karena  peregangan paksa pada kedua tangan. Ketika mendapati kedua lutut Yesus yang tertekuk, para algojo berusaha meluruskan dan mengikatkan kuat-kuat pada palang salib menggunakan tali-temali. Begitu mendapati bahwa kaki Yesus tidak mencapai papan kayu yang telah dipersiapkan bagi tumpuan kakinya, sejumlah algojo menjadi berang. Sebagian dari algojo mengusulkan agar dibuat lubang-lubang paku bagi paku-paku yang menembusi kedua tangan, sebab teramat sulit memindahkan papan kayu. Akan tetapi sebagian algojo lainnya tidak mau melakukannya, malahan berteriak-teriak, “Dia sendiri tidak akan meregangkan tubuh-Nya begitu rupa, tetapi kita akan membantu-Nya”. Para algojo mengucapkan itu disertai sumpah-serapah dan kutukan pada Yesus. 

Setelah melilitkan tali-temali pada kaki kanan Yesus, para algojo menariknya dengan kencangnya hingga kaki mencapai papan kayu, dan mereka mengikatnya erat-erat. Yesus sungguh merasakan sakit begitu ngeri hingga mengeluarkan kata-kata dari mulutNya, “AllahKu, ya AllahKu”. 

Selanjutnya para algojo mengikatkan dada dan kedua lengan Yesus ke palang salib, karena khawatir kalau-kalau kedua tangan terobek karena paku. Lebih lanjut para algojo menumpangkan kaki kiri ke atas kaki kanan, setelah terlebih dahulu melubangi kedua kaki Yesus dengan semacam alat tusuk, sebab kedua kaki-Nya tak dapat dipaku sekaligus bersama-sama. Seorang algojo mengambil sebatang paku yang sangat panjang dan menembuskannya ke kedua kaki Yesus hingga ke palang kayu di bawahnya. Hantaman palu selama penyaliban sebanyak tiga puluh enam kali. Ketika penyaliban Yesus telah selesai, komandan algojo Romawi memerintahkan agar prasasti Pilatus digantungkan di puncak salib. 

Salib Yesus Dipancangkan

Kira-kira pukul dua belas lewat seperempat penyaliban Yesus berakhir. Selanjutnya para algojo  melilitkan tali-temali ke badan salib dan mengikatkan ujung-ujung tali ke suatu balok panjang yang dipancangkan kuat ke atas tanah.  Dengan bantuan tali-temali ini para algojo mengangkat salib. Sebagian dari algojo menahan salib, yang lainnya mendorong kaki salib ke lubang yang telah dipersiapkan. Salib Yesus diangkat tinggi-tinggi, lalu terayun-ayun sejenak di udara dan akhirnya masuk ke dalam lubang dengan suatu hentakan yang hebat. Suara sorak dan teriak cemooh menggema dari khalayak saat menyaksikan salib jatuh dengan dentuman hebat ke dalam lubang. Para algojo pembantu menggeser-geser salib agar menancap kuat ke dalam lubang. Lalu  mereka memasang lima pancang sekelilingnya guna menahan salib. 

Ketika salib dipancangkan, Yesus mengerang lemah, segala luka terkoyak, darah memancar lagi, tulang-tulang setengah terlepas dari engselnya, saling bertumbukan satu dengan yang lainnya. 

Pada saat salib Yesus terpancang ke dalam lubang dengan dentuman hebat, tampak Bunda Maria, Yohanes dan para rasul, para perempuan kudus, dan orang-orang yang bersimpati membungkuk hormat dan menyembah “Sabda yang menjadi daging.” Sambil mengedangkan tangan-tangan  seakan mereka memohon pertolongan dari Yang Mahakudus. 

Puncak bukit tempat salib Yesus dipancangkan, kira-kira dua kaki lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Olehnya kedua kaki Yesus cukup dekat dengan tanah sehingga para sahabat-Nya dapat menggapai serta menciumnya. Wajah Yesus menghadap ke arah Barat Laut.

Para algojo lalu menyandarkan tangga-tangga ke sisi salib, memanjatnya dan melepaskan tali-temali yang tadinya mereka gunakan untuk mengikatkan tubuh Yesus ke salib sebelum salib dipancangkan. Ketika tali temali dilepaskan darah memancar dan mengalir normal kembali. Saat itu Yesus merasakan sakit yang luar biasa sehingga Dia menundukkan kepala dan seolah-olah mati. Penampakan Yesus ketika di atas Kayu Salib:

wajah sama sekali rusak dan tidak dapat dikenali lagi;

kepala ditudungi mahkota duri menyebabkan Dia tidak dapat mengangkat kepala lagi;

bibir kering kerontang dan setengah terbuka karena kehabisan tenaga;

rambut dan jenggot lengket oleh darah;

dada terkoyak oleh bilur-bilur; 

kedua siku, pergelangan tangan dan pundak bengkak;

tulang-tulang nyaris terlepas dari persendian;

darah terus-menerus menetes dari luka-luka menganga di kedua tangan;

daging pada sekujur tubuh tercabik-cabik begitu rupa hingga nyaris dapat menghitung tulang-tulang rusuk-Nya;

kedua kaki dan lengan Yesus diregangkan paksa nyaris terlepas;

Sekujur tubuh penuh luka lebam berwarna hitam, biru dan  berdarah. Darah yang memancar dan menetes pada mulanya berwarna merah, lambat-laun menjadi pucat dan berair.  

Pemandangan yang bertolak belakang dengan sosok Yesus, Sang Allah  sebelumnya. Warna kulit putih bersih, agak kemerah-merahan dan kecoklatan; dadanya bidang tak berbulu; bahunya lebar, kedua tangan dan kaki berotot; lutut kuat dan keras; kedua tungkai kaki panjang dengan otot-otot kuat;  bentuk kaki indah, tangan dan jari-jemari panjang dan lentik, dan meskipun tidak lembut seperti jemari wanita, juga tidak serupa jemari tangan lelaki yang biasa bekerja keras; leher jenjang;  kepala serasi;  kening lebar dan tinggi;  wajah oval; rambut lebat berwarna coklat keemasan dengan belahan di tengah dan jatuh tergerai di pundak;  jenggot tidak panjang, tetapi lancip dan terbelah di dagu. 


Pakaian Yesus Dibagi-bagikan

Usai memancangkan Salib Yesus, para algojo membagi-bagi pakaian Yesus serta membuang undi atasnya. Mantol Yesus, yang sempit di bagian atas dan sangat lebar di bagian bawah, dengan bertali-tali di dadanya.  Para algojo mencabut tali-talinya dan menjadi tali-tali lepas, lalu dibagi-bagikan. Hal sama juga dilakukan atas jubah putih yang panjang, ikat pinggang, penutup bahu, dan baju dalam yang sepenuhnya basah oleh darah. Oleh karena tak dicapai kesepakatan atas siapa yang berhak memiliki jubah tak berjahit yang tak dapat disobek ataupun dibagi, para algojo mengeluarkan semacam papan catur yang ditandai dengan figur-figur untuk diundi. Ketika siap melemparkan undi, seorang pesuruh yang diutus Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, menyampaikan kepada para prajurti bahwa ada orang-orang yang bersedia membeli segala pakaian Yesus. Mendengar itu, para algojo mengumpulkannya kembali dan menjualnya dalam satu buntalan. Pakaian Yesus ini kemudian menjadi reliqui dalam Gereja.

Kedua Penyamun yang Disalibkan Mengapiti Yesus

Selama penyaliban Yesus berlangsung, kedua penyamun dibiarkan terbaring di tanah agak jauh dari sana. Kedua tangan mereka diikatkan pada palang salib. Beberapa algojo berjaga di sekitarnya. Adapun tuduhan yang telah terbukti atas mereka adalah pembunuhan terhadap seorang perempuan Yahudi bersama anak-anaknya, sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yoppa. Kedua penyamun ditangkap dalam penyamaran mereka sebagai pedagang kaya, di sebuah benteng di mana Pilatus sesekali tinggal apabila sedang melatih pasukannya. Keduanya telah lama dipenjarakan sebelum dihadapkan ke pengadilan. Penyamun yang berada di sebelah kiri jauh lebih tua dari yang satunya masih lebih muda. Kedua penyamun dikenal dengan nama Dismas dan Gesmas.  Penyamun yang baik (lebih tua) disebut Dismas dan yang jahat (lebih muda) disebut Gesmas. Keduanya termasuk dalam gerombolan penyamun yang bersarang di perbatasan-perbatasan Mesir. Di salah satu gua yang dihuni oleh kawanan penyamun inilah, Keluarga Kudus tinggal saat melarikan diri ke Mesir, pada waktu pembunuhan Kanak-kanak Suci. Anak malang yang terjangkit kusta, yang serta-merta sembuh saat dibasuh dalam air bekas mandi bayi Yesus, tak lain adalah Dismas. Kemurahan hati ibunya dalam menerima serta memberikan tumpangan kepada Keluarga Kudus telah diganjari dengan kesembuhan puteranya.  Dismas sama sekali tak tahu menahu akan Yesus, tetapi karena dia tidak keras hati dan menyaksikan kesabaran Yesus yang luar biasa telah menyentuh hatinya secara mendalam. 

Usai memancangkan Salib Yesus, tiba gilirannya menyalibkan kedua penyamun. Para algojo melepaskan belenggu kedua penyamun agar dapat menyalibkan mereka sesegera mungkin, sebab langit mulai berawan dan menampakkan tanda-tanda akan datangnya badai. Setelah memberikan rempah-rempah dan cuka kepada mereka, para algojo menanggalkan pakaian kumal kedua penyamun, melilitkan tali-temali sekeliling tangan mereka, dan dengan bantuan tangga-tangga kecil menyeret mereka ke tempat penyaliban. Para algojo lalu mengikatkan lengan kedua penyamun ke palang salib dengan tali-temali yang terbuat dari kulit kayu, mengikat pergelangan tangan, siku, lutut dan juga kaki mereka, menarik tali-temali itu kencang-kencang hingga persendian mereka patah dan darah muncrat ke luar. Kedua penyamun mengerang sekuat-kuatnya. 

Salib kedua penyamun ditempatkan satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri salib Yesus. Keadaan kedua penyamun di atas salib sungguh mengenaskan. Keduanya menanggung sakit yang tak terperi. Seorang yang di sebelah kiri Yesus (yang muda dan jahat) tak henti-hentinya melontarkan kutuk dan sumpah serapah. Sedangkan seorang di sebelah kanan Salib Yesus (seorang yang baik) berseru, “Segala siksa ini sungguh mengerikan, tetapi andai mereka memperlakukan kita seperti mereka memperlakukan Orang Galilea yang malang itu, pastilah kita telah lama mati.”   

Tali-temali yang membelenggu mereka diikatkan sangat kencang, hingga mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa. Rona wajah mereka biru pucat, mata memerah melotot seolah hendak keluar dari tempatnya. Salib kedua penyamun jauh lebih pendek dari salib Tuhan kita.



Perkataan Yesus Saat Tergantung pada Salib

Setelah menyalibkan Yesus dan kedua penyamun, para algojo  membereskan peralatan, sambil melontarkan beberapa patah kata penghinaan kepada Yesus lalu pergi. Begitu pula kaum Farisi dengan menunggang kuda menghampiri Yesus, sambil melontarkan kata-kata cemooh, lalu pergi meninggalkan Kalvari. Algojo Romawi berjumlah seratus orang yang disiagakan pun secara berbaris meninggalkan kawasan Kalvari. Pengamanan diambil alih oleh lima puluh algojo dibawah Abenadar, seorang keturunan Arab. Abenadar di kemudian hari dibaptis dengan nama Ctésiphon. Begitu pula wakilnya bernama Cassius, yang setelah menjadi seorang Kristen dikenal sebagai Longginus. Dua belas orang Farisi, dua belas orang Saduki, sejumlah ahli Taurat dan beberapa tua-tua, datang ke Kalvari setelah gagal membujuk Pilatus agar mengganti tulisan prasasti pada Salib Yesus. Mereka datang dengan menunggang kuda mengitari puncak Kalvari, sambil menghalau Bunda Maria dari kaki salib. Oleh karena diusir Yohanes membawa Bunda Yesus kepada perempuan-perempuan kudus yang berdiri agak jauh dari salib Yesus. Ketika lewat di depan Salib Yesus, mereka menggeleng-gelengkan kepala mengejek Yesus, seraya berseru, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu, turunlah dari salib! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib, supaya kita melihat dan percaya.” Juga, para algojo mengolok-olok Dia.

Ketika pasukan seratus meninggalkan Kalvari dan digantikan oleh pasukan Abenadar, saat itu Yesus yang tergantung nyaris tak sadarkan diri. Gesmas (penyamun yang jahat) yang memperhatikan Yesus berseru, “Setan yang merasuki Dia hendak meninggalkanNya.” Seorang algojo mengambil bunga karang mencelupkannya ke dalam anggur asam, mencucukkannya pada sebatang buluh, dan menghunjukkannya kepada mulut Yesus. Kata algojo itu, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah Diri-Mu! Turunlah dari salib.” 

Tak lama berselang Yesus mengangkat sedikit kepala-Nya dan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Gesmas berseru, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!” Dismas (penyamun yang baik) yang diam membisu, rupanya tersentuh oleh ungkapan pengampunan dari Yesus terhadap musuh-musuhNya. Seketika itu pula ia teringat pada Yesus dan Bunda Maria yang telah menyembuhkannya dari kusta semasa kanak-kanak. Ketika Bunda Maria mendengar suara Puteranya, langsung berlari mendekati salib dengan diikuti oleh Yohanes, Salome dan Maria Kleopas. Abenadar, kepala pasukan tidak menghalangi mereka. Dismas yang sebelumnya diam itu tiba-tiba berseru dengan suara lantang kepada Gesmas, “Bagaimana mungkin engkau menghina Dia sementara Dia berdoa bagimu? Dia begitu tenang dan menanggung segala penghinaanmu dengan penuh kesabaran. Sungguh Dia seorang nabi; Dialah Raja kita; Dialah Putera Allah.” Teguran sekonyong-konyong yang datang dari bibir seorang penjahat hina yang sedang menanti ajal di salib ini menyebabkan kegemparan hebat di antara mereka yang hadir. Mereka memungut batu-batu dan bermaksud melemparkannya kepada si penyamun; tetapi kepala pasukan Abenadar melarang.

Dismas pun terus berkata kepada Gesmas, yang masih juga menghujat Yesus, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita. Tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Ingatlah bahwa engkau sekarang berada di ujung maut, sebab itu bertobatlah.” Dismas beroleh pencerahan dan amat tersentuh hatinya; ia mengakukan segala dosanya kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, jika Engkau menghukum aku, Engkau akan melakukannya dengan adil.” Dan Yesus menjawab, “Engkau akan beroleh belas kasihanKu.” Dismas, yang diliputi tobat sempurna, seketika itu juga memanjatkan syukur kepada Allah atas rahmat luar biasa yang boleh ia terima. Dismas menyesali segala dosanya. Dismas lalu menengadahkan kepalanya ke arah Yesus, sambil berseru dengan penuh harap, “Tuhan, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”  Yesus pun menjawabnya, “Amin, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Maria Magdalena, Maria Kleopas, dan Yohanes berdiri dekat Salib dan menatap Yesus. Sementara Bunda Maria, dikuasai kasih sayang keibuan terdalam, memohon kepada Yesus, agar ia diperkenankan mati bersamaNya. Akan tetapi Yesus memandang kepada IbuNya, lalu mengarahkan pandangan kepada Yohanes dan berkata, “Perempuan, inilah anakmu.” Selanjutnya Yesus berkata kepada Yohanes, “Inilah Ibumu.” Yohanes menatap Yesus yang berada di ambang maut, lalu menyalami Bunda Maria dengan sikap penuh hormat. Bunda Maria yang dikuasai kesedihan setelah mendengar perkataan Yesus itu, nyaris tak sadarkan diri sehingga dipapah pergi agak menjauh dari salib oleh para perempuan yang menyertainya.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul dua belas, setengah jam sesudah penyaliban. Keadaan yang terjadi berubah begitu cepat,  namun  mencengangkan bagi mereka yang menyaksikannya dengan perasaan takjub sekaligus ngeri.

Sejak menjelang pukul dua belas kabut tebal kemerahan menyelimuti Matahari. Bola Matahari berwarna kuning tua. Setelah itu kegelapan menyelimuti seluruh wilayah hingga pukul tiga sore. Tanda alam yang penuh ajaib itu telah memungkinkan Pilatus berdiskusi dengan Herodes tentang keadaan yang terjadi. Pilatus juga memanggil tua-tua dan menanyakan pendapat mereka mengenai kegelapan misterius yang mungkin merupakan suatu pratanda. Pilatus mengatakan bahwa ia sendiri menganggap fenomena ini sebagai bukti mengerikan murka Allah atas penyaliban Orang Galilea itu, yang hampir dapat dipastikan adalah Nabi dan Raja mereka. Pilatus menegaskan diri   bahwa ia sama sekali tak bertanggung-jawab atas apa yang terjadi, sebab ia telah mencuci tangan atas segala perkara itu sehingga tidak bersalah. 

Para tua-tua tetap bersih keras seraya menjawab Pilatus dengan sikap dongkol mengatakan, bahwa tak ada suatu pun yang tidak biasa dalam gejala alam itu. Para filsuf akan dengan mudah menerangkannya.  Mereka sama sekali tidak menyesal atas suatu pun yang telah mereka lakukan terhadap Yesus.

Ketika waktu berajak menuju pukul tiga sore, Yesus berseru dengan suara nyaring, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) Seruan Yesus diambang ajal memecah keheningan yang senyap yang telah berlangsung beberapa saat di Kalvari. Kaum Farisi berpaling kepada Yesus yang tergantung pada salib. Seorang dari mereka berkata, “Lihat, Dia memanggil Elia,” Lalu yang lain pun berkata, “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” Ketika Bunda Maria mendengar suara PuteraNya,  tak kuasa menahan diri, ia berlarian kembali ke kaki Salib, diikuti oleh Yohanes, Maria puteri Kleopas, Maria Magdalena dan Salome. Suatu pasukan berkuda terdiri dari sekitar tiga puluh algojo dari Yudea dan daerah sekitar Yoppa, yang sedang dalam perjalanan ke Yerusalem guna mengikuti perayaan, lewat tepat pada saat sekeliling Salib diliputi keheningan. Ketika mereka melihat Yesus tergantung di kayu Salib dengan keadaan yang begitu ngeri dan keji, sekaligus melihat tanda-tanda luar biasa akan murka Allah yang terpancar dalam gejala alam, mereka pun berseru, “Andai Bait Allah tidak berada di Yerusalem, pastilah kota ini akan dibumihanguskan oleh sebab kejahatan sebegitu keji.” Kaum Farisi yang mendengar pernyataan pasukan itu, terpaksa merendahkan suara mereka, khawatir kalau-kalau terjadi pergolakan. Atas kondisi itu kaum Farisi berunding dengan Abenadar- kepala pasukan, dan bersepakat bahwa pintu gerbang kota yang ada dekat Kalvari akan ditutup, guna mencegah meluasnya kabar tentang peristiwa penyaliban itu. Mereka juga meminta kepada Pilatus dan Herodes untuk memberikan pasukan sejumlah 500 algojo, guna bersiaga menghadapi kemungkinan terjadinya huru-hara. Sementara itu, kepala pasukan menggunakan segala daya upaya sesuai wewenangnya, mengusahakan ketenangan dan mencegah kaum Farisi menghina Yesus lebih lanjut. Kepala pasukan khawatir jika hal itu akan semakin menggusarkan rakyat.

Mendekati pukul tiga, terang berangsur-angsur muncul kembali; bulan beranjak pergi dari bola Matahari. Matahari bersinar, walau tampak redup, karena masih dikelilingi oleh kabut kemerahan. Ketika terang berangsur-angsur pulih, wajah Yesus perlahan terlihat kembali. Yesus dalam keadaan nyaris tak sadarkan diri. LidahNya kering kerontang, sehingga berkata, “Aku haus!” Para murid yang berdiri sekeliling Salib memandang kepadaNya dengan tatapan duka mendalam. Mendengar permintaan Yesus, para murid kebingungan karena tidak terpikirkan oleh mereka mempersiapkan air dan bisa memberikan kepada Yesus menjelang ajal-Nya.  Para murid lalu menyerahkan sejumlah uang kepada para algojo agar mengijinkan mereka memberi Yesus sedikit minum. Para algojo menolaknya. Para algojo kemudian mencelupkan bunga karang ke dalam anggur asam dan empedu hendak memberikannya kepada Yesus.  Kepala pasukan, Abenadar, tergerak oleh belas kasihan mengambil bunga karang dari tangan para algojo. Lalu dia memeras empedunya dan menuangkan anggur asam segar ke dalam bunga karang seraya memasangkannya pada sebatang buluh. Dia menempatkan buluh di ujung sebilah tombak, dan menyerahkannya kepada Yesus agar Dia minum. Dalam situasi itu Yesus mengeluarkan perkataan, “Apabila suaraKu tak lagi terdengar, maka mulut orang-orang mati akan terbuka.” Sebagian dari khalayak yang mendengar berteriak, “Ia menghujat lagi!” Tetapi Abenadar menyuruh mereka diam.



Yesus Wafat

Akhirnya pada pukul tiga sore, Yesus melewati pergulatan maut seketika. Keringat dingin mengaliri sekujur tubuh-Nya. Yohanes berdiri di kaki Salib. Yohanes menyeka kaki Yesus dengan kain pundaknya. Magdalena meringkuk di atas tanah dalam dukacita yang begitu hebat di belakang Salib. Bunda Maria berdiri di antara Yesus dan penyamun yang baik ditopang oleh Salome dan Maria Kleopas. Mata sang Bunda menatap lekat wajah Puteranya yang di ambang ajal. Yesus lalu berkata, “Sudah selesai,” dan mengangkat kepalaNya, Dia berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan RohKu.”  Sekejap kemudian, Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan RohNya.  Yohanes dan para perempuan jatuh rebah ke atas tanah (= prostratio). Kedua mata Abenadar terus terpaku menatap wajah Yesus yang telah rusak sama sekali. Kepala pasukan ini sepenuhnya dikuasai oleh segala yang telah terjadi. Ketika sesaat sebelum wafat, Yesus memaklumkan kata-kata terakhir-Nya dengan suara nyaring, bumi berguncang dalam wujud gempa hebat sehingga bukit karang Kalvari terbelah, membentuk suatu jurang yang dalam antara Salib Yesus dengan salib Gesmas. 

Pada saat ajal, kedua tangan Yesus yang diregangkan paksa dengan paku-paku, terbuka dan kembali ke ukurannya yang normal. Begitu pula kedua lenganNya. Tubuh Yesus menjadi kaku. Berat beban tubuh bertumpu pada kaki. Lutut tertekuk, dan kaki sedikit terpelintir ke satu sisi.

Ketika Abenadar menyaksikan secara seksama detik-detik terakhir Yesus menghembuskan nafasNya; kuda tunggangannya gemetar di bawah pelananya. Hati Abenadar tersentuh hebat mendalam. Abenadar melemparkan tombaknya jauh-jauh, menebah dadanya sembari berseru nyaring, “Terpujilah Allah Yang Mahatinggi, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Sungguh, Orang ini adalah Putera Allah!” 

Dalam kesadaran baru, Abenadar menyerahkan baik kuda maupun tombaknya kepada wakilnya yang bernama Casius (kemudian dikenal dengan Longginus), yang sesudah menyampaikan beberapa patah kata kepada para algojo segera menunggangi kudanya dan mengambil alih pimpinan. Abenadar pun memilih meninggalkan Kalvari, melintasi Lembah Gihon menuju gua-gua di Lembah Hinnom, di mana para murid bersembunyi. Abenadar memaklumkan wafat Yesus kepada mereka, lalu bersama-sama mereka pergi ke kota guna menemui Pilatus. Segera sesudah Abenadar memberikan kesaksian iman di hadapan publik akan keallahan Yesus, sejumlah besar algojo mengikuti jejaknya.Yohanes bangkit berdiri, beberapa perempuan kudus yang ada dekat sana menghampiri Maria dan membimbingnya pergi dari kaki Salib.

Ketika Yesus telah wafat. Kaum Farisi pada mulanya amat cemas dengan adanya gempa, tetapi setelah goncangan  berakhir mereka melemparkan batu-batu ke dalam jurang. Mereka berusaha mengukur kedalaman jurang menggunakan tali. 

Kenyataan ketika terjadi gempa hebat tatkala Yesus Tergantung di Salib

Gempa bumi dahsyat mengakibatkan terjadinya jurang yang dalam di Bukit Kalvari. Begitu juga  terjadi kerusakan parah di berbagai belahan Palestina lainnya. Namun yang paling parah  di Yerusalem.  Kegaduhan dan kekacauan akibat robohnya rumah-rumah dan tembok-tembok kota di segala penjuru menimbulkan kepanikan hebat. Sekonyong-konyong munculnya orang-orang yang telah mati. Jiwa-jiwa orang mati itu menghadang sekaligus menegur dengan kata-kata kecaman kepada orang-orang berdosa yang berlarian hendak menyembunyikan diri.

Meski demikian para imam dan umat Yahudi yang sedang merayakan hari raya di Bait Allah tetap melangsungkan perayaan mereka sampai selesai. Meski kurban sempat terhenti ketika gempa dasyat dan terjadi aliran massa yang berlarian menuju gerbang-gerbang Bait Allah.

Namun para imam tetap berupaya menertibkan ibadat. Para imam mencegah mereka yang berada di bagian dalam Bait Allah berlari keluar. Para imam juga berusaha menerobos khalayak ramai yang berlarian di depan mereka sembari menurunkan anak-anak tangga keluar dari Bait Allah. Sejumlah imam tetap  melanjutkan upacara kurban sambil berusaha menenangkan rakyat.

Pasukan Romawi yang bertugas di benteng Antonia juga berusaha sekuat tenaga menjaga ketenangan. Olehnya kekacauan perayaan tidak berlanjut dengan huru-hara,  meskipun banyak orang dicekam ketakutan dan kecemasan.  

Akibat gempa yang terjadi menimbulkan sejumlah kerusakan di Bait Allah antara lain: 

kedua pilar yang ditempatkan di pintu masuk ruang Yang Mahakudus dari Yang Kudus, di mana suatu tirai sakral digantungkan, digoncang hebat hingga ke dasarnya; 

pilar di sisi kiri roboh ke arah Selatan, sementara pilar di sisi kanan roboh ke arah Utara. Akibat robohnya kedua pilar  mengoyakkan tabir menjadi dua dari atas sampai ke bawah disertai bunyi mengerikan. Olehnya tersingkaplah ruang Yang Mahakudus dari Yang Kudus yang membuat orang banyak dapat melihatnya; 

sebuah batu besar terlepas dari tembok dan jatuh di pintu masuk tempat kudus;

Bangunan melengkung Bait Suci patah; tanah tercabut, dan banyak pilar lainnya yang roboh.

Bukit Golgota

"Golgota" (Γολγοθα) merupakan transkripsi dalam bahasa Yunani dari kata Aram "Gûlgaltâ" (baca: gulgalta), yang berarti 'tengkorak' (Matius 27:33; Markus 15:22; Lukas 23:33). Nama itu disesuaikan dengan bentuk tempatnya yang bulat mirip tengkorak. Alkitab menerjemahkannya dengan istilah yang berarti "tempat tengkorak" (bahasa Inggris: place of [the] skull), dalam bahasa Yunani Κρανίου Τόπος (Kraníou Tópos), dan dalam bahasa Latin Calvariae Locus, darimana muncul istilah "Kalvari" (bahasa Inggris: Calvary).

Etimologi istilah "tempat tengkorak" didasarkan akar kata kerja Ibrani גלל g-l-l, dari mana diturunkan kata Ibrani untuk "tengkorak", גֻּלְגֹּלֶת (gulgōleṯ). Sejumlah penjelasan alternatif diberikan untuk nama ini. Ada yang mengusulkan nama Aramnya sebenarnya adalah Gol Goatha, artinya bukit penghukuman, kemungkinan sama dengan lokasi Goatha yang disinggung dalam Kitab Yeremia, dalam menggambarkan geografi Yerusalem. Penjelasan lain adalah tempat itu merupakan lokasi pelaksanaan penghukuman umum, sehingga nama itu merujuk kepada banyaknya tengkorak yang ditinggalkan dapat ditemukan di sana, atau bahwa lokasi itu dengan dengan pemakamam umum, dan nama itu mengacu kepada tulang-tulang yang dikuburkan di sana. Teks Kitab Suci tentang Golgota :

Injil Matius, 27:33: Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Injil Markus, 15:22: Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.

Injil Lukas, 23:33: Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

Injil Yohanes, 19:17: Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.


Hukuman Mati Dengan Cara  Disalibkan 

(oleh Pastor Kamilus Ndona Sopi, CP)

Hukuman mati ini berasal dari negeri Persia. Kemudian diambil alih oleh Yunani. Sejak perang dengan Kartago, orang Roma mulai menggunakan hukuman salib. Bangsa Romawi menjadikan salib sebagai alat hukuman yang paling kejam terhadap para budak dan orang-orang asing (terutama orang jajahan) yang memberontak.

Bagi orang Yahudi hukuman diberikan bagi para pemuja berhala, penghojat dan pemberontak dengan cara dirajam dengan batu dan digantung pada sebuah tiang. Terhukum dibiarkan mati secara mengerikan karena dianggap dikutuk oleh Allah. Dan agar tidak menajiskan, maka mayatnya segera dikuburkan (Ul 21:23). "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Gal 3:13).

Penyaliban diawali penderaan dengan tujuan memperlemah daya tahan tubuh terhukum, dibuat tidak dapat melawan dan menjadi bahan olok-olokan. Cara mendera orang Yahudi berbeda dengan orang Romawi. Orang Yahudi tidak boleh memberikan deraan lebih dari empat puluh pukulan, masing-masing pada bahu kiri dan kanan serta dada. Hukuman orang Romawi tidak ada batasnya dan   boleh memukul di mana saja. 

Alat penderaan terbuat dari cambuk yang ujungnya diperkuat dengan batu-batu timah dengan paku-paku kecil di ujungnya atau tulang punggung binatang yang telah diruncingkan ujung-ujungnya.

Tangan si terhukum diborgol dan diikat pada sebuah tiang yang tingginya berukuran kurang lebih 60 cm. Dalam posisi membungkuk si terhukum didera oleh algojo-algojo. Kedahsyatan penderaan dapat menyebabkan banyak luka dan darah di seluruh tubuh terhukum.   Yesus Sendiri disesah secara luar biasa, di mana Ia menerima tidak kurang dari 121 kali deraan atau tidak kurang dari 726 luka di sekujur Tubuh-Nya). Luka-luka dan aliran darah bekas penderaan tentu saja mempercepat proses kematian.Olehna rupaNya pun tak tampak (Yes 1:6; 53: 3-4).

Patibulum adalah kayu palang yang beratnya berkisar antara 50-60 kg dan panjangnya sekitar 1,5 meter dengan lubang di tengahnya. Si terhukum dipaksa untuk membawa sendiri patibulum-nya ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Tempat eksekusi biasanya sangat strategis agar mudah ditonton orang yang lewat. Di tempat ini telah dipancang tiang vertikal (stipes), yang ujungnya dibuat lebih kecil sehingga patibulum mudah dimasukkan padanya.

Kedua tangan si terhukum diikat terentang pada patibulum yang diletakkan pada bahunya. Tali dililitkan pada tangan kanan membelit lengan, melingkari dada, lalu membelit lengan kiri, mengikat tangan kiri; ujung tali diikat pada pergelangan kaki kiri, sehingga ia terpaksa berjalan membungkuk, tidak bebas dan menimbulkan tertawaan khalayak ramai yang menyaksikannya.

Tiba di tempat hukuman si terhukum dibaringkan. Lebih dahulu tangannya direntang, dipaku dan/atau diikat pada patibulum di atas tanah, kemudian patibulum dengan orangnya diangkat dan ditancapkan pada tiang stipes melalui lubang patibulum itu. Sesudah itu kaki si terhukum dipakukan pada tiang stipes.

Ada sebatang kayu kecil (sedicula) ditempelkan pada bagian pantat atau pun telapak kaki. Dengan demikian lengan si terhukum tidak mudah sobek dan ia akan bertahan lebih lama pada salib. Kemudian si terhukum dibiarkan tergantung pada kayu salib sampai ia wafat. Untuk mempercepat proses kematian, si terhukum seringkali disesah dan kakinya dipatahkan (crurifragium) (bdk Yoh 19: 31-32).

Bagi yang tidak punya kuburan, mayat si terhukum seringkali dibiarkan membusuk, bahkan menjadi mangsa serangga dan binatang buas. Namun, kerap juga kaum kerabat atau keluarga meminta izin dengan memberi sejumlah uang kepada penguasa, supaya mayat si terhukum dapat dikuburkan.  


By. Matheus Antonius Krivo



Selasa, 19 Agustus 2025

Yesus Ditangkap (Kronologis 3)

 


Biarkan KITA tahu kisah Yesus ditangkap. Ada kisah dan alur yang belum semuanya terungkap. Tulisan ini bersumber dari:“The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” Meditasi VI. “Diterjemahkan oleh YESAYA:  www.indocell.net/ yesaya” dan Alkitab Gereja Katolik serta dari Wikipidia Bahasa Indonesia. Kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi yang membacanya.


Yesus Ditangkap

Persiapan Penangkapan  dan Yudas Berkhianat 

Yudas memilih berkhianat karena sudah lelah mengikuti Yesus Sang Guru pergi kemana-mana, menghabiskan banyak waktu dan terancam keselamatan, lantaran Yesus telah membuat pertentangan di tengah masyarakat Yahudi. Selain itu Yudas agak dongkol pada Maria Magdalena yang menyediakan minyak Narwastu yang mahal harganya untuk mengurapi kaki Yesus. 

Pada titik itu, Yudas mulai membangun relasi dengan utusan-utusan kaum Farisi dan Saduki. Para utusan kaum Farisi selalu membisikan kepadanya tentang kejahatan-kejahatan yang dibuat Yesus sehingga menimbulkan pertentangan. Sekaligus mereka ingin menghentikan semuanya itu dengan cara menangkap Yesus. Terhadap berbagai informasi itu, Yudas ingin memanfaatkannya untuk mendapatkan sesuatu dari kaum Farisi dan Saduki yang sedang melawan Yesus karena pengajaranNya.

Pada hari-hari terakhir, pembicaraan Yudas dengan kaum Farisi dan Saduki sudah masuk pada tahap memastikan momentum untuk menangkap Yesus. Sejumlah informasi penting ditanyakan kepada Yudas,  “Apakah kita akan dapat menangkap-Nya? Adakah orang-orang bersenjata bersama-Nya?” Yudas pun menjawab: “Tidak, Ia seorang diri bersama kesebelas rasul. Dia sedang amat berduka, dan kesebelas rasul adalah orang-orang yang penakut.”  Dalam komunikasi tersebut, Yudas dengan kepentingannya meyakinkan mereka bahwa  saat yang tepat adalah sekarang untuk menangkap Yesus. Kalau wakut yang lain kemungkinan dia tidak lagi memiliki kuasa untuk menyerahkan Yesus ke dalam tangan mereka. Yudas juga sudah meyakini, bahwa dia barangkali tidak akan pernah kembali kepada kelompknya Yesus. Oleh karena beberapa hari belakangan para rasul yang lain dan Yesus sendiri mulai menaruh curiga kepadanya. Kalau kembali bisa saja mereka akan membunuhnya. Begitu juga, Yudas meyakinkan mereka bahwa apabila mereka tidak segera menangkap Yesus, Yesus akan meloloskan diri dan kembali dengan bala tentara dari para pengikut-Nya, dan mengangkat diri sebagai raja. 

Oleh pernyataan Yudas dan ancamannya, memungkinkan kaum Farisi dan Saduki serta Sanhendrin bersekongkol untuk memberi Yudas upah dalam upayanya memuluskan penangkapan Yesus. Yudas  diberi upah tigapuluh keping uang perak. Kepingan-kepingan uang ini berbentuk persegiempat, dengan lubang-lubang di sisi-sisinya, diikat menjadi satu menggunakan cincin-cincin menyerupai rantai. Sesungguhnya Yudas kecewa dengan upah yang diterimanya karena terlalu mahal darah Yesus Sang Guru yang harus dikorbankan. Meski  kecewa, tapi Yudas tidak bisa lagi menolak skenario dan konspirasi kaum Farisi, Saduki dan para imam kepala untuk menangkap dan membunuh Yesus. Ada tiga orang mendampingi Yudas ketika pergi ke ruangan saat para Algojo Bait Allah berkumpul. Di sana kepada Yudas dipastikan kesiapan pasukan yang akan melakukan penangkapan Yesus. Ketika Yudas mengikuti Perjamuan Terakhir, ada seorang utusan yang bertindak sebagai mata-mata menyertainya guna memastikan apakah Yesus sudah berangkat dari tempat perjamuan menuju Taman Getsemani.

Kayu Salib Dipersiapkan

Ketika Yudas telah menerima upah, seorang Farisi pergi keluar dan menyuruh tujuh hamba untuk mengambil kayu yang akan dipergunakan sebagai Salib bagi Yesus, seandainya Dia berhasil dihadapkan ke pengadilan. Mereka melakukan itu karena keesokan harinya tak akan ada cukup waktu mempersiapkan mengingat segera dimulainya perayaan Paskah. Para hamba kaum Farisi mendapatkan kayu dari suatu tempat sekitar tigaperempat mil jauhnya,  dekat sebuah tembok tinggi, di mana terdapat banyak balok-balok kayu lainnya milik Bait Allah. Para hamba menyeretnya ke suatu lapangan yang terletak di belakang pengadilan Kayafas. Balok kayu utama Salib berasal dari sebatang pohon yang dulunya tumbuh di Lembah Yosafat, dekat Sungai Kidron. Kayu itu tumbang melintasi aliran sungai, sekalian dipergunakan sebagai semacam jembatan penyeberangan. Ketika Nehemias menyembunyikan api suci dan bejana-bejana suci di kolam Betsaida, balok itu ditinggalkan di sana bersama dengan balok-balok kayu lainnya. Salib terdiri dari lima potong kayu. 

Mereka pun mempersiapkan kayu-kayu balok itu untuk menjadi salib. Pengerjaan salib dilakukan ketika sepanjang malam sejak Yesus ditangkap. Para algojo juga mempersiapkan salib untuk kedua penyamun. Para pekerja sangat mengomel saat mengerjakan salib karena dikerjakan sepanjang malam. Omelan mereka sempat didengar oleh Maria Ibu Yesus sendiri dan para perempuan yang menyertainya ketika berada di area pengadilan Kayafas.

Para pekerja cukup menghadapi kesulitan dalam mengerjakan salib untuk Yesus. Setiap saat mereka harus mengambil kayu-kayu baru, sebab selalu tidak cocok. Ada pula yang pecah dan retak. Olehnya terdapat potongan-potongan kayu yang berbeda dipasangkan pada salib. 

Persiapan Akhir Dan Perjalanan Menangkap Yesus

Yudas setelah meninggalkan Perjamuan bersama Yesus, langsung menemui komplotan musuh Yesus untuk memastikan persiapan akhir menuju penangkapan di Bukit Zaitun. Yudas meminta agar hanya sekelompok kecil orang saja yang diutus menyertainya untuk melakukan penangkapan. Jika tidak, maka para murid Yesus yang berjaga akan merasa curiga dan terjadi huru-hara. Terhadap strategi Yudas ini, kaum musuh Yesus, menempatkan tiga ratus orang di gerbang-gerbang kota dan di jalan-jalan Ophel, sebelah Selatan Bait Allah, dan di sepanjang Lembah Millo hingga ke rumah Hanas, dan di atas Bukit Sion. Penempatan orang-orang tersebut sebagai siaga jika diperlukan untuk mengirimkan bala bantuan. Yudas menempuh strategi itu karena segenap rakyat di Ophel adalah pengikut Yesus. Selain itu Yudas juga meminta mereka agar berhati-hati, supaya jangan sampai Yesus meloloskan diri. Kalau sudah tertangkap Yudas menyarankan agar Yesus dibelenggu dengan rantai dan mempergunakan bentuk-bentuk magis lainnya sehingga mencegah Yesus meloloskan diri. Mendengar permintaan Yudas, pasukan musuh Yesus menyatakan dengan acuh tak acuh, “Sekali Dia ada dalam tangan kami, kami tak akan membiarkan-Nya lolos.”

Lebih lanjut Yudas menyusun skenario hendak ke Taman Getsemani. Yudas memasuki taman mendahului pasukan, lalu memeluk dan menyampaikan salam kepada Yesus, seakan-akan dia kembali kepadaNya sebagai sahabat dan murid. Lalu, para algojo menyerbu dan menangkap Yesus. Yudas melakukan seperti itu supaya orang mengira bahwa para algojo berada di Taman Getsemani secara kebetulan. Jadi, ketika algojo  muncul, dia dapat melarikan diri seperti para murid lainnya dan tidak akan terdengar lagi kabar tentangnya. Ia berpikiran, bahwa mungkin suatu keributan akan terjadi, dan bahwa mungkin para rasul akan mempertahankan diri, sementara itu Yesus berjalan lewat di tengah-tengah para musuhNya, seperti yang telah sering Dia lakukan sebelumnya. 

Gerombolan yang menyertai Yudas terdiri dari dua puluh orang algojo penjaga Bait Allah dan kalangan militer yang ada di bawah perintah Hanas dan Kayafas. Mereka berpakaian mirip dengan Algojo Romawi, dengan topi helm (morion), dan mengenakan tali pengikat yang tergantung di sekeliling paha mereka. Pasukan yang bertugas berjenggot panjang, berbeda dengan  para algojo Romawi di Yerusalem yang hanya berjambang dan mencukur janggut dan kumis. Anggota pasukan bersenjatakan pedang, sebagian di antaranya  diperlengkapi dengan tombak. Mereka juga membawa tongkat,  lentera dan suluh. Tetapi, ketika berangkat mereka hanya menyalakan satu alat penerang saja yaitu suluh.

Yudas berangkat ke Taman Getsemani disertai dengan dua puluh Algojo saja. Namun dari jarak tertentu, dia diikuti lagi oleh empat orang algojo pembantu biasa yang membawa tali-temali dan rantai. Sesudah gerombolan Yudas dan pasukan, ikut pula enam orang utusan yang merupakan orang-orang yang selalu berkomunikasi dengan Yudas sebelumnya. Di antaranya adalah imam kepercayaan Hanas, seorang anak buah Kayafas, dua orang dari kaum Farisi, dan dua orang lagi dari kalangan Saduki dan Herodian. Keenam orang ini adalah kaki-tangan Hanas dan Kayafas, bertindak dalam kapasitas sebagai mata-mata.

Selama perjalanan para algojo bersikap bersahabat terhadap Yudas hingga tiba di tempat di mana jalan memisahkan Taman Zaitun dari Taman Getsemani. Setelah sampai di tempat itu, mereka menolak membiarkan Yudas maju sendirian dan berubah sikap. Mereka bertindak dengan penuh kekasaran. Yudas tetap menghendaki agar dia maju terlebih dahulu dan berbicara kepada Yesus dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa, kemudian barulah mereka maju dan menangkap Yesus. Dengan demikian seakan-akan ia tak ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi. Tetapi para algojo menjawab dengan sengit, “Tidak demikian, engkau tidak akan lepas dari tangan kami sebelum orang Galilea itu ada dengan aman dalam genggaman kami.”

Yesus Ditangkap

Gerombolan  melihat kedelapan rasul yang lain bergegas datang untuk menggabungkan diri dengan Yesus ketika mendengar keributan yang terjadi. Para algojo langsung memanggil keempat algojo pembantu, yang berada tidak jauh dari mereka bergabung. Ketika itu pula, dalam terang sinar rembulan, Yesus dan ketiga rasulNya pertama kali melihat pasukan bersenjata itu. Petrus bermaksud melawan mereka dengan kekuatan senjata. Ia mengatakan: “Tuhan, kedelapan yang lain sudah dekat, marilah kita menyerang mereka.” Tetapi Yesus memintanya agar tetap tenang, lalu Petrus berbalik dan mundur beberapa langkah. Saat itu, empat murid muncul dari taman dan bertanya apakah yang telah terjadi. Yudas hendak menjawab, tetapi para algojo menyela dan tidak memperbolehkannya berbicara. Keempat murid itu adalah Yakobus Muda, Filipus, Thomas dan Nataniel. Nataniel, yang adalah putera Simeon Tua, bersama beberapa orang murid lainnya telah menggabungkan diri dengan kedelapan rasul di Getsemani. Sementara para murid yang lain maju mundur dengan was-was, siap melarikan diri begitu ada isyarat.

Yesus menghampiri para algojo dan bertanya dalam suara yang tegas dan jelas, “Siapakah yang kamu cari?” Para pemimpin menjawab, “Yesus dari Nazaret.” Yesus berkata kepada mereka, “Akulah Dia.” Baru saja Dia mengucapkan kata-kata itu, mereka semuanya jatuh ke tanah. Yudas, yang berdiri dekat mereka, tercengang dan maju menghampiri Yesus, namun Yesus menggamit lengannya dan berkata: “Sahabat, dari manakah engkau?” Yudas dengan terbata-bata mengatakan sesuatu tentang urusan yang harus dikerjakannya. Sementara itu, para algojo bangkit kembali dan mereka menghampiri Yesus, tetapi masih menunggu isyarat ciuman. Yudas telah berjanji untuk menyalami Guru-nya dengan ciuman agar mereka dapat mengenali-Nya. Sementara Petrus dan para murid yang lain mengelilingi Yudas dan mencercanya dengan macam-macam makian, seraya menyebutnya pencuri dan pengkhianat. Yudas berusaha meredakan amarah rasul-rasul dengan segala macam dusta, tetapi usahanya sia-sia belaka apalagi sedang  dikelilingi para algojo.

Lalu Yesus bertanya lagi, “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata Yesus, “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Dengan kata-kataNya itu, para algojo jatuh ke tanah untuk kedua kalinya. Mereka semua gemetaran. Para rasul mengelilingi Yudas dan meluapkan amarah mereka atas pengkhianatannya. Yesus berkata kepada para algojo, “Bangkitlah,” dan mereka pun bangkit.  Para algojo  semuanya diam ketakutan. Lalu, mereka menyuruh Yudas untuk segera memberikan isyarat yang telah mereka sepakati, sebab perintah yang disampaikan kepada mereka adalah untuk menangkap Dia seorang, yang dicium Yudas. Yudas menghampiri Yesus dan memberi-Nya ciuman, seraya berkata, “Salam Rabbi.” Yesus menjawab, “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Segera para algojo mengepung Yesus, dan para algojo pembantu menangkapNya. Yudas hendak melarikan diri, tetapi para rasul mencegahnya. Mereka menyerang para algojo sambil berseru, “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”  Petrus, yang paling tidak sabaran menghunus pedang dan menetakkannya kepada Malkhus, hamba imam besar yang hendak menghalau para rasul, sehingga putus telinga kanannya. Malkhus jatuh ke tanah dan suatu kegemparan terjadi.

Ketika Petrus menyerang Malkhus, Yesus berkata kepadanya, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kau sangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Dia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?” Lalu kata Yesus, “Biarkan Aku menyembuhkannya” dan Yesus pun menghampiri Malkhus, menjamah telinganya, berdoa dan telinganya pun disembuhkan. Para algojo dan algojo pembantu serta keenam orang Farisi, sama sekali tidak tergerak oleh mukjizat yang terjadi. Mereka terus melontarkan kata-kata penghinaan kepada Yesus dan berkata kepada mereka yang berdiri dekat sana, “Tipu muslihat iblis. Kuasa sihir membuat telinga tampak seolah-olah terputus, dan sekarang kuasa sihir yang sama membuatnya tampak seolah-olah disembuhkan.”

Ketika para algojo pembantu telah mencengkeram Yesus dan hendak mengikat-Nya,Yudas melarikan diri segera sesudah dia memberikan ciuman kepada Yesus. Akan tetapi Yudas berpapasan dengan beberapa murid Yesus yang menghujaninya dengan caci-maki. Melihat itu  enam orang Farisi datang menyelamatkannya dan berhasil melarikan diri.

Lalu, Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saatnya bagi kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” Orang-orang Farisi memerintahkan agar Yesus diikat lebih kuat lagi, dan mereka menjawab dengan nada menghina, “Ah! Engkau tak dapat menaklukkan kami dengan sihir-Mu.” Ketika Yesus diikat dan dengan kasarnya perlakuan mereka kepada Yesus, para murid semuanya melarikan diri.

Para algojo pembantu yang mengikat Yesus bertindak sangat brutal, berbadan pendek, kekar, dan lincah, kulit kuning kemerahan, kaki-kaki telanjang, serta tangan dan leher polos tanpa aksesoris.

Kedua tangan Yesus diikat, pergelangan tangan kanan diikatkan ke bawah siku kiri, dan pergelangan tangan kiri diikatkan ke bawah siku kanan. Mereka melingkarkan pada pinggang Yesus semacam ikat pinggang dengan ujung-ujung besi pada permukaannya dan membelenggu kedua tangan-Nya. Di leher-Yesus mereka mengenakan ban leher yang dipasangi ujung-ujung besi. Pada ban leher ini digantungkan dua selempang kulit, yang disilangkan di dada-Nya seperti stola dan diikatkan ke ikat pinggang. Lalu, mereka mengikatkan empat tali tampar ke bagian-bagian ikat pinggang yang berbeda, dengan tali-tali ini mereka menyeret Yesus ke sana kemari dengan secara keji. 

Orang-orang Farisi menyalakan suluh-suluh baru dan arak-arakan pun mulai berjalan. Sepuluh algojo berjalan di depan, lalu, dibelakangnya keempat algojo pembantu yang memegang tali dan menyeret Yesus, orang-orang Farisi dan sepuluh algojo lagi berjalan di barisan belakang. Para murid telah melarikan diri. Tertinggal hanyalah Yohanes. Mula-mula Yohanes mengikuti dari belakang, tapi kemudian orang Farisi mengejar hendak menangkapnya, Yohanes pun kemudian lari menyelamatkan diri dengan melepaskan jubahnya.

Pasukan yang menyeret Yesus melintasi jalanan dengan menyeberang jembatan Sungai Kidron. Sebelum tiba di jembatan Yesus sudah dua kali jatuh karena perlakuan yang kasar dari para algojo pembantu. Persis di tengah jembatan, Yesus dihajar, terlempar dan tercebur ke dalam air. Dari dalam air, para algojo menarik tubuh Yesus ke atas jembatan menggunakan tali temali yang melilit tubuhNya. Di ujung jembatan, Yesus masih jatuh terkapar lagi karena hajaran para algojo pembantu. Sepanjang perjalanan itu para algojo pembantu terus memukul Yesus dengan kasar. Dari Sungai Kidron gerombolan berlangkah melintasi Ophel yang terletak di sebelah Selatan Bait Suci. Ketika memasuki gerbang Ophel, Yesus terjatuh lagi.

Warga Ophel yang mendengar huru hara sempat  keluar berlarian menuju pintu gerbang kota guna menanyakan penyebab timbulnya kegaduhan. Tetapi para algojo menyambut mereka dengan kasar dan memerintahkan untuk segera pulang ke rumah. Kepada warga Ophel para algojo memberitahu mereka, “Kami baru saja menangkap Yesus, nabi palsu kalian. Dia yang telah menipu kalian mentah-mentah. Para imam besar akan segera mengadiliNya, dan Ia akan disalibkan.” Jerit tangis pilu terdengar di mana-mana. Para perempuan dan anak-anak yang malang berlarian kian kemari, menangis sembari meremas-remas tangan mereka.  Para algojo mendorong warga Ophel ke samping, memukul, dan memerintahkan agar pulang ke rumah, sambil  terus menghujat, “Bukti apa lagi yang kita perlukan? Bukankah tingkah laku orang-orang ini nyata-nyata menunjukkan bahwa orang Galilea itu memicu pemberontakan?”

Lebih lanjut warga Ophel terus menangisi Yesus dan bersimpati kepadaNya, sambil meminta algojo untuk membebaskan Yesus.“Bebaskan Dia bagi kami, bebaskan Dia! Siapa lagi yang akan menolong kami, siapa lagi yang akan menghibur kami, siapa yang akan menyembuhkan penyakit kami?” Meski demikian algojo pembantu yang beringas terus menyeret Yesus ke sana-kemari, menghajarNya dengan tongkat mereka.

Dari Ophel, pasukan menuruni bukit dan memasuki gerbang kota. Lalu berlangkah ke arah Barat menuruni jalanan yang curam menuju Millo. Kemudian bergerak terus  ke Selatan ke kediaman Hanas. Sepanjang perjalanan dari Taman Getsemani menuju kediaman Hanas, Yesus jatuh tujuh kali.

Petrus dan Yohanes mengikuti Yesus dari kejauhan  hingga masuk ke Balai Pengadilan Kayafas. 

Catatan:

Warga Ophel  adalah kelompok masyarakat biasa yang hidup dengan menjadi buruh harian. Sebagiannya menjadi buruh kasar di Bait Allah. Warga Ophel sangat mengenal Yesus dari Nazareth karena mereka mempercayaiNya dengan aneka mujizat penyembuhan. Warga Ophel merupakan pengikut Yesus yang setia. Yesus telah memberikan penghiburan, pengajaran, menolong dan menyembuhkan berbagai penyakit dari banyak warga Ophel yang miskin dan pekerja kasar. Yesus selalu singgah di Ophel sepanjang perjalananNya dari Betania ke Hebron. Terakhir ketika Yohanes Pembaptis  baru meninggal karena disuruh bunuh oleh Herodes atas kehendak Herodias.

By. Matheus Antonius Krivo